Carrot Top Pulih, Keluar dari Rumah Sakit Usai Dugaan Percobaan Bunuh Diri
Baca dalam 60 detik
- Komika Carrot Top, yang bernama asli Scott Thompson, telah diperbolehkan meninggalkan rumah sakit setelah menjalani perawatan intensif akibat insiden pada 18 September.
- Kasus ini mencuatkan dugaan pemerasan terkait video syur yang melibatkan musisi Brian Evans, yang menuntut pembayaran setengah juta dolar.
- Pemulihan Carrot Top menjadi sorotan tentang tekanan mental di industri hiburan dan perlunya perlindungan privasi selebritas.

Kabar baik datang dari dunia komedi Amerika Serikat. Carrot Top, komedian yang dikenal dengan gaya rambut ikoniknya, telah diizinkan pulang dari rumah sakit setelah dirawat karena dugaan percobaan bunuh diri. Juru bicaranya mengonfirmasi kepada NBC News bahwa pria bernama asli Scott Thompson itu telah dipulangkan, meski tidak merinci lebih lanjut kondisi terkini.
Insiden yang menimpa komedian berusia 61 tahun ini terjadi di kawasan Las Vegas pada 18 September lalu. Setelah beberapa hari dirawat, pada 21 September, perwakilannya memberikan pembaruan bahwa Thompson sudah sadar dan mampu bernapas tanpa alat bantu. "Scott masih dirawat di rumah sakit dan dalam pengawasan medis ketat. Ia sekarang sadar, bernapas sendiri, dan terus membaik, dikelilingi oleh keluarga dan orang-orang terdekat," ujar juru bicara tersebut kepada kolom Page Six New York Post.
Pemulihan Thompson juga diwarnai dengan dukungan dari para penggemar. Menurut juru bicaranya, banyak pesan yang dibagikan kepadanya, termasuk kisah-kisah tentang bagaimana komedi Thompson membantu mereka melewati masa-masa sulit. "Mendengar cerita-cerita itu dan merasakan dukungan tersebut sangat berarti baginya selama pemulihan. Scott dan keluarganya sangat berterima kasih atas kebaikan yang luar biasa dan terus meminta agar privasinya dihormati," tambahnya.
Di balik kabar pemulihan ini, terselip kontroversi yang mencuat sebelumnya. Pengacara Thompson, Ronnie Bitman, mengajukan dokumen hukum yang menuduh musisi Brian Evans—mantan pengisi acara pembuka dalam pertunjukan rutin Thompson di Las Vegas—telah mengancam akan menyebarkan rekaman eksplisit jika tidak dibayar. Dalam dokumen yang diperoleh Page Six, Bitman menulis bahwa Evans menuntut pembayaran segera dalam jumlah besar dan mengancam akan memasukkan rekaman tersebut ke berkas pengadilan publik agar dapat diakses pers.
Evans disebut mengirim email kepada pengacara yang meminta USD 500.000 (sekitar Rp7,8 miliar) "dalam dana yang tersedia segera, sebagai imbalan penyelesaian semua klaim" terhadap Carrot Top, atau ia akan merilis video tersebut. Dalam emailnya, Evans menegaskan bahwa itu bukan ancaman, melainkan upaya menyelesaikan sengketa. "Saya tidak menawarkan untuk membuat liputan, menghentikan liputan, atau menukar kesunyian dengan uang. Saya tidak bisa mengontrol apa yang media tulis setelah mosi publik diajukan. Satu-satunya yang menghentikan liputan adalah jika kita berdua berhenti mengajukan apa pun," tulisnya. Ia juga memperingatkan bahwa jika pembayaran tidak diterima, "itu bukan tawaran yang akan pernah klien Anda lihat lagi—bahkan tidak sedikit pun."
Evans membantah telah mengancam menyebarkan video dengan imbalan penyelesaian. Ia mengklaim email tersebut dimaksudkan sebagai komunikasi rahasia dan menegaskan rekaman itu telah "dihapus sejak lama" sesuai kesepakatan sebelumnya. "Saya minta maaf bahwa Scott tampaknya melakukan sesuatu yang menyakiti dirinya sendiri. Dia talenta hebat tetapi ini masalah yang perlu dia hadapi dan lupakan," ujarnya.
"Humor selalu menjadi bagian penting dari diri Scott dan cara dia terhubung dengan orang lain, dan itu tetap benar hingga hari ini saat dia berbagi momen humor dengan staf medis yang merawatnya."
— Juru bicara Carrot Top
Kasus ini menyoroti tekanan psikologis yang kerap dialami para penghibur di industri hiburan, terutama di era digital di mana privasi menjadi taruhan. Bagi Indonesia, fenomena serupa juga mengintai selebritas tanah air, seperti kasus pemerasan video syur yang beberapa kali menimpa figur publik. Hal ini menegaskan perlunya perlindungan hukum yang lebih kuat terhadap penyalahgunaan data pribadi dan dukungan kesehatan mental yang memadai bagi pekerja seni.
Ke depan, publik menantikan langkah hukum lanjutan terkait dugaan pemerasan ini. Apakah kasus ini akan menjadi preseden bagi perlindungan selebritas dari ancaman serupa, atau justru tenggelam dalam sorotan media yang cepat berlalu? Yang jelas, pemulihan Carrot Top menjadi pengingat bahwa di balik tawa yang ia hadirkan, ada manusia rentan yang membutuhkan empati.



