Manchester City Dinyatakan Bersalah: Jalan Panjang Banding dan Ancaman Degradasi
Baca dalam 60 detik
- Panel independen memutuskan Manchester City terbukti melanggar mayoritas dari 134 dakwaan yang diajukan Premier League.
- Klub berhak mengajukan banding dalam 14 hari, dengan proses yang diperkirakan rampung kurang dari 12 pekan.
- Jika banding gagal, sanksi terberat hingga degradasi atau pengusiran dari liga menanti, plus gelombang gugatan dari klub lain.

Manchester City resmi dinyatakan bersalah atas sebagian besar dari 134 dakwaan yang dilayangkan Premier League. Keputusan ini menjadi puncak dari investigasi panjang yang berlangsung tertutup dan nyaris tanpa kebocoran informasi ke publik.
Meski belum ada konfirmasi resmi dari panel yudisial tiga orang, hampir seluruh ekosistem sepak bola Inggris berasumsi bahwa putusan telah diambil dan bahwa laporan tentang kemenangan besar Premier League memang benar. Tak ada pihak yang secara terbuka membantah asumsi tersebut, sehingga perhatian kini beralih ke langkah hukum berikutnya.
Menurut aturan Premier League, City memiliki waktu 14 hari sejak pengumuman putusan untuk mengajukan banding. Proses banding diperkirakan selesai dalam waktu kurang dari 12 pekan, dengan sidang yang biasanya digelar dalam satu blok maksimal lima hari. Panel banding juga diwajibkan mempublikasikan alasan tertulis di balik keputusannya, begitu pula panel yudisial awal. Namun, karena skala kasus ini luar biasa, jadwal publikasi dokumen-dokumen tersebut masih belum jelas.
Banding yang diajukan City hanya akan menyasar keputusan panel, bukan sanksi yang belum ditetapkan. Klub berpeluang menyodorkan bukti baru yang sebelumnya tidak tersedia dan menyampaikan argumen lisan tambahan. Jika banding berhasil, tidak ada hukuman yang dijatuhkan. Namun, jika banding ditolak, panel memiliki sejumlah opsi sanksi, mulai dari denda, pengurangan poin, hingga pengusiran total dari liga. Mengingat besarnya pelanggaran, City diperkirakan menerima hukuman di ujung terberat skala tersebut.
"Keputusan Dewan Banding bersifat final," bunyi Aturan W.97 Premier League, meski masih ada satu jalur terakhir, yakni arbitrase.
Arbitrase hanya bisa ditempuh jika panel yudisial atau dewan banding terbukti menyalahgunakan proses hukum. City baru saja melewati proses arbitrase dengan Premier League terkait aturan transaksi pihak terkait, yang berakhir dengan penyelesaian damai sebelum sampai ke pengadilan.
Dampak dari putusan ini tidak berhenti pada City. Klub-klub Premier League dan tim yang pernah terdegradasi dilaporkan tengah menghitung potensi kerugian finansial selama periode City meraih kesuksesan sambil melanggar aturan. Gelombang gugatan diperkirakan menyusul. Manchester United, misalnya, finis kedua di belakang City pada 2017-18 dan berpotensi kehilangan gelar liga ke-21 yang memecahkan rekor. Klub-klub yang terdegradasi juga bisa berargumen bahwa mereka turun kasta akibat poin yang direbut oleh City yang kemudian terbukti curang.
Sebelumnya, klub-klub Premier League dilaporkan kehilangan selera untuk menempuh jalur hukum setelah biaya kompetisi musim lalu diperkirakan mencapai £50 juta. Namun, jika putusan terhadap City ini akhirnya dikuatkan, gelombang gugatan baru tampaknya tak terhindarkan.
Bagi publik Indonesia, kasus ini menjadi cermin bagaimana tata kelola liga sepak bola modern kian bertumpu pada kepatuhan finansial dan transparansi. Liga domestik yang tengah membenahi regulasi keuangan bisa mengambil pelajaran: penegakan aturan yang konsisten, sekalipun menyangkut klub besar, adalah fondasi kredibilitas kompetisi. Jika City benar-benar terdegradasi, peta kekuatan Liga Primer akan berubah drastis, memengaruhi nilai hak siar, pasar transfer, dan daya tarik sponsor global, termasuk di Asia Tenggara.
Pertanyaannya kini: akankah banding City mengubah nasib, atau justru membuka kotak pandora gugatan yang bisa mengguncang struktur kompetisi sepak bola Inggris untuk bertahun-tahun?



