Michael Kiwanuka Tak Bisa Pulang Setelah Stroke, Tetap Menulis Lagu dan Bernyanyi
Baca dalam 60 detik
- Michael Kiwanuka mengalami stroke akibat hipertensi tak terdiagnosis dan harus menjalani perawatan intensif selama lima bulan.
- Ia menjalani rehabilitasi di Hampshire, Inggris, dan masih belum bisa pulang ke rumah.
- Kiwanuka mendorong kesadaran pria kulit hitam untuk memeriksakan tekanan darah dan tetap produktif menulis lagu.

Penyanyi dan penulis lagu Michael Kiwanuka belum dapat kembali ke rumah setelah mengalami stroke pada awal tahun ini. Ia masih menjalani pemulihan di pusat rehabilitasi di Hampshire, Inggris, setelah sebelumnya dirawat intensif selama lima bulan.
Stroke yang dialaminya disebabkan oleh tekanan darah tinggi yang tidak terdiagnosis. Kondisi itu membuatnya harus menjalani operasi darurat dan perawatan di unit perawatan intensif. Kini, dalam wawancara pertamanya sejak insiden tersebut, Kiwanuka mengungkapkan bahwa ia menghadapi ketidakpastian karier musik, namun tetap berusaha bangkit dengan menulis lirik dan bernyanyi sebagai bagian dari terapi.
Dalam wawancara dengan The Guardian, pelantun "Cold Little Heart" itu menuturkan bahwa ia menjalani sesi rehabilitasi setiap hari, yang terkadang melelahkan. "Banyak peregangan dan mengembalikan bentuk tubuh," ujarnya. Ia juga menjelaskan bahwa cedera otak memengaruhi jalur saraf ke beberapa bagian tubuhnya, sehingga ia harus melatih kembali fungsi-fungsi tersebut. Volume bicaranya sempat sangat rendah akibat tabung pernapasan yang memengaruhi pita suara, dan ia harus mengembalikan kekuatan vokalnya.
Meski demikian, Kiwanuka menemukan kekuatan dari musik. Ia banyak menyanyikan lagu-lagu Bob Dylan dan Beach Boys, serta menulis lirik di buku catatan. "Ada hari-hari penuh harapan, kemarahan, kesedihan, kehilangan, dan duka. Tapi merasakan emosi begitu dalam terasa terapeutik, dan menangis cukup menenangkan," katanya. Ia menegaskan bahwa stroke bisa merenggut banyak hal, tetapi tidak bisa mengambil lagu-lagunya. "Siapa saya masih ada dalam lagu-lagu itu dan dalam musik itu," tambahnya.
Kiwanuka juga menyoroti pentingnya kesadaran kesehatan, khususnya di kalangan pria kulit hitam yang dianggap lebih rentan terhadap tekanan darah tinggi. Ia mengaku tidak menyadari kondisi kesehatannya sebelum stroke terjadi. "Jika saya tahu, saya akan memeriksakan diri dan minum obat untuk menurunkan tekanan darah. Saya tidak akan mengalami stroke. Jadi saya ingin membuat orang kulit hitam sadar bahwa Anda bisa berisiko," tegasnya.
Kisah Kiwanuka ini menjadi pengingat akan pentingnya deteksi dini hipertensi, yang sering disebut "pembunuh diam-diam" karena jarang menimbulkan gejala. Di Indonesia, hipertensi juga menjadi masalah kesehatan utama dengan prevalensi yang terus meningkat. Kesadaran akan faktor risiko dan pentingnya pemeriksaan rutin menjadi kunci pencegahan stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya.
Ke depan, Kiwanuka berharap dapat kembali ke dunia musik dan terus berkarya. Meski masa depannya belum pasti, semangatnya untuk menciptakan musik tetap membara. "Saya masih memiliki dorongan untuk menciptakan musik yang baik seperti yang pernah saya lakukan," pungkasnya.



