Di Balik Jamuan Kenegaraan Trump-Xi: Nvidia hingga Apple, Tanpa Anthropic
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 100 tamu menghadiri jamuan makan malam kenegaraan di Washington, didominasi pejabat pemerintah dan petinggi korporasi Amerika Serikat.
- Delegasi China hanya diwakili tujuh pejabat yang mendampingi Presiden Xi Jinping, sementara sejumlah CEO teknologi terkemuka seperti Jensen Huang dan Tim Cook duduk semeja dengan kedua kepala negara.
- Tidak ada perwakilan dari perusahaan rintisan AI Anthropic, sementara raksasa teknologi lain seperti Meta dan OpenAI hadir, memicu spekulasi arah kebijakan teknologi Washington.

Jamuan makan malam kenegaraan di Washington, Kamis (25/9/2026), menjadi panggung diplomasi yang mempertemukan lebih dari seratus tokoh penting dari pemerintahan dan dunia usaha Amerika Serikat dengan delegasi China yang relatif ramping. Daftar tamu yang dirilis Gedung Putih menunjukkan dominasi eksekutif korporasi, sementara dari pihak China hanya tujuh pejabat yang mendampingi Presiden Xi Jinping dan Ibu Peng Liyuan.
Kehadiran para petinggi perusahaan teknologi dan keuangan dalam jamuan ini menandai upaya kedua negara mencairkan ketegangan dagang yang sempat memanas. Meja utama jamuan diisi oleh pasangan Presiden Donald Trump dan Xi Jinping bersama sejumlah nama besar: Tim Cook dari Apple, Jensen Huang dari Nvidia beserta istri, Elon Musk, dan Lisa Su dari AMD. Turut hadir perwakilan Meta dan OpenAI, namun tidak ada perwakilan dari Anthropic—perusahaan kecerdasan buatan yang selama ini dikenal vokal soal keamanan AI.
Dalam sambutannya, Xi menyatakan bahwa pembicaraan dengan Trump telah "menambah substansi baru" bagi hubungan kedua negara. Trump membalas dengan memberikan patung elang botak sebagai cendera mata. Momen ini menjadi kunjungan kenegaraan pertama Xi ke Amerika Serikat sejak era pemerintahan Barack Obama lebih dari satu dekade lalu—sebuah isyarat bahwa kedua kekuatan ekonomi terbesar dunia berusaha menstabilkan hubungan yang sempat terperosok ke dalam perang dagang dan ketegangan teknologi.
Menariknya, tidak ada satu pun perusahaan China yang masuk dalam daftar tamu. Sebelumnya, CNBC melaporkan bahwa sumber yang mengetahui persiapan acara tidak mengetahui adanya perusahaan China yang diundang untuk bergabung dalam rombongan Xi. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana keterlibatan sektor swasta China dalam diplomasi ekonomi kedua negara.
"Pembicaraan dengan Trump telah menambah substansi baru bagi hubungan AS-China," ujar Xi Jinping dalam sambutan jamuan, seperti dikutip dari terjemahan resmi.
Bagi Indonesia, jamuan ini bukan sekadar seremonial. Sebagai mitra dagang utama kedua negara, stabilitas hubungan AS-China berdampak langsung pada arus investasi, harga komoditas, dan rantai pasok regional. Ketika Washington dan Beijing duduk semeja, sinyal yang dikirim ke pasar global bisa mempengaruhi keputusan investor di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Kehadiran para CEO teknologi juga menandakan bahwa isu semikonduktor, AI, dan ekonomi digital akan menjadi agenda utama dalam hubungan bilateral ke depan.
Daftar tamu yang tidak menyertakan Anthropic—perusahaan yang getol menyuarakan regulasi AI—menimbulkan spekulasi tentang arah kebijakan teknologi pemerintahan Trump. Apakah ini pertanda bahwa Washington lebih memilih perusahaan yang lebih akomodatif terhadap agenda pertumbuhan ekonomi? Ataukah ada pertimbangan lain di balik absennya Anthropic? Yang jelas, jamuan ini menjadi barometer penting bagi arah kerja sama teknologi antara dua negara yang selama ini bersaing ketat.
Ke depan, publik akan menantikan apakah pertemuan ini menghasilkan kesepakatan konkret di bidang perdagangan dan teknologi, atau hanya menjadi simbol normalisasi hubungan. Bagi Indonesia, posisi sebagai negara non-blok bisa menjadi peluang untuk menjembatani kepentingan kedua kekuatan besar, sekaligus memastikan bahwa dinamika global tidak mengorbankan kepentingan nasional.



