Pramono Tawarkan NYU Masuk Skema Beasiswa Jakarta, 75 Mahasiswa Jadi Sasaran
Baca dalam 60 detik
- Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung membuka peluang kerja sama dengan New York University untuk program beasiswa LPDP Jakarta yang akan dimulai pada 2027.
- Sebanyak 75 mahasiswa dari kalangan menengah menjadi sasaran utama program dana abadi tersebut, dengan NYU sebagai salah satu kampus tujuan.
- Pemprov DKI dan NYU juga menandatangani Letter of Intent untuk kolaborasi di bidang pendidikan, olahraga, dan lingkungan.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menawarkan New York University (NYU) sebagai mitra strategis dalam program beasiswa LPDP Jakarta yang direncanakan berjalan pada 2027. Tawaran itu disampaikan dalam pertemuan antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dan perwakilan NYU, yang direkam dan diunggah melalui akun TikTok @pramonoanungw pada Kamis (24/9).
Program ini menandai babak baru pembiayaan pendidikan tinggi di ibu kota. Jakarta akan mengalokasikan dana abadi khusus untuk beasiswa, dengan target awal sekitar 75 mahasiswa dari latar belakang kelas menengah. Pramono menyebut NYU sebagai salah satu kampus yang masuk radar kerja sama. Langkah ini berbeda dari skema beasiswa daerah pada umumnya yang kerap terbatas pada perguruan tinggi dalam negeri atau mitra terbatas.
Dalam pertemuan tersebut, NYU mengirimkan sejumlah pejabat kunci, termasuk Dean of the NYU School of Professional Studies (NYU SPS) Angie Kamath dan Associate Dean of Enrollment & Student Success John McLoughlin. Kehadiran mereka menandakan keseriusan kedua pihak menjajaki kerja sama yang lebih konkret.
Kamath menyambut baik tawaran tersebut. Menurutnya, kerja sama ini memperdalam hubungan yang sudah terjalin, terutama karena kedua pihak memiliki banyak kepentingan bersama. Ia juga mengungkapkan bahwa NYU telah memiliki sekitar 2.000 alumni dari Indonesia, sebuah basis jaringan yang dapat memperkuat dampak program beasiswa.
"Kami sangat antusias dengan beasiswa ini karena komitmen kami adalah terkait akses dan menciptakan lebih banyak jalur bagi para mahasiswa," ujar McLoughlin, seperti dikutip dari pertemuan tersebut.
McLoughlin menambahkan bahwa pihaknya menantikan kerja sama dengan Pemerintah Jakarta. Pernyataan itu menggarisbawahi orientasi NYU pada perluasan akses pendidikan, bukan sekadar penjaringan mahasiswa internasional biasa.
Selain membahas beasiswa, Pemprov DKI Jakarta dan NYU menandatangani Letter of Intent (LoI) yang mencakup kolaborasi di bidang pendidikan, olahraga, dan lingkungan. LoI ini menjadi payung awal sebelum kesepakatan yang lebih mengikat. Bagi Jakarta, kerja sama semacam ini bisa menjadi instrumen diplomasi kota (city diplomacy) yang memperkuat posisi ibu kota di jaringan pendidikan global.
Konteks Indonesia menjadi relevan karena program beasiswa daerah dengan dana abadi masih jarang. Selama ini, LPDP nasional menjadi tulang punggung pembiayaan studi lanjut ke luar negeri. Jika Jakarta berhasil menjalankan skema serupa, ada potensi mendorong provinsi lain meniru, sekaligus memperluas akses kelas menengah terhadap pendidikan global yang selama ini terkendala biaya. Namun, tantangan tata kelola tidak kecil: mulai dari seleksi yang transparan, penempatan kampus yang tepat, hingga memastikan lulusan kembali berkontribusi bagi pembangunan daerah.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah NYU akan resmi masuk dalam daftar mitra, tetapi bagaimana desain program ini memastikan 75 mahasiswa pertama benar-benar berasal dari kelompok yang selama ini terpinggirkan dari akses pendidikan internasional. Tanpa mekanisme seleksi yang ketat dan akuntabel, dana abadi berisiko menjadi simbol tanpa dampak struktural.



