Celah Kredensial Keras di NICo NVIDIA Buka Akses Tak Terautentikasi ke Pusat Data AI
Baca dalam 60 detik
- NVIDIA Infrastructure Controller (NICo) versi 0 hingga 1.9 menyimpan kredensial hard-coded yang memungkinkan penyerang masuk tanpa autentikasi ke control plane pusat data AI skala besar.
- Meski skor CVSS 9.8, probabilitas eksploitasi jangka pendek rendah (EPSS 0,611%), namun celah ini menandai pergeseran target serangan ke lapisan manajemen infrastruktur AI.
- Operator pusat data di Indonesia perlu segera menambal ke versi 2.0 dan mengisolasi layanan manajemen dari jaringan publik untuk mencegah kompromi menyeluruh.

NVIDIA Infrastructure Controller (NICo) versi 0 hingga 1.9 mengandung kredensial hard-coded yang memungkinkan akses jarak jauh tanpa autentikasi ke control plane pusat data AI berskala besar. Kerentanan ini terdaftar sebagai CVE-2026-65113 dengan skor CVSS 9.8—kategori kritis—dan berpotensi menyebabkan kompromi sistem secara menyeluruh.
NICo berfungsi sebagai control plane berbasis Kubernetes yang mengotomatisasi siklus hidup infrastruktur bare-metal, mulai dari penemuan perangkat keras, validasi firmware, provisioning DPU, deployment OS, isolasi jaringan, hingga sanitasi tenant. Sebagai otoritas pusat orkestrasi, controller ini mengelola seluruh tenant dan sistem skala rak, termasuk NVIDIA GB200 dan GB300. Dokumentasi NICo menyebutkan bahwa perangkat ini "menghadirkan otomatisasi siklus hidup tanpa sentuh untuk sistem bare-metal yang mengamankan infrastruktur pusat data dari fondasinya." Namun, ketika fondasi tersebut menyimpan kredensial hard-coded, model keamanan seluruh pusat data ikut terganggu.
Kerentanan diklasifikasikan sebagai CWE-798 (kredensial hard-coded). Menurut advisory keamanan NVIDIA, "Eksploitasi yang berhasil dapat menyebabkan eskalasi hak istimewa, manipulasi data, penolakan layanan, dan pengungkapan informasi." Meskipun skornya tinggi, profil risiko saat ini terukur. Exploit Prediction Scoring System (EPSS) untuk celah ini tercatat 0,611%, berada di persentil ke-48—menandakan probabilitas eksploitasi langsung yang relatif rendah.
Celah ini diungkap dalam batch 14 CVE pada NVIDIA Security Bulletin 5879 tertanggal 22 September 2026. Batch tersebut mencakup satu kerentanan kritis, lima tinggi, dan delapan menengah. Selain CVE-2026-65113, terdapat CVE-2026-65128 (SQL injection, CVSS 8.8), CVE-2026-65114 (autentikasi hilang, CVSS 8.3), CVE-2026-65121 (CVSS 8.2), dan CVE-2026-65130 (CVSS 8.0). Temuan ini menegaskan bahwa lapisan manajemen kini menjadi permukaan serangan utama bagi infrastruktur AI.
Insiden ini memiliki kemiripan teknis dengan BlueMoon patch-gap yang menyoroti risiko memperlakukan infrastruktur kepercayaan sebagai permukaan serangan. Pola serupa juga terlihat pada CVE-2026-87902 di WordPress dan Agent Governance Stack. Seiring meningkatnya adopsi mesin orkestrasi dan integrasi berbasis API, keamanan lapisan manajemen menjadi krusial.
"Kerentanan ini menekankan pentingnya membatasi akses ke antarmuka administratif dan mengisolasi layanan manajemen dari jaringan yang tidak tepercaya," catat GBHackers.
Karena NICo mengelola semua tenant dan sistem skala rak, integritas keamanan tingkat perangkat keras yang ditegakkan oleh BlueField DPU bergantung pada keamanan controller. Controller beroperasi dalam model zero-trust, tetapi kredensial hard-coded menembus batas-batas penegakan tersebut. DPU sendiri tidak dapat dikendalikan oleh OS host tenant, menjadikan controller sebagai titik kegagalan kritis.
Langkah perbaikan utama adalah meningkatkan NICo ke versi 2.0. Selain menambal, tim keamanan harus memprioritaskan isolasi layanan manajemen dari jaringan tidak tepercaya dan melakukan audit menyeluruh untuk mengidentifikasi serta menghapus kredensial default atau hard-coded. Operator infrastruktur yang menjalankan cloud AI multi-tenant dan penyedia GPU-as-a-Service perlu memperlakukan lapisan manajemen sebagai target bernilai tinggi yang memerlukan segmentasi jaringan ketat dan pemantauan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, di mana adopsi pusat data AI dan layanan GPU berbasis cloud mulai tumbuh, celah ini menjadi peringatan dini. Regulasi perlindungan data pribadi (UU PDP) dan standar keamanan siber sektor strategis menuntut operator untuk tidak hanya mengandalkan patch, tetapi juga membangun arsitektur pertahanan berlapis. Ketergantungan pada komponen asing seperti NICo memperkuat urgensi audit rantai pasok perangkat lunak dan penguatan tim tanggap insiden domestik.
Ke depan, pertanyaannya: akankah vendor infrastruktur AI mengubah paradigma desain dengan menghilangkan kredensial statis sejak awal, atau akankah kita terus menambal celah di lapisan manajemen yang semakin kompleks? Tanpa pergeseran fundamental, pusat data AI generasi berikutnya berisiko menjadi istana kaca yang rapuh terhadap serangan.



