Belanja Rp6,4 Triliun Tak Berarti: Tottenham Dipermalukan Brentford di Laga Perdana
Baca dalam 60 detik
- Tottenham Hotspur menelan kekalahan telak 0-3 dari Brentford di pekan pembuka Premier League, meski telah menggelontorkan dana lebih dari 300 juta poundsterling untuk belanja pemain.
- Kekalahan ini menyoroti masalah fundamental yang belum terselesaikan, seperti kurangnya kesiapan fisik dan kohesi tim, yang justru menjadi keunggulan Brentford yang lebih hemat.
- Manajer Roberto De Zerbi mengakui timnya kalah duel dan tidak siap secara fisik, sementara Brentford menunjukkan bahwa kontinuitas dan rekrutmen cerdas lebih penting daripada sekadar belanja besar.

LONDON โ Tottenham Hotspur memulai musim Premier League dengan cara yang memalukan. Klub asal London Utara itu takluk 0-3 dari Brentford di Gtech Community Stadium, Sabtu (22/8), meski telah menghabiskan lebih dari 300 juta poundsterling (sekitar Rp6,4 triliun) untuk belanja pemain pada bursa transfer musim panas ini. Kekalahan ini langsung memunculkan pertanyaan besar: apakah strategi belanja besar-besaran cukup untuk mengangkat performa tim yang musim lalu nyaris terdegradasi?
Dua musim beruntun Tottenham finis di peringkat 17, dan hanya selamat dari degradasi pada hari terakhir musim lalu. Belanja besar yang menembus angka 300 juta poundsterling diharapkan mampu membawa klub bersaing di papan atas. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan kesenjangan yang masih lebar, bahkan dengan tim sekelas Brentford yang dikelola dengan jauh lebih efisien. Brentford, yang hanya mengeluarkan sekitar 39 juta poundsterling untuk rekor pembelian mereka, justru tampil lebih solid dan percaya diri.
Manajer Tottenham, Roberto de Zerbi, yang menyelamatkan klub dari degradasi dalam tujuh pertandingan musim lalu, kini mendapat dukungan penuh dari manajemen. Empat rekrutan anyar langsung diturunkan sebagai starter, termasuk rekor pembelian Sandro Tonali, Jan Paul van Hecke, Marcos Senesi, dan Andy Robertson. Sementara itu, gelandang seharga 85 juta poundsterling, Mateus Fernandes, menjalani debutnya di babak kedua. Namun, kehadiran para pemain baru itu tidak mampu mengubah wajah permainan Tottenham yang tampak kehilangan arah.
Sepanjang babak pertama, Tottenham bahkan tidak mampu melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran. Mereka kalah duel, kalah agresivitas, dan kalah taktik. De Zerbi sendiri mengakui kelemahan timnya. "Kami kalah dan menderita dalam duel. Itu kunci pertandingan ini. Kami tidak berjuang dengan cara yang benar," ujarnya. "Kondisi fisik kami tidak berada di level yang tepat untuk semua pemain karena banyak yang datang terlambat setelah Piala Dunia dan ada banyak pemain baru di skuad dan tim utama."
Masalah cedera juga masih membayangi Tottenham. Kapten baru Micky van de Ven absen, begitu pula bek juara dunia Pedro Porro. Pemain-pemain kunci seperti Xavi Simons, Mohammed Kudus, dan Dejan Kulusevski juga masih dalam perawatan. Namun, kekalahan ini bukan sekadar soal absennya pemain. Dengan Archie Gray yang baru berusia 20 tahun mengenakan ban kapten โ termuda dalam sejarah klub โ Tottenham justru menunjukkan kurangnya kepemimpinan dan semangat juang di lapangan.
Di sisi lain, Brentford tampil sebagai contoh nyata bagaimana kontinuitas dan rekrutmen cerdas bisa mengalahkan uang. Pelatih Keith Andrews, yang menggantikan Thomas Frank pada 2025, berhasil membangun tim yang kompak dan percaya diri. Selain memecahkan rekor klub dengan memboyong Sangare, Brentford juga mempertahankan pemain-pemain kunci seperti Igor Thiago, Dango Ouattara, Kevin Schade, dan Michael Kayode. Hasilnya, mereka tampil trengginas dan mampu mengontrol jalannya pertandingan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kekalahan Tottenham ini menjadi pelajaran berharga: belanja besar tidak menjamin kesuksesan. Klub-klub seperti Brentford membuktikan bahwa perencanaan matang, kesabaran, dan pembinaan skuad yang konsisten jauh lebih penting daripada sekadar menggelontorkan uang untuk membeli pemain mahal. Fenomena ini juga relevan dengan perkembangan sepak bola Indonesia, di mana beberapa klub mulai berinvestasi besar untuk mendatangkan pemain asing, namun sering kali melupakan pentingnya membangun fondasi tim yang solid.
De Zerbi sendiri menegaskan bahwa perbaikan harus segera dilakukan. "Kami bisa berkembang dengan cepat, tetapi pertama-tama kami harus memahami pertandingan ini lebih baik. Saya tahu kondisi fisik mereka dan pemain baru, tetapi kami harus memberikan sesuatu yang lebih," katanya. Pertanyaan besarnya, mampukah Tottenham bangkit sebelum terlambat? Atau akankah musim ini kembali menjadi mimpi buruk bagi pendukung setia Spurs?



