Empat Perangkat Elektronik yang Kini Tak Lagi Layak Dibeli, Ada yang Berisiko Keamanan
Baca dalam 60 detik
- Kabel USB-C tanpa merek resmi sering kali hanya mendukung USB 2.0, sehingga lambat mengisi daya dan mentransfer data.
- Hard disk drive mekanis rentan rusak karena komponen bergerak, sementara SSD menawarkan umur pakai hingga sepuluh tahun.
- Perangkat pintar tiruan berisiko membocorkan data pribadi dan memakai baterai berkualitas rendah yang berpotensi memicu kebakaran.

Membeli perangkat elektronik bekas atau murah memang menggoda, terutama ketika anggaran sedang ketat. Namun, sejumlah produk yang masih dijual bebas di pasaran justru menyimpan masalah teknis dan keamanan yang bisa merugikan konsumen dalam jangka panjang. Dari kabel pengisi daya hingga laptop berusia lebih dari lima tahun, berikut empat jenis elektronik yang sebaiknya dihindari.
Pertama, kabel USB-C murah tanpa merek. Sejak USB-C menjadi standar industri, banyak produsen menawarkan kabel dengan harga sangat rendah. Sayangnya, tidak semua kabel diciptakan sama. Banyak di antaranya hanya mengadopsi spesifikasi USB 2.0 yang lambat, sehingga tidak mendukung pengisian cepat atau transfer data berkecepatan tinggi. Iklan yang menyebut "super cepat" tanpa mencantumkan standar daya yang jelas patut dicurigai. Sebagai gantinya, konsumen disarankan memilih kabel USB 4.0 dari merek terpercaya seperti Anker atau Belkin yang mampu mencapai 40 Gbps dan sanggup menyuplai daya ke monitor eksternal. Kabel dengan lapisan anyaman juga lebih awet dan tidak mudah kusut.
Kedua, hard disk drive (HDD) mekanis. Harga per gigabyte HDD memang jauh lebih murah dibanding solid state drive (SSD), tetapi perangkat ini menyimpan komponen bergerak berupa read/write head yang rentan aus. Semakin tua usia HDD, semakin besar kemungkinan kerusakan mendadak. Ironisnya, upaya menyelamatkan data dari HDD yang sekarat justru mempercepat degradasi perangkat. SSD yang sepenuhnya elektronik menawarkan umur pakai hingga sepuluh tahun dan tidak memiliki bagian bergerak. Varian NVMe bahkan lebih cepat meski harganya lebih tinggi. Membeli media penyimpanan bekas hampir selalu berakhir penyesalan.
Ketiga, perangkat pintar tiruan atau off-brand. Di tengah kenaikan biaya hidup, banyak konsumen beralih ke robot vacuum atau doorbell kamera merek generik. Namun, produk semacam ini sering kali tidak melalui uji keamanan yang ketat. Risikonya beragam, mulai dari pencurian data pribadi oleh pihak tak bertanggung jawab hingga penggunaan baterai berkualitas rendah yang bisa memicu kebakaran. Bahaya ini kian serius pada perangkat otonom seperti robot penyedot debu, karena potensi kerusakan terjadi saat pengguna tidak berada di rumah. Merek ternama setidaknya memberikan jaminan komponen bermutu, perlindungan dari akses tidak sah, dan dukungan purnajual selama beberapa tahun.
Keempat, laptop, netbook, Chromebook, dan tablet yang pertama kali dirilis lebih dari lima tahun lalu. Kecuali untuk kanibalisasi suku cadang, perangkat-perangkat ini sudah tidak layak dibeli. Perangkat keras lawas kesulitan menjalankan aplikasi terkini, dan dalam kasus terburuk, arsitektur 32-bit-nya bahkan tidak bisa memasang peramban modern. Ada pengecualian untuk komponen komputer tertentu seperti CPU bekas yang harganya turun signifikan setelah model baru muncul, sehingga merakit PC bertenaga dari suku cadang bekas masih masuk akal. PC desktop juga lebih fleksibel karena komponennya bisa di-upgrade. Namun, satu hal yang tidak boleh ditawar: power supply unit (PSU) harus selalu dibeli baru, karena unit yang menua bisa merusak komponen lain saat rusak.
"Membeli dari merek terpercaya memberikan rasa aman. Anda tahu produknya dibuat dengan komponen berkualitas, tahan terhadap akses tidak sah, dan kemungkinan didukung setidaknya beberapa tahun," demikian catatan dalam artikel aslinya.
Bagi konsumen di Indonesia, fenomena ini kian relevan. Pasaran elektronik dalam negeri dibanjiri produk murah dari berbagai merek tak dikenal, terutama melalui marketplace. Meski harganya menarik, risiko keamanan siber dan keselamatan fisik sering kali terabaikan. Otoritas seperti Kominfo dan Badan Standardisasi Nasional (BSN) sebenarnya mewajibkan sertifikasi untuk sejumlah perangkat, tetapi pengawasannya masih longgar. Di sisi lain, daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya membuat pilihan produk murah sulit dihindari. Edukasi konsumen menjadi kunci agar tidak terjebak pada penghematan jangka pendek yang berujung pada kerugian lebih besar.
Ke depan, gelombang inovasi teknologi diprediksi semakin memperpendek siklus hidup perangkat. Konsumen perlu lebih cermat membaca spesifikasi teknis dan menghindari jebakan harga murah tanpa jaminan kualitas. Pertanyaannya, apakah regulator dan pelaku industri di Indonesia siap melindungi pengguna dari produk-produk yang sudah usang atau berisiko tinggi?



