Krisis Lazio Makin Dalam: Suporter Boikot, Serukan Ganti Pemilik, dan Minta Frattesi Pergi
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan 0-2 dari Mantova di Coppa Italia memicu kemarahan suporter Lazio yang sudah lama memboikot stadion.
- Ultras Lazio menuntut penggantian presiden Claudio Lotito, menolak rekrutan anyar Davide Frattesi karena latar belakangnya sebagai fans Roma.
- Boikot diprediksi berlanjut dan berpotensi mengganggu performa tim di musim 2024/2025, dengan suporter siap menggelar protes di kandang maupun tandang.

Kekalahan memalukan 0-2 dari Mantova di babak awal Coppa Italia menjadi puncak kemarahan suporter Lazio. Kelompok ultras secara terbuka melontarkan kritik pedas kepada presiden klub, Claudio Lotito, menyebutnya 'diktator' dan menuntut pergantian kepemilikan. Aksi boikot yang sudah berlangsung berbulan-bulan kini memasuki babak baru, dengan suporter menegaskan tidak akan kembali ke Stadio Olimpico sebelum tuntutan mereka dipenuhi.
Sejak musim lalu, para pendukung Lazio sudah menunjukkan ketidakpuasan dengan tidak hadir di sejumlah laga kandang. Awalnya, boikot dilakukan oleh pemegang tiket musiman yang rela mengorbankan kursi mereka. Kini, langkah itu berubah total: mereka bahkan tidak membeli tiket musiman untuk musim 2024/2025. Dampaknya langsung terlihat pada laga resmi pertama musim ini, saat hanya 5.528 penonton hadir dalam kekalahan 2-0 dari Mantova, dan lebih dari 2.000 di antaranya adalah suporter tim tamu. Bahkan, sejumlah orang di tribun 'kandang' diketahui merupakan fans Roma yang datang untuk mengejek rival sekota.
Dalam pernyataan resmi yang dirilis, ultras Lazio tidak hanya menyasar Lotito, tetapi juga pelatih baru Gennaro Gattuso dan rekrutan anyar Davide Frattesi. Frattesi, yang merupakan produk akademi Lazio, menjadi sorotan karena mengaku sebagai pendukung Roma. Para suporter menilai kehadirannya hanya sebagai pengalih perhatian dari masalah utama. โSelamat datang Frattesi, tapi kami tidak peduli. Kami tidak butuh pemain baru, kami butuh pemilik baru,โ demikian kira-kira isi pernyataan tersebut. Mereka juga mengecam rencana renovasi stadion yang dinilai tidak berpihak pada kebutuhan suporter, terutama wacana pemecahan Curva Nord menjadi dua tingkat.
Konflik antara suporter dan manajemen Lazio sebenarnya sudah memanas sejak Juni lalu, ketika ultras mengumumkan keputusan untuk memboikot. Aksi protes yang digelar pada 2 Juli berhasil mengumpulkan 30.000 orang di jalanan Roma. Tuntutan utama mereka sederhana: Lotito harus pergi. Namun, presiden yang telah memimpin klub sejak 2004 itu tak kunjung menunjukkan tanda-tanda mundur. Bahkan, ia dinilai tidak memiliki visi untuk membawa Lazio keluar dari keterpurukan. โKami berjuang melawan kediktatoran seorang pria yang tidak bisa menerima kegagalan dan tidak punya visi bahwa ia sudah di ujung jalan,โ tulis ultras dalam pernyataannya.
Bagi pengamat sepak bola Italia, situasi ini mengingatkan pada krisis yang pernah melanda klub-klub besar lain, di mana konflik antara suporter dan pemilik berujung pada penurunan performa tim. Kekalahan dari Mantova, tim Serie C, bukan hanya memalukan secara prestise, tetapi juga menjadi indikator bahwa masalah internal Lazio sudah sangat akut. Para pemain pun mendapat peringatan keras: jika tidak menghormati jersey dan berjuang maksimal, mereka diminta segera angkat kaki. โAlasan sudah habis. Tersingkir dari Coppa Italia melawan Mantova adalah kesempatan terakhirmu,โ demikian ancaman yang dilontarkan.
Di tengah krisis ini, muncul pertanyaan besar: mampukah Lazio bangkit, atau justru akan terperosok lebih dalam? Gattuso, pelatih baru yang ditunjuk untuk menggantikan Maurizio Sarri, mendapat sambutan hangat dari suporter, tetapi ia dihadapkan pada tugas berat untuk menyatukan tim yang terpecah. Sementara itu, Lotito tampaknya belum mau menyerah, tetapi tekanan dari tribun dan jalanan semakin nyata. Jika boikot terus berlanjut, bukan tidak mungkin Lazio akan kehilangan pendapatan signifikan dan citra klub semakin terpuruk di mata publik Italia.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisruh Lazio ini menjadi pelajaran tentang pentingnya harmoni antara manajemen, pemain, dan suporter. Di kompetisi domestik, konflik serupa sering kali berujung pada turunnya prestasi tim. Pertanyaannya, apakah Lotito akan bertahan dan mencoba meredam amarah suporter, atau justru memilih mundur demi kebaikan klub? Hanya waktu yang bisa menjawab, tetapi satu hal pasti: musim ini akan menjadi ujian terbesar bagi Lazio dalam dua dekade terakhir.



