Super Micro Optimistis Raup Pendapatan hingga US$72 Miliar, Saham Melonjak 7%
Baca dalam 60 detik
- Super Micro memproyeksikan pendapatan fiskal 2027 mencapai US$65โ72 miliar, jauh melampaui ekspektasi analis sebesar US$52,5 miliar.
- Margin kotor kuartal keempat naik ke 17,5%, mengindikasikan perbaikan profitabilitas di tengah lonjakan permintaan server AI.
- Lonjakan belanja AI oleh raksasa teknologi, yang diperkirakan menembus US$730 miliar tahun ini, menjadi pendorong utama pertumbuhan Super Micro.

Super Micro Computer memproyeksikan pendapatan tahun fiskal 2027 akan melampaui perkiraan analis, didorong oleh permintaan kuat untuk server yang dioptimalkan untuk kecerdasan buatan (AI). Kabar ini langsung mendongkrak harga saham perusahaan sebesar 7% dalam perdagangan setelah jam bursa, Selasa (11/8).
Perusahaan pembuat server asal Amerika Serikat ini diuntungkan oleh perlombaan perusahaan teknologi untuk melengkapi pusat data dengan infrastruktur AI. Kedekatan Super Micro dengan produsen chip dan reputasinya dalam kecepatan memasarkan produk menjadi kunci keunggulan kompetitifnya.
Proyeksi pendapatan Super Micro untuk tahun fiskal 2027 berada di kisaran US$65 miliar hingga US$72 miliar, jauh di atas rata-rata estimasi analis yang dihimpun LSEG sebesar US$52,50 miliar. Angka ini mencerminkan keyakinan perusahaan bahwa belanja infrastruktur AI oleh perusahaan teknologi besar tidak akan melambat. Gabungan belanja perusahaan teknologi besar untuk AI diperkirakan menembus US$730 miliar pada tahun ini.
Pada kuartal keempat yang berakhir 30 Juni, Super Micro mencatatkan margin kotor sebesar 17,5%, melampaui perkiraan awal perusahaan yang berkisar 15% hingga 17%, bahkan jauh di atas proyeksi awal 8,2% hingga 8,4%. Peningkatan ini disebut-sebut sebagai hasil dari perbaikan bauran pelanggan dan produk yang lebih baik dari perkiraan, termasuk penundaan beberapa kontrak ke kuartal pertama.
Pendapatan kuartal keempat mencapai US$11,12 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, meskipun sedikit di bawah estimasi analis sebesar US$11,55 miliar. Chief Executive Officer Charles Liang mengaitkan kekurangan ini dengan penundaan sementara dari pelanggan terkait pasokan listrik, pendinginan, dan jaringan.
Analis Emarketer, Gadjo Sevilla, menilai bahwa peningkatan margin di tengah volume yang hampir dua kali lipat pada kuartal berikutnya menunjukkan perusahaan memiliki ruang operasional yang leluasa dan tidak menghadapi kendala industri secara luas. "Skeptisisme terhadap pemulihan margin kini terjawab dengan angka konkret, bukan sekadar janji," ujarnya.
Dalam tahun fiskal 2026, Super Micro mencatatkan sembilan pelanggan yang masing-masing menghasilkan pendapatan lebih dari US$1 miliar, meningkat dari empat pelanggan pada tahun sebelumnya. Konsentrasi pelanggan besar ini menunjukkan ketergantungan yang tinggi pada segelintir pemain utama, namun juga mencerminkan kedalaman hubungan dengan raksasa teknologi.
Bagi Indonesia, tren ini memiliki implikasi ganda. Di satu sisi, meningkatnya belanja AI global dapat membuka peluang bagi perusahaan lokal yang terlibat dalam rantai pasok komponen elektronik atau pusat data. Di sisi lain, Indonesia perlu mempercepat pengembangan infrastruktur digital dan regulasi yang mendukung adopsi AI agar tidak tertinggal dalam persaingan regional. Pemerintah tengah mendorong pembangunan pusat data ramah lingkungan, yang sejalan dengan kebutuhan efisiensi energi yang juga menjadi perhatian Super Micro.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah pertumbuhan Super Micro dapat berkelanjutan seiring dengan siklus belanja modal perusahaan teknologi yang cenderung fluktuatif. Dengan proyeksi pendapatan yang agresif, perusahaan tampaknya bertaruh bahwa permintaan AI akan tetap kuat dalam jangka panjang. Namun, risiko seperti penundaan proyek dan tekanan margin tetap menjadi faktor yang perlu dicermati.



