Alpha Compute Siap Bangun Kampus Data Center 200 MW di Pennsylvania: Gas Alam Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan infrastruktur AI, Alpha Compute, menandatangani kesepakatan awal untuk membeli lahan dan hak gas alam di Pennsylvania senilai US$55 juta.
- Proyek ini akan menggabungkan pengembangan pusat data dengan pembangkit listrik gas alam di lokasi, merespons lambatnya koneksi listrik dari jaringan utilitas.
- Lokasi di Pennsylvania dipilih karena melimpahnya gas dari cekungan Marcellus dan infrastruktur kelistrikan yang ada, menarik minat pengembang pusat data.

Perusahaan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), Alpha Compute, mengumumkan langkah strategis dengan menandatangani perjanjian awal untuk mengakuisisi lahan dan hak gas alam di Pennsylvania senilai US$55 juta. Langkah ini ditujukan untuk membangun kampus pusat data berkekuatan 200 megawatt, sebuah respons atas meningkatnya kebutuhan daya komputasi AI yang melonjak di Amerika Serikat.
Kesepakatan yang masih bersifat mengikat ini mencakup opsi eksklusif untuk membeli aset, termasuk hak gas alam Marcellus yang belum dikembangkan seluas sekitar 1.800 acre mineral. Namun, transaksi masih menunggu proses uji tuntas, pembiayaan, perizinan, dan kesepakatan final. CEO Alpha Compute, Brittany Kaiser, menargetkan penutupan kesepakatan setelah periode uji tuntas selama 60 hari.
Proyek ini dirancang untuk menggabungkan pengembangan pusat data dengan produksi gas alam dan pembangkit listrik di lokasi. Pendekatan ini semakin populer karena perusahaan utilitas kesulitan menyambungkan fasilitas AI besar ke jaringan listrik dengan cepat. Dengan memiliki sumber energi sendiri, Alpha Compute berharap dapat mengatasi hambatan tersebut dan mempercepat operasional.
Pennsylvania menjadi lokasi yang menarik karena kaya akan gas alam dari cekungan Marcellus, memiliki infrastruktur listrik yang memadai, dan dekat dengan pusat populasi di Pantai Timur. Amazon pun telah mengumumkan investasi senilai US$20 miliar di negara bagian ini tahun lalu, menunjukkan daya tarik kawasan tersebut bagi pengembangan pusat data.
Alpha Compute memperkirakan fasilitas di Pennsylvania utara ini akan mulai beroperasi pada kuartal ketiga 2027. Kapasitasnya dapat ditingkatkan hingga satu gigawatt di masa depan. Namun, proyek ini masih membutuhkan persetujuan lokal, mengingat beberapa komunitas mulai memperketat regulasi terkait konsumsi listrik dan air untuk pusat data. Kaiser mengungkapkan bahwa komunitas lokal sejauh ini menerima proposal tersebut, meskipun lokasi pastinya belum diungkapkan.
Alpha Compute, yang berdomisili di British Virgin Islands, selama ini dikenal sebagai penyedia layanan komputasi rahasia. Proyek di Pennsylvania ini akan menjadi pengembangan pusat data pertamanya di Amerika Serikat. Perusahaan menargetkan pengguna yang membutuhkan layanan komputasi aman dengan enkripsi end-to-end, seperti pemerintah, militer, dan organisasi swasta yang menangani data sensitif.
Setelah investasi awal, Kaiser memperkirakan biaya pembangunan kampus pusat data, termasuk koneksi listrik, mencapai sekitar US$500 juta yang akan dikucurkan secara bertahap selama beberapa tahun. Angka ini menunjukkan besarnya komitmen finansial yang diperlukan untuk membangun infrastruktur AI yang mandiri energi.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Di Indonesia, kebutuhan akan pusat data juga meningkat seiring dengan pertumbuhan adopsi AI dan digitalisasi. Pemerintah Indonesia tengah mendorong pembangunan pusat data nasional, namun ketersediaan listrik yang stabil dan terjangkau menjadi tantangan. Model pengembangan yang mengintegrasikan sumber energi sendiri, seperti yang dilakukan Alpha Compute, bisa menjadi referensi bagi pengembang lokal untuk mengatasi hambatan serupa.
Ke depan, apakah tren pengembang pusat data yang mandiri energi akan menjadi standar baru? Dengan semakin ketatnya regulasi lingkungan dan meningkatnya permintaan komputasi AI, jawabannya mungkin akan menentukan arah industri ini di masa mendatang.



