Meta Gagal Akuisisi Manus, Startup AI Kembali Beroperasi Independen
Baca dalam 60 detik
- Beijing memaksa Meta membatalkan akuisisi Manus senilai US$2 miliar, memicu startup AI itu kembali mandiri.
- Langkah ini menegaskan ketegangan teknologi AS-China yang kian memanas, dengan regulasi sebagai senjata.
- Manus harus menghapus data pengguna pasca-akuisisi, menyoroti risiko kepatuhan bagi perusahaan AI global.

Perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) asal China yang berbasis di Singapura, Manus, mengumumkan akan segera beroperasi kembali sebagai entitas independen. Keputusan ini diambil setelah otoritas regulasi China memblokir rencana akuisisi oleh Meta, induk perusahaan Facebook, yang bernilai sekitar US$2 miliar.
Manus, yang mengembangkan agen AI, sebelumnya telah sepakat diakuisisi Meta pada Desember tahun lalu. Namun, pada April lalu, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional (NDRC) China secara resmi melarang transaksi tersebut dan meminta kedua belah pihak membatalkan kesepakatan. Langkah ini menjadi pukulan telak bagi Meta yang tengah gencar berekspansi di bidang AI.
Dalam pernyataan resmi di situsnya, Manus menegaskan bahwa pemisahan dari Meta merupakan langkah yang diperlukan untuk mematuhi persyaratan regulasi di sejumlah yurisdiksi. Perusahaan juga menyatakan akan menghapus data pengguna yang dihasilkan sejak tanggal akuisisi, yaitu 29 Desember, sebagai bagian dari kepatuhan tersebut.
Keputusan Beijing ini tidak terlepas dari persaingan teknologi yang semakin sengit antara Amerika Serikat dan China. Sebelum larangan resmi diumumkan, Financial Times melaporkan bahwa China telah membatasi dua pendiri Manus untuk meninggalkan negara itu. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah China sangat serius dalam menjaga aset teknologi strategisnya.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya kedaulatan data dan regulasi yang jelas di sektor AI. Sebagai negara dengan pasar digital yang besar, Indonesia perlu mengantisipasi potensi konflik kepentingan antara perusahaan teknologi global dan kepentingan nasional. Regulasi yang longgar bisa membuat data warga negara Indonesia menjadi taruhan dalam persaingan geopolitik.
Para analis memperkirakan bahwa langkah China ini akan memperlambat ekspansi Meta di pasar Asia, sekaligus mendorong negara-negara lain untuk lebih protektif terhadap teknologi lokal. Pertanyaannya, apakah Indonesia akan mengambil pelajaran dari kasus ini dan memperkuat regulasi AI-nya? Atau justru menjadi medan pertarungan baru bagi raksasa teknologi dunia?



