Sam Sunderland Siap Pecahkan Rekor Keliling Dunia 19 Hari: Sebuah Ujian Mental dan Fisik
Baca dalam 60 detik
- Pembalap reli asal Inggris, Sam Sunderland, akan memulai upaya memecahkan rekor keliling dunia dengan motor pada 5 September, setelah cedera punggung menunda rencananya selama setahun.
- Rekor yang diincar adalah 19 hari 8 jam 25 menit yang diukir Kevin dan Julia Sanders pada 2002, namun kini tidak lagi diakui Guinness World Records karena risiko tinggi.
- Rute sepanjang 18.000 mil akan melewati enam etape, termasuk Turki, Asia Tenggara, Australia, dan Maroko, dengan target harian 1.000 mil.

Setahun lebih lama dari yang direncanakan, Sam Sunderland akhirnya siap memulai misi ambisiusnya: mengelilingi dunia dengan sepeda motor dalam 19 hari. Juara reli Dakar dua kali ini sebelumnya harus menunda petualangannya setelah mengalami cedera punggung dalam kecelakaan latihan. Kini, dengan dukungan Red Bull, ia menetapkan tanggal 5 September sebagai hari keberangkatan dari London.
Rencana awal diluncurkan pada Juli tahun lalu, saat Sunderland mengakui bahwa tantangan ini akan menguji ketahanan mentalnya lebih dari apa pun yang pernah ia hadapi. Namun, kecelakaan yang mematahkan tulang punggungnya memaksanya untuk menunda. Setelah menjalani pemulihan panjang, pembalap berusia 37 tahun itu mengaku semakin termotivasi. "Mencapai garis start saja sudah terasa seperti kemenangan," ujarnya, "tapi saya tidak berangkat hanya untuk menyelesaikan; saya ingin menciptakan standar baru yang bertahan bertahun-tahun."
Rute yang ditempuh akan membawanya melintasi enam etape: Turki, Asia Tenggara, Australia, Selandia Baru, Kanada, Maroko, dan kembali ke London. Total jarak minimal 18.000 mil, dengan target harian 1.000 mil di jalan umum dan gurun. Waktu tempuh tidak termasuk penyeberangan laut, di mana jam dihentikan. Namun, perjalanan harus dilakukan satu arah, menyentuh dua titik antipodal, serta memulai dan mengakhiri di lokasi yang sama dengan motor yang samaโsebuah Triumph Tiger.
Rekor yang ingin dipecahkan adalah 19 hari 8 jam 25 menit, yang dicetak oleh Kevin dan Julia Sanders pada 2002. Namun, Guinness World Records tidak lagi mengakui rekor tersebut karena tingkat bahayanya. Meski demikian, bagi Sunderland, ini bukan sekadar soal kecepatan. "Ini tentang mengelola kurang tidur, membuat keputusan saat kelelahan, beradaptasi dengan kondisi jalan, dan terus bergerak maju setiap hari," jelasnya.
Bagi penggemar otomotif di Indonesia, aksi Sunderland menarik karena rutenya melewati Asia Tenggara, yang berpotensi menjadi sorotan regional. Meski Indonesia tidak masuk dalam daftar, semangat petualangan semacam ini kerap menginspirasi komunitas motor di tanah air, yang juga akrab dengan tantangan touring jarak jauh. Namun, perlu diingat bahwa upaya semacam ini membutuhkan persiapan fisik dan mental ekstrem, serta dukungan tim yang solid.
Para analis olahraga menilai bahwa keberhasilan Sunderland akan bergantung pada kemampuannya menjaga konsistensi di tengah kelelahan dan kondisi tak terduga. Kegagalan pada percobaan sebelumnya justru menjadi pelajaran berharga. "Cedera itu mengajarkan saya untuk lebih menghargai proses," kata Sunderland. "Sekarang saya lebih siap secara mental dan fisik."
Dengan persiapan yang matang dan tekad yang kuat, Sunderland siap menghadapi tantangan yang belum pernah ia alami sebelumnya. Apakah ia mampu memecahkan rekor yang bahkan tidak diakui secara resmi? Atau justru perjalanan ini akan menjadi bukti bahwa batas manusia memang bisa didorong lebih jauh? Semua akan terjawab dalam hitungan hari setelah ia memulai petualangannya.



