Vozinha Dapat Izin Khusus Pakai Nama Panggilan di Colo Colo: 'Nenek' yang Mendunia
Baca dalam 60 detik
- Kiper Cape Verde, Vozinha, resmi diizinkan memakai nama panggilannya di kostum Colo Colo setelah federasi Chile memberikan pengecualian.
- Kepopuleran Vozinha meroket setelah Piala Dunia, dengan pengikut Instagram melonjak dari 50 ribu menjadi hampir 30 juta.
- Keputusan ini menjadi simbol penghormatan terhadap warisan budaya dan karier sang kiper yang kini membela klub tersukses di Chile.

Federasi Sepak Bola Chile (ANFP) akhirnya memberikan dispensasi khusus kepada kiper Cape Verde, Vozinha, untuk tetap menggunakan nama panggilannya di seragam Colo Colo. Padahal, regulasi liga mewajibkan pemain menggunakan nama resmi di punggung jersey. Keputusan ini menjadi pengecualian langka yang menggarisbawahi status Vozinha sebagai ikon global setelah penampilan heroiknya di Piala Dunia.
Vozinha, yang genap berusia 40 tahun, menandatangani kontrak enam bulan dengan raksasa Liga Chile pada Senin lalu. Ia tiba di Santiago dengan sambutan meriah dari para pendukung Colo Colo dan langsung bergabung dalam latihan dua hari kemudian. Namun, di balik euforia tersebut, terselip persoalan administratif: regulasi ANFP dengan tegas melarang penggunaan nama panggilan, julukan, atau sobriket pada kostum resmi. Nama aslinya, Josimar Jose Evora Dias, seharusnya yang tertera.
Colo Colo, klub dengan koleksi 34 gelar liga dan 14 trofi Copa Chile, bergerak cepat mengajukan permohonan pengecualian. Upaya itu membuahkan hasil. Kini, Vozinha dipastikan akan berlaga dengan nama yang melekat padanya sepanjang karierโsebuah nama yang dalam bahasa Portugis berarti 'nenek'. "Ini nama yang saya pakai seumur hidup," ujar Vozinha dalam konferensi pers. "Di Cape Verde, nama ini punya makna mendalam dan sejarah panjang, dan kini juga dikenal dunia. Jika nenek saya masih hidup, saya yakin beliau bangga. Saya berharap bisa terus memakainya sebagai penghormatan."
Fenomena Vozinha bermula dari Piala Dunia 2026, di mana Cape Verde untuk pertama kalinya tampil di turnamen tersebut. Debutnya di laga melawan Spanyol, yang akhirnya menjadi juara, berakhir dengan clean sheet dan satu poin bersejarah. Penampilannya yang gemilang berlanjut hingga fase gugur, ketika Cape Verde nyaris menyingkirkan Argentina, finalis turnamen, sebelum kalah di babak perpanjangan waktu pada babak 32 besar. Berkat aksinya itu, Vozinha dinobatkan dalam Tim Terbaik Piala Dunia versi FIFA, dan bahkan seekor spesies siput laut yang baru ditemukan dinamai menurut namanya.
Perjalanan karier Vozinha tidak selalu mulus. Ia pernah merumput di Slovakia, Angola, Moldova, Siprus, dan terakhir di klub divisi kedua Portugal, Chaves. Namun, ia selalu percaya bahwa dirinya adalah pemain untuk klub besar. "Keputusan ini sangat jelas. Meski bermain di liga kecil untuk klub yang tidak sebesar itu, jauh di lubuk hati saya selalu berkata bahwa saya adalah pemain klub besar," tuturnya. "Jadi ketika Colo Colo datang, tidak ada keraguan. Sejak hari pertama, saya tahu ke mana saya ingin bermain. Saya menerima banyak tawaran, tetapi Colo Colo selalu menjadi prioritas."
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kisah Vozinha menawarkan pelajaran tentang ketekunan dan loyalitas. Di tengah maraknya pemain yang berpindah-pindah klub demi kejayaan instan, Vozinha justru menunjukkan bahwa karier gemilang bisa diraih di usia senja. Fenomena ini juga mengingatkan pada perjalanan kiper-kiper senior Indonesia yang tetap menjadi pilihan utama di klub maupun timnas. Pertanyaannya, apakah akan ada lagi pemain dengan kharisma serupa yang mampu menembus batasan regulasi demi mempertahankan identitas? Atau justru regulasi seperti di Chile yang akan semakin langka memberikan kelonggaran?



