Airlangga Jamin Pasokan Pertalite dan Biodiesel Aman hingga Akhir Tahun di Tengah Gejolak Harga Minyak Global
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah memproyeksikan harga pembelian minyak mentah Indonesia stabil di kisaran 91 dolar AS per barel, sehingga pasokan BBM subsidi dan biodiesel dipastikan aman hingga penghujung tahun.
- Konflik di Ukraina dan Timur Tengah, termasuk ketegangan di Selat Hormuz, menjadi risiko utama yang terus dipantau karena berpotensi mendorong harga minyak menembus 110 dolar AS per barel.
- Ketahanan energi domestik, ditopang batu bara dan jalur pasokan dari Singapura, menjadi modal utama menjaga inflasi tetap rendah dan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen.

Pemerintah memastikan pasokan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dan biodiesel tetap aman hingga akhir tahun, meskipun konflik global masih membayangi dan berpotensi memicu lonjakan harga energi. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa harga pembelian minyak Indonesia masih berada di level rata-rata 91 dolar AS per barel, angka yang dinilai cukup untuk menjaga stabilitas pasokan tanpa tekanan fiskal berlebih.
Pernyataan ini disampaikan Airlangga di sela-sela Musyawarah Anggota Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) 2026 di Jakarta, Selasa. Ia menegaskan bahwa selama harga minyak dunia tidak menembus 100 dolar AS per barel, pemerintah masih memiliki ruang fiskal untuk mempertahankan subsidi energi. Namun, ia juga mengingatkan bahwa eskalasi perang di Ukraina dan Timur Tengah, terutama ketegangan di Selat Hormuz, dapat mengubah perhitungan tersebut secara drastis.
โKita selalu melihat bahwa kalau harga minyak di atas 110 dolar AS per barel, biasanya ada gencatan senjata atau ada tweet,โ ujar Airlangga, merujuk pada pola historis di mana tekanan harga ekstrem sering kali memicu respons politik global. Meski demikian, ia optimistis struktur pasokan energi Indonesia yang bertumpu pada sumber daya domestik menjadi peredam gejolak.
Lebih lanjut, Airlangga menjelaskan bahwa sektor kelistrikan nasional relatif aman karena mayoritas pembangkit masih memanfaatkan batu bara sebagai energi primer. Ketergantungan pada energi domestik ini membuat Indonesia tidak mengalami lonjakan biaya pembangkitan yang signifikan, berbeda dengan negara-negara yang mengimpor gas atau minyak untuk pembangkit listriknya. Sementara itu, kebutuhan gasoline di sektor hilir dipasok dari Singapura melalui Selat Malaka, sehingga tidak bergantung pada jalur pengiriman yang rawan konflik seperti Selat Hormuz.
Struktur pasokan yang terdiversifikasi ini, menurut Airlangga, menjadi kunci ketahanan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. Ia mencontohkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,45 persen pada semester pertama, menempatkan Indonesia di posisi tiga besar atau dua besar di antara negara ASEAN dan G20. โDibandingkan berbagai negara ASEAN ataupun G20, Indonesia masih top three atau top two,โ katanya.
Dari sisi inflasi, Indonesia juga berhasil menjaga laju kenaikan harga di angka 2,88 persen, jauh lebih rendah dibanding negara-negara yang mengalami transmisi langsung dari lonjakan harga minyak. Airlangga menilai stabilitas pasokan energi dan inflasi yang terkendali menjadi modal penting untuk mempertahankan daya beli masyarakat dan iklim investasi. โBerbagai negara dengan transmisi harga minyak, inflasinya tinggi, tapi Indonesia alhamdulillah masih bisa menjaga angka inflasi,โ ujarnya.
Meski demikian, para pengamat menyoroti bahwa ketahanan energi ini tidak lepas dari beban subsidi yang harus ditanggung APBN. Kenaikan harga minyak yang berkepanjangan dapat menggerus ruang fiskal dan memaksa pemerintah untuk menyesuaikan harga BBM di dalam negeri. Pertanyaan yang muncul kemudian: seberapa lama pemerintah mampu mempertahankan harga Pertalite di tengah tekanan global yang semakin tidak menentu? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan energi dan daya saing ekonomi Indonesia ke depan.



