Blur Siap Comeback? Dave Rowntree: Pertanyaannya Kapan, Bukan Jika
Baca dalam 60 detik
- Drummer Blur, Dave Rowntree, memastikan band tidak bubar dan akan kembali bermusik, meski belum ada jadwal pasti.
- Setelah tur terakhir yang sukses, para personel justru merasa bersemangat dan sepakat untuk segera reuni lagi.
- Blur sengaja menunggu Oasis menyelesaikan tur besar mereka sebelum mengumumkan rencana comeback demi menghindari rivalitas era 90-an.

Blur, salah satu ikon Britpop yang sempat menggebrak industri musik dunia, memberi sinyal kuat bahwa perjalanan mereka belum usai. Dave Rowntree, drummer band yang kini berusia 62 tahun, mengungkapkan bahwa grup yang membesarkan nama Damon Albarn, Alex James, dan Graham Coxon ini hampir dipastikan akan kembali merilis musik baru dan menggelar konser. Pernyataan ini muncul setelah penampilan mereka di Coachella 2024 yang justru meninggalkan kesan energik, bukan kelelahan, meski sambutan penonton muda tidak terlalu hangat.
Dalam wawancara dengan The Sun, Rowntree menegaskan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari kekosongan jadwal saat ini. "Saya pikir akan ada sesuatu yang lain. Tidak ada apa pun di agenda, tapi Anda tidak bisa menyimpulkan apa-apa dari itu. Agenda kami memang selalu kosong," ujarnya. Ia juga mengenang momen perpisahan setelah tur terakhir mereka, di mana seluruh personel justru merasa optimistis dan saling berpelukan di bandara Heathrow sambil berjanji untuk mengulang pengalaman itu.
Menurut Rowntree, reuni yang dilakukan secara sporadis justru menjadi kunci kesegaran musikalitas Blur. "Kami hanya melakukannya setiap lima tahun sekali, jadi benar-benar menyenangkan untuk bermain dengan orang-orang ini dan menemukan kembali musikalitas mereka. Kami semua masih berkarya, jadi kami terus berkembang sebagai musisi. Sangat menarik untuk berkumpul lagi dan melihat bagaimana musikalitas kami berubah," jelasnya. Pola ini, lanjutnya, membuat setiap sesi rekaman dan panggung terasa seperti petualangan baru, bukan rutinitas yang membosankan.
Kabar ini tentu menjadi angin segar bagi penggemar setia Blur di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak era kejayaan Britpop di tahun 90-an, Blur memiliki basis penggemar yang cukup besar di Tanah Air, terutama di kalangan pecinta musik alternatif. Kehadiran mereka kembali di panggung internasional berpotensi memicu gelombang nostalgia sekaligus memperkenalkan musik mereka kepada generasi baru pendengar Indonesia yang semakin akrab dengan platform streaming digital.
Namun, ada satu hal yang membuat Blur menahan diri untuk segera mengumumkan rencana mereka: rivalitas dengan Oasis. Alex James, bassist Blur, baru-baru ini menyatakan bahwa mereka sengaja memberi ruang bagi Oasis untuk menyelesaikan tur besar mereka terlebih dahulu. "Saya pikir kami perlu membiarkan Oasis menyelesaikan urusan mereka sebelum kami mempertimbangkan apa pun," ujarnya dalam wawancara dengan Chris Moyles di Radio X. Pernyataan ini muncul di tengah rumor bahwa Oasis akan menggelar konser di Knebworth pada 2027, yang memicu kekhawatiran akan terulangnya persaingan sengit era 90-an.
Menariknya, Liam Gallagher, vokalis Oasis, justru merespons rumor tersebut dengan nada hati-hati di media sosial. "Tentu saja bersemangatlah, hancurkan semuanya, tapi hal-hal ini butuh waktu untuk diumumkan jika memang akan diumumkan. Saya sepenuhnya mendukung pengumuman jika memang perlu, tapi hanya karena Anda punya sesuatu untuk diumumkan bukan berarti Anda harus mengumumkannya," tulisnya. Sikap ini menunjukkan bahwa kedua kubu sama-sama berusaha menjaga tensi tetap rendah, meski para penggemar tentu berharap akan ada kejutan besar di tahun-tahun mendatang.
Bagi industri musik global, kembalinya Blur bukan sekadar nostalgia belaka. Ini adalah bukti bahwa band-band legendaris masih memiliki daya tarik komersial yang kuat, terutama di tengah maraknya tren tur reuni yang menguntungkan. Di Indonesia, fenomena ini juga bisa menjadi pelajaran bagi para musisi lokal untuk menjaga relevansi dan terus berinovasi, sekaligus menunjukkan bahwa loyalitas penggemar bisa bertahan selama bertahun-tahun jika diimbangi dengan kualitas karya yang konsisten.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Blur dan Oasis benar-benar menghindari bentrok jadwal, atau justru akan memicu rivalitas baru yang lebih seru? Yang jelas, para penggemar di Indonesia dan seluruh dunia pasti menantikan kejelasan dari kedua kubu. Satu hal yang pasti, dunia musik belum selesai dengan Blur.



