Stafsus Menhan Desak TPNPB Hentikan Kekerasan Jelang HUT RI ke-81
Baca dalam 60 detik
- Lenis Kogoya, Stafsus Menhan, secara terbuka meminta TPNPB menghentikan aksi kekerasan dan ancaman terhadap warga sipil di Papua.
- Seruan ini muncul di tengah eskalasi intimidasi, termasuk ancaman agar warga tidak merayakan HUT Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026.
- Pemerintah mengandalkan pendekatan kemanusiaan dan dialog dengan tokoh adat untuk menjaga stabilitas, namun efektivitasnya masih menjadi tanda tanya.

Staf Khusus Menteri Pertahanan Bidang Kedaulatan NKRI, Lenis Kogoya, mengeluarkan pernyataan tegas yang meminta Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) segera menghentikan seluruh aksi kekerasan dan ancaman yang menyasar masyarakat sipil di Papua. Seruan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan menjelang peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus 2026.
Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa, Lenis menggarisbawahi bahwa eskalasi kekerasan yang terjadi belakangan ini tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga merusak tatanan sosial. Ia menyebutkan adanya pembunuhan eksekusi terhadap warga sipil, guru, misionaris, dan penginjil, penyiksaan terhadap perempuan, serta pembakaran fasilitas sekolah. Tindakan tersebut, menurutnya, telah melampaui batas kemanusiaan dan harus dihentikan segera.
Yang lebih memprihatinkan, terdapat ancaman yang ditujukan kepada masyarakat dan jajaran pemerintah daerah agar tidak mengikuti perayaan kemerdekaan. Intimidasi semacam ini dinilai sebagai upaya sistematis untuk melumpuhkan aktivitas publik dan menciptakan ketakutan berkepanjangan. Lenis menegaskan bahwa aksi-aksi tersebut mengganggu keamanan dan menghambat jalannya pelayanan publik di wilayah Papua.
Menanggapi situasi tersebut, Lenis menyampaikan tiga seruan konkret yang ditujukan kepada kelompok TPNPB, termasuk juru bicaranya, Sebby Sambom. Pertama, ia meminta penghentian penyebaran informasi yang bernada ancaman terhadap warga sipil dan pemerintah daerah. Kedua, kelompok bersenjata diminta untuk tidak mengganggu aktivitas masyarakat dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI. Ketiga, ia mendesak penghentian segala bentuk kekerasan, pembunuhan, dan penyiksaan terhadap masyarakat sipil.
Seruan ini bukan sekadar retorika. Lenis menegaskan bahwa pemerintah bersama tokoh masyarakat dan adat terus berupaya menjaga keamanan agar pelayanan publik dan aktivitas warga dapat berjalan normal. Ia juga mengimbau masyarakat Papua untuk tetap tenang dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Namun, pertanyaannya, apakah seruan ini akan cukup untuk meredam eskalasi yang terus berulang?
Konflik Papua memang bukan persoalan baru, tetapi pola kekerasan yang menargetkan warga sipil dan fasilitas publik menunjukkan eskalasi yang mengkhawatirkan. Beberapa pengamat menilai bahwa pendekatan keamanan semata tidak akan menyelesaikan akar masalah. Dibutuhkan strategi yang lebih holistik, menggabungkan aspek kemanusiaan, dialog, dan pembangunan ekonomi. Namun, hingga kini, belum ada tanda-tanda konkret bahwa kelompok separatis bersedia duduk bersama dalam perundingan damai.
Bagi pembaca di Indonesia, situasi ini memiliki implikasi yang luas. Stabilitas Papua bukan hanya soal keamanan nasional, tetapi juga berpengaruh pada iklim investasi dan citra Indonesia di mata internasional. Ketika kekerasan terus berulang, risiko eskalasi konflik semakin besar, yang pada akhirnya dapat menghambat upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Papua. Oleh karena itu, seruan Lenis Kogoya patut diapresiasi, tetapi efektivitasnya akan diuji dalam beberapa bulan ke depan.
Pemerintah sendiri mengklaim telah melakukan berbagai upaya, termasuk memperkuat kehadiran aparat keamanan dan menjalin komunikasi dengan tokoh adat. Namun, tanpa adanya itikad baik dari kelompok bersenjata, upaya tersebut akan sia-sia. Pertanyaan yang menggantung: akankah TPNPB merespons seruan ini dengan langkah konkret, atau justru semakin meningkatkan aksi kekerasan? Hanya waktu yang akan menjawab, tetapi yang jelas, rakyat Papua adalah pihak yang paling dirugikan.



