Harga Minyak Melonjak 2%: Harapan Damai AS-Iran Pudar, Selat Hormuz Kian Terhimpit
Baca dalam 60 detik
- Kenaikan harga minyak mentah Brent dan WTI menembus level tertinggi sejak 31 Juli, didorong oleh kebuntuan negosiasi AS-Iran.
- Tuntutan kompensasi dari Trump mempersulit pembukaan kembali Selat Hormuz, yang menyebabkan penurunan drastis lalu lintas kapal tanker.
- Dengan risiko gangguan pasokan yang masih tinggi, analis memperkirakan harga energi akan tetap volatil dan tertekan dalam jangka pendek.

Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari dua persen pada Selasa (11/8), menembus level tertinggi dalam lebih dari sepekan, setelah harapan akan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz kembali meredup. Presiden AS Donald Trump mengajukan tuntutan kompensasi yang dinilai akan mempersulit proses negosiasi, memicu kekhawatiran baru akan gangguan pasokan energi global.
Brent crude futures naik 2,19 persen menjadi 89,64 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,33 persen ke posisi 84,04 dolar AS per barel. Lonjakan ini merupakan kelanjutan dari reli lebih dari lima persen pada Senin (10/8), setelah Trump merespons syarat-syarat yang diajukan Iran dengan menuntut pembayaran ganti rugi atas korban jiwa dalam perang, serangan, dan protes. Langkah tersebut dianggap sebagai penghalang baru bagi upaya membuka kembali jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.
Kepala Strategi Komoditas Saxo Bank, Ole Hansen, menilai bahwa tidak ada jalan keluar yang jelas untuk menyelesaikan kebuntuan ini. "Tidak ada jalur yang jelas menuju solusi dan pembukaan kembali selat secara penuh saat ini, dan hal itu menambah tekanan naik baru pada harga," ujarnya. Hansen juga menyoroti adanya gangguan pasokan yang signifikan yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
Data pelayaran menunjukkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz anjlok menjadi hanya enam kapal pada Senin, dibandingkan rata-rata 11 kapal dalam sepuluh hari terakhir. Analis Barclays mencatat bahwa ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan melalui selat tersebut pada pekan yang berakhir 7 Agustus hanya mencapai 3 juta barel per hari (bpd), turun drastis dari 4,4 juta bpd pada pekan sebelumnya. Padahal, sebelum konflik Iran dimulai pada akhir Februari, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global mengalir melalui jalur ini.
Di sisi lain, Saudi Aramco menunda operasional kembali kilang Jazan berkapasitas 400.000 barel per hari hingga 30 Agustus, menyusul klaim serangan oleh kelompok Houthi pada Minggu (9/8). Sementara itu, Perusahaan Minyak Nasional Abu Dhabi (ADNOC) telah mengeluarkan tender kedelapan untuk minyak mentah spot sejak awal Juni, sebagai upaya memindahkan minyak dari dalam Selat Hormuz.
Bagi Indonesia, gejolak harga minyak ini menjadi sinyal yang tidak nyaman. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap kenaikan harga minyak mentah akan berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan inflasi domestik. Pemerintah Indonesia perlu mencermati perkembangan ini, terutama dalam merancang kebijakan harga BBM dan menjaga daya beli masyarakat. Kepala Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, mengingatkan bahwa risiko pencekikan di Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb masih sangat signifikan. "Bahkan pembatasan yang bersifat intermiten atau ancaman insiden lebih lanjut membuat biaya asuransi tetap tinggi dan memaksa rute pelayaran menjadi lebih panjang," jelasnya. "Akibatnya, arus energi tampaknya akan tetap terkendala dalam jangka pendek."
Dengan dinamika yang ada, pertanyaan besarnya adalah seberapa lama ketegangan ini akan berlanjut. Jika negosiasi AS-Iran terus menemui jalan buntu, bukan tidak mungkin harga minyak akan menembus level psikologis 90 dolar AS per barel. Namun, jika ada tanda-tanda kemajuan, tekanan harga bisa mereda. Bagi pasar dan pemerintah Indonesia, memantau setiap perkembangan di Selat Hormuz menjadi krusial, mengingat dampaknya yang langsung terasa pada perekonomian domestik.



