Kuota Upacara HUT RI di Istana Ditambah 3.400, Pendaftaran Dibuka Selasa
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah menambah 3.400 kursi untuk masyarakat menghadiri upacara HUT ke-81 RI di Istana Merdeka, dibagi dalam dua sesi.
- Lonjakan peminat mencapai 336.000 pendaftar untuk 5.500 kuota awal, memicu kebijakan prioritas bagi yang belum pernah hadir.
- Pendaftaran tambahan dibuka 11 Agustus melalui laman Pandang Istana, dengan harapan mengakomodasi lebih banyak warga.

Pemerintah memutuskan menambah 3.400 kuota bagi masyarakat yang ingin menyaksikan langsung Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi dan Penurunan Bendera Sang Merah Putih di Istana Merdeka pada 17 Agustus 2026. Langkah ini diambil setelah gelombang pendaftar awal membeludak, mencapai lebih dari 336 ribu orang untuk 5.500 kursi yang tersedia.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan, tambahan kuota tersebut akan dibagi ke dalam dua sesi: upacara pagi dan sore. "Nanti tentu akan kita bagi menjadi dua sesi, yaitu upacara pagi dan upacara penurunan bendera, untuk menambah atau mengakomodir jumlah supaya jauh lebih banyak masyarakat dapat ikut hadir di Istana," ujarnya di Jakarta, Senin (10/8). Dengan skema ini, total kapasitas undangan untuk peringatan tahun ini menjadi sekitar 8.900 orang.
Pendaftaran untuk memperebutkan tambahan undangan akan dibuka melalui laman Pandang Istana mulai Selasa (11/8). Keputusan ini merupakan respons atas tingginya animo publik yang ingin merayakan momen kemerdekaan secara langsung di pusat upacara. Sebelumnya, pada periode pendaftaran 5-9 Agustus, tercatat 336.017 orang mengajukan diri, angka yang jauh melampaui daya tampung yang disediakan.
Prasetyo menegaskan bahwa pemerintah akan memprioritaskan warga yang belum pernah mengikuti upacara kemerdekaan di Istana. "Kita akan mencoba membagi porsi dengan berusaha memprioritaskan bagi saudara-saudara kita, masyarakat kita yang belum pernah sama sekali," katanya. Kebijakan ini dinilai sebagai upaya untuk memperluas kesempatan bagi masyarakat dari berbagai daerah, bukan hanya mereka yang sudah familier dengan seremoni kenegaraan.
Antusiasme luar biasa ini tidak hanya mencerminkan semangat nasionalisme, tetapi juga menjadi indikator kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan acara kenegaraan. Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan sosial, animo masyarakat untuk hadir secara fisik di Istana menunjukkan bahwa momen kemerdekaan tetap memiliki daya tarik emosional yang kuat. Bagi pemerintah, lonjakan peminat ini menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kapasitas dan tata kelola undangan di masa mendatang.
Prasetyo juga mengajak masyarakat mengisi Bulan Kemerdekaan dengan kegiatan yang membangun. "Tentu kita semua memiliki keahlian, memiliki profesi, memiliki bidang masing-masing. Sebagai anak-anak Indonesia, mari semua di bulan kemerdekaan ini kita isi dengan sesuatu hal yang penuh rasa cinta tanah air, penuh semangat persatuan, penuh nasionalisme," imbaunya. Pernyataan ini menegaskan bahwa perayaan kemerdekaan tidak hanya milik mereka yang hadir di Istana, tetapi juga seluruh rakyat Indonesia.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah mekanisme undangan berbasis daring ini akan terus dipertahankan atau justru dievaluasi agar lebih inklusif. Dengan jumlah pendaftar yang terus meningkat setiap tahun, pemerintah perlu mempertimbangkan transparansi seleksi dan pemerataan kesempatan bagi warga dari luar Jawa. Apakah sistem lotere atau kuota per provinsi akan menjadi solusi? Hanya waktu yang akan menjawab, namun yang jelas, semangat masyarakat untuk merayakan kemerdekaan di Istana tidak pernah surut.



