Prabowo Perintahkan Penanganan Karhutla Maksimal: Titik Api Terkonsentrasi di Kalbar, Kalteng, dan Bromo
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo menginstruksikan penanganan karhutla secara terkoordinasi menyusul meningkatnya titik api akibat El Nino.
- Konsentrasi titik api tertinggi terpantau di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, sementara kebakaran signifikan terjadi di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
- Pemerintah menyiapkan operasi modifikasi cuaca dan armada udara untuk mempercepat pemadaman di wilayah terdampak.

Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan instruksi tegas untuk mengerahkan seluruh sumber daya dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian meluas di tengah penguatan fenomena El Nino. Arahan tersebut disampaikan langsung kepada jajaran terkait, menyusul laporan peningkatan jumlah titik api di sejumlah provinsi yang berpotensi menimbulkan bencana asap lintas batas.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengungkapkan bahwa konsentrasi titik api tertinggi saat ini terdeteksi di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Sementara itu, kebakaran dengan skala cukup besar juga melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Jawa Timur, sebuah area yang memiliki nilai ekologis dan wisata tinggi. Kondisi ini memaksa pemerintah untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, TNI, Polri, serta Kementerian Kehutanan.
Langkah yang diambil tidak hanya terbatas pada pemadaman darat. Pemerintah juga menyiagakan armada udara berupa helikopter dan pesawat untuk melakukan water bombing di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau. Selain itu, operasi modifikasi cuaca (OMC) tengah dipertimbangkan sebagai upaya mempercepat pemadaman, meskipun pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer yang dinamis. Prasetyo menekankan bahwa semua peralatan dan personel telah dimonitor dan dikoordinasikan sesuai perintah presiden.
Fenomena El Nino yang menguat pada musim kemarau tahun ini memang meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran secara signifikan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan dini terkait hal ini. Masyarakat pun diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, seperti membuka lahan dengan cara membakar.
Bagi Indonesia, karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga ancaman ekonomi dan kesehatan. Asap yang dihasilkan dapat mengganggu aktivitas penerbangan, merusak ekosistem, dan memicu penyakit pernapasan. Lebih jauh, kebakaran lahan gambut melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar, yang berpotensi memicu protes internasional dan mempengaruhi citra Indonesia di mata dunia. Oleh karena itu, respons cepat dan terkoordinasi seperti yang diinstruksikan presiden menjadi krusial.
Keberhasilan penanganan karhutla tahun ini akan menjadi ujian bagi efektivitas koordinasi antarlembaga di bawah kepemimpinan Prabowo. Pertanyaannya, apakah operasi modifikasi cuaca dapat dilakukan di semua wilayah terdampak? Atau akankah pemerintah mengandalkan strategi lain seperti pembasahan lahan gambut secara permanen? Semua itu akan menentukan apakah Indonesia mampu memutus siklus kebakaran tahunan yang selama ini menjadi momok di musim kemarau.



