AS-Korsel Gelar Latihan Militer Besar-besaran di Tengah Uji Rudal Korut: Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Baca dalam 60 detik
- Latihan gabungan Ulchi Freedom Shield akan berlangsung 11 hari dengan melibatkan 18.000 tentara Korea Selatan, merespons uji rudal balistik terbaru Korea Utara.
- Kekhawatiran meningkat karena tentara Korea Utara yang bertempur di Ukraina membawa pengalaman perang modern, yang dapat mengubah keseimbangan militer di Semenanjung Korea.
- Bagi Indonesia, eskalasi ini berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan kawasan Indo-Pasifik dan harga energi global, sehingga perlu dicermati oleh para pemangku kepentingan nasional.

Seoul, LyndHub โ Militer Korea Selatan dan Amerika Serikat akan memulai latihan gabungan tahunan Ulchi Freedom Shield pekan depan, sebuah langkah yang secara langsung menanggapi uji coba rudal balistik terbaru Korea Utara yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB. Latihan yang berlangsung selama 11 hari ini melibatkan sekitar 18.000 personel Korea Selatan, dengan skala yang serupa dengan tahun-tahun sebelumnya, menurut juru bicara militer Korea Selatan, Jang Do-young.
Latihan ini bukan sekadar rutinitas. Juru bicara militer AS, Ryan Donald, menegaskan bahwa skenario latihan telah diperbarui dengan memasukkan "pelajaran dari konflik terkini", termasuk pengalaman tempur yang diperoleh tentara Korea Utara saat dikerahkan ke Ukraina untuk mendukung Rusia. "Tentara Korea Utara telah dikerahkan dan bertempur di Ukraina, dan mereka membawa pelajaran itu kembali ke Korea Utara," ujar Donald. "Itu mengubah kemampuan Korea Utara, dan pelatihan kami memperhitungkan ancaman itu."
Ulchi Freedom Shield merupakan salah satu dari dua latihan gabungan utama yang dilakukan setiap tahun, selain latihan musim semi. Latihan ini mencakup pelatihan langsung, virtual, dan berbasis lapangan. Namun, di mata Pyongyang, latihan semacam ini selalu dianggap sebagai latihan invasi. Korea Utara kerap merespons dengan uji senjata provokatif dan retorika keras. Sementara itu, Seoul dan Washington menegaskan bahwa latihan ini bersifat defensif.
Ketegangan meningkat setelah pada Kamis lalu, Korea Selatan, AS, dan Jepang mendeteksi peluncuran rudal balistik jarak pendek dari Korea Utara โ uji coba pertama sejak akhir Juni. Rudal tersebut jatuh di perairan pantai timur Korea Utara. Seoul dan Tokyo mengecam peluncuran itu sebagai provokasi, mengingat resolusi Dewan Keamanan PBB melarang semua aktivitas balistik Korea Utara. Komando Pasifik AS menegaskan komitmennya untuk mempertahankan wilayah AS dan sekutunya di kawasan.
Di balik ketegangan ini, ada dinamika yang lebih dalam. Sejak kegagalan diplomasi antara Kim Jong-un dan Donald Trump pada 2019, Korea Utara terus memperluas arsenal nuklir dan misilnya. Para analis menilai Kim percaya bahwa persenjataan yang lebih besar akan meningkatkan peluangnya untuk mendapatkan konsesi dari AS dalam negosiasi masa depan. Selain itu, pengiriman pasukan dan amunisi Korea Utara ke Rusia telah menimbulkan kekhawatiran bahwa Moskow mungkin mentransfer teknologi sensitif yang dapat meningkatkan ancaman program nuklir dan misil Korea Utara. Para ahli juga menilai bahwa pengalaman tempur di Ukraina telah memberikan keuntungan berharga bagi militer Korea Utara.
Bagi Indonesia, eskalasi di Semenanjung Korea memiliki implikasi yang tidak bisa diabaikan. Sebagai negara yang aktif dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik, Indonesia perlu mencermati dampak dari ketegangan ini terhadap keamanan regional dan ekonomi global. Gangguan di jalur pelayaran dan potensi kenaikan harga energi akibat konflik dapat memengaruhi perekonomian domestik. Selain itu, pengalaman Indonesia dalam diplomasi multilateral dapat menjadi modal untuk mendorong dialog dan meredakan ketegangan, sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah latihan militer ini akan memicu respons lebih keras dari Korea Utara, atau justru membuka ruang untuk diplomasi. Dengan pengalaman perang modern yang kini dimiliki Pyongyang, dinamika keamanan di kawasan ini menjadi semakin kompleks. Indonesia, bersama negara-negara ASEAN lainnya, perlu memperkuat koordinasi untuk menjaga stabilitas dan mencegah eskalasi yang lebih luas.



