Menlu Malaysia: Di Tengah Fragmentasi Global, Asean Tak Boleh Kehilangan Arah
Baca dalam 60 detik
- Menlu Malaysia menegaskan sentralitas Asean harus menjadi kompas utama di tengah rivalitas kuasa besar dan melemahnya multilateralisme.
- Blok regional didorong untuk memperluas kemitraan strategis, termasuk dengan China dan India, sambil menjaga kesetaraan dalam hubungan internasional.
- Asean berkomitmen mempercepat integrasi ekonomi digital dan transisi energi hijau, dengan target memperbarui perjanjian dagang dan membangun jaringan listrik regional.

Di tengah dunia yang semakin terpecah oleh rivalitas negara adidaya dan melemahnya tatanan multilateral, Menteri Luar Negeri Malaysia, Mohamad Hasan, menegaskan bahwa sentralitas Asean harus tetap menjadi kompas utama kawasan. Pernyataan ini disampaikan dalam pidatonya pada perayaan Hari Asean ke-59 di Putrajaya, Senin (10/8), sekaligus mengingatkan bahwa persatuan blok regional ini bukan hak yang otomatis, melainkan hak istimewa yang harus terus dirawat.
Menurut Mohamad, tatanan internasional yang ada saat ini tidak hanya berada di bawah tekanan, tetapi juga menghadapi fragmentasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Persaingan kekuatan besar, kompetisi geo-ekonomi, dan multilateralisme yang mulai rapuh menjadi ciri utama dunia yang semakin kompleks dan sulit diprediksi. Dalam situasi seperti ini, Asean dituntut untuk bersikap jernih dan ambisius, menjadi suara nalar serta komunitas yang tangguh demi perdamaian dan kemakmuran bersama.
Lebih lanjut, Mohamad menekankan bahwa komitmen Asean terhadap regionalisme dan multilateralisme tetap menjadi jangkar stabilitas dan kemajuan kawasan. Ia mengajak seluruh negara anggota untuk menjadi agen perubahan yang mampu membentuk norma-norma global agar tetap terbuka, inklusif, dan berakar pada prinsip keadilan. "Asean harus menjadi pembicara, bukan yang dibicarakan," tegasnya, menggambarkan pentingnya peran aktif blok ini di tengah percaturan dunia yang multipolar.
Di sisi lain, ia juga mengingatkan bahwa perpecahan internal hanya akan melemahkan pengaruh kolektif Asean. Dalam era polarisasi yang semakin tajam, negara-negara anggota tidak boleh membiarkan perbedaan menggerogoti kekuatan bersama. "Kita tidak boleh membiarkan Asean menjadi lemah, terpecah, atau berkonflik satu sama lain," ujarnya, seraya menekankan bahwa nasib setiap negara anggota naik turun bersama kawasan.
Dalam pidatonya, Mohamad juga menyoroti ekonomi digital sebagai pendorong utama pertumbuhan Asean berikutnya. Ia menyebut percepatan implementasi Kerangka Kerja Ekonomi Digital Asean (DEFA) dan modernisasi perjanjian dagang dengan mitra seperti China, India, dan Korea Selatan sebagai langkah krusial. "Cara bisnis seperti biasa bukan lagi pilihan," katanya, menegaskan perlunya keberlanjutan menjadi inti agenda ekonomi kawasan.
Selain itu, percepatan Jaringan Listrik Asean (ASEAN Power Grid) dinilai mampu mendorong transisi energi hijau, menarik investasi, dan meningkatkan ketahanan energi jangka panjang. Langkah ini sejalan dengan upaya blok untuk tetap relevan di tengah tuntutan global akan pembangunan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, pernyataan ini memiliki resonansi yang kuat. Sebagai salah satu pendiri Asean, Indonesia memiliki kepentingan strategis untuk menjaga kohesi kawasan. Di tengah persaingan antara Amerika Serikat dan China, posisi Indonesia sebagai kekuatan regional yang moderat menjadi aset penting. Namun, tantangan seperti ketimpangan ekonomi antarnegara anggota dan isu transisi energi yang belum merata tetap menjadi pekerjaan rumah bersama.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Asean mampu menerjemahkan retorika sentralitas ini ke dalam aksi nyata. Dengan keketuaan Filipina pada 2026, ujian sesungguhnya adalah bagaimana blok ini menavigasi kepentingan yang saling tarik-menarik, baik dari dalam maupun luar kawasan. Akankah Asean tetap menjadi kompas yang andal, atau justru terseret arus fragmentasi global?



