Pemerintah Prioritaskan Warga Baru di Upacara HUT ke-81 RI, Kuota Ditambah
Baca dalam 60 detik
- Antusiasme publik menyambut peringatan kemerdekaan tahun ini mendorong Istana menambah kapasitas penonton hingga 8.900 kursi.
- Kebijakan prioritas bagi pendaftar pertama kali bertujuan memperluas kesempatan masyarakat merasakan langsung momen kenegaraan.
- Pembagian dua sesi upacara pada 17 Agustus 2026 diharapkan mengakomodasi lebih banyak warga tanpa mengorbankan kekhidmatan acara.

Pemerintah memutuskan untuk mengutamakan warga yang belum pernah menghadiri upacara peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta. Kebijakan ini diumumkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi di kompleks parlemen, Senayan, Senin, sebagai respons atas tingginya minat publik untuk menyaksikan langsung puncak perayaan kemerdekaan ke-81.
Dalam jumpa pers, Prasetyo menjelaskan bahwa panitia akan menelusuri riwayat pendaftaran setiap calon penonton. Mereka yang tercatat pernah hadir pada tahun-tahun sebelumnya tetap diperbolehkan mendaftar, tetapi akan diberi prioritas lebih rendah dibandingkan pendaftar baru. "Kita coba membagi porsi, memprioritaskan yang belum pernah sama sekali," ujarnya, menegaskan komitmen untuk memperluas akses masyarakat terhadap agenda kenegaraan.
Langkah ini diambil setelah periode pendaftaran yang berlangsung 5โ9 Agustus 2026 mencatatkan lonjakan partisipasi. Hingga hari keempat, lebih dari 336 ribu orang telah mendaftar, jauh melampaui kuota awal yang hanya 5.500 kursi. Melihat animo tersebut, Istana memutuskan menambah satu blok tambahan berkapasitas 3.400 orang, sehingga total kapasitas menjadi 8.900 kursi.
Pembagian dua sesi, yaitu Upacara Peringatan Detik-Detik Proklamasi dan Upacara Penurunan Bendera, menjadi strategi untuk menampung lebih banyak pengunjung. Prasetyo menyebut keputusan ini diambil guna menjaga ketertiban dan kenyamanan selama acara berlangsung. Meski demikian, ia belum merinci mekanisme seleksi akhir, termasuk apakah akan ada undian atau sistem antrean berbasis waktu pendaftaran.
Tema besar peringatan tahun ini, "Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur", dinilai sejalan dengan arah pembangunan nasional yang menekankan kemandirian, pemerataan, dan kesejahteraan. Bagi masyarakat Indonesia, momen ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan simbol partisipasi publik dalam kehidupan bernegara. Kebijakan prioritas ini juga menjadi sorotan karena mencerminkan upaya pemerintah untuk lebih inklusif, meski di sisi lain memunculkan pertanyaan tentang keadilan bagi mereka yang telah setia hadir sejak lama.
Menjelang 17 Agustus 2026, berbagai persiapan terus dimatangkan. Selain upacara di Istana, masyarakat di daerah diharapkan turut memeriahkan dengan lomba, kegiatan budaya, dan pemasangan bendera. Yang menarik, apakah sistem prioritas ini akan menjadi preseden bagi tahun-tahun berikutnya? Atau justru memicu perdebatan tentang hak partisipasi warga yang sudah lama menanti? Publik menunggu kepastian teknis dari panitia, terutama soal transparansi seleksi dan kemungkinan penambahan kuota di masa mendatang.



