Eropa Barat Alami Juni-Juli Terpanas Sepanjang Sejarah: Peringatan Nyata Krisis Iklim
Baca dalam 60 detik
- Suhu rata-rata Juni-Juli di Eropa Barat mencapai 21,62 derajat Celsius, melampaui rekor 2022 dan menandai musim panas ekstrem yang belum pernah terjadi.
- Kekeringan parah dan kebakaran hutan melanda sejumlah negara, mengganggu transportasi, irigasi, dan produksi energi di kawasan tersebut.
- Fenomena El Nino yang kuat diperkirakan akan mendorong rekor suhu global baru pada 2026 atau 2027, dengan dampak yang berpotensi merambah hingga Indonesia.

Eropa Barat baru saja mencatatkan rekor suhu gabungan tertinggi untuk periode Juni-Juli sepanjang sejarah, yakni 21,62 derajat Celsius. Angka ini melampaui rekor sebelumnya pada 2022, menegaskan bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang tengah berlangsung. Data dari layanan pemantau iklim Uni Eropa, Copernicus, yang dirilis Senin (10/8), menunjukkan bahwa dua bulan pertama musim panas ini diwarnai gelombang panas beruntun, suhu ekstrem, dan kondisi kering yang luar biasa.
Eropa merupakan benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Kondisi ini diperparah oleh kekeringan yang lebih parah dibandingkan periode yang sama pada 2022. Tingkat kelembapan tanah tercatat jauh lebih rendah, memicu kekhawatiran akan krisis air dan gagal panen. Samantha Burgess, peneliti dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts yang mengoperasikan Copernicus, menyatakan bahwa ini adalah contoh nyata bagaimana perubahan iklim memperkuat panas ekstrem, dengan kekeringan dan panas saling memicu.
Dampaknya terasa luas. Sungai-sungai utama seperti Seine, Rhine, dan Danube mengalami penurunan aliran yang tidak normal, mengganggu transportasi air, irigasi pertanian, dan pembangkit listrik tenaga air di beberapa negara. Prancis dan Spanyol bahkan harus berjuang melawan kebakaran hutan terburuk dalam ingatan kolektif warga. Para ilmuwan memperingatkan bahwa frekuensi cuaca yang memicu kebakaran ekstrem di Eropa terus meningkat seiring perubahan iklim.
Di tengah daratan yang mengering, lautan juga menunjukkan sinyal bahaya. Copernicus mencatat suhu permukaan laut global mencapai rekor tertinggi untuk bulan kedua berturut-turut pada Juli, didorong oleh gelombang panas laut di sekitar Eropa dan El Nino yang sedang menguat di Pasifik. Direktur Copernicus, Carlo Buontempo, menyebut El Nino yang sedang berkembang ini berpotensi menjadi yang terbesar dalam hal amplitudo, dan menjadi pendorong utama di balik rekor suhu laut tersebut. El Nino, fase hangat dari siklus iklim alami, tidak hanya menaikkan suhu laut di Pasifik tropis, tetapi juga memicu cuaca ekstrem di berbagai belahan dunia, termasuk kekeringan dan banjir.
Bagi Indonesia, fenomena ini patut menjadi perhatian serius. Meskipun berlokasi jauh dari Eropa, dinamika iklim global memiliki keterkaitan erat. El Nino yang kuat kerap memicu kemarau panjang dan meningkatkan risiko kebakaran hutan di Indonesia, seperti yang terjadi pada 2015 dan 2019. Selain itu, kenaikan suhu laut dapat memengaruhi pola musim dan intensitas siklon tropis di wilayah Asia Tenggara. Para ahli memperkirakan bahwa rekor suhu global baru dapat terjadi pada akhir tahun ini atau awal 2027, yang akan semakin memperkuat tekanan terhadap ekosistem dan ketahanan pangan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Buontempo menegaskan bahwa pemicu utama pemanasan ini adalah emisi gas rumah kaca dari aktivitas manusia. Lautan, yang menyerap sebagian besar panas berlebih, kini menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Laut yang lebih panas berpotensi memicu badai yang lebih kuat, curah hujan ekstrem, dan pemutihan karang yang meluas. Dengan data yang telah dikumpulkan sejak 1940, Copernicus memberikan bukti yang tak terbantahkan bahwa kita sedang berada di era iklim yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah perubahan iklim nyata, melainkan seberapa cepat kita mampu beradaptasi dan menekan emisi sebelum titik kritis terlampaui.


