Sian Massey-Ellis Pensiun dari Lapangan, Kini Fokus Cetak Wasit Wanita Inggris
Baca dalam 60 detik
- Asisten wasit legendaris Sian Massey-Ellis mengakhiri karier di lapangan setelah lebih dari 150 laga Premier League dan pindah ke peran senior di FA.
- Ia tercatat sebagai perempuan Inggris pertama yang memimpin pertandingan Eropa putra dan final Piala FA putra, membuka jalan bagi generasi baru ofisial wanita.
- Langkah ini menegaskan komitmen FA untuk memperkuat representasi gender di dunia perwasitan, sejalan dengan tren global yang juga mulai diadopsi di Asia.

Sian Massey-Ellis, asisten wasit yang namanya identik dengan sejarah perwasitan Inggris, resmi menggantung peluit. Setelah lebih dari 15 tahun berkarier di level tertinggi, ia memilih pensiun dari lapangan hijau dan beralih ke kursi manajerial di Federasi Sepak Bola Inggris (FA), sebuah langkah yang menandai babak baru bagi pengembangan wasit perempuan di negeri Ratu Elizabeth.
Karier Massey-Ellis memang penuh torehan. Sejak debut di Premier League pada 2010, ia tercatat memimpin lebih dari 150 pertandingan liga utama Inggris. Ia juga menjadi perempuan Inggris pertama yang bertugas di laga Eropa putra dan final Piala FA putra, serta terlibat dalam lima final Piala FA Wanita. Di pentas internasional, ia mewakili Inggris di empat turnamen Euro Wanita UEFA dan dua Piala Dunia Wanita FIFA, yakni edisi 2019 dan 2023.
Kepindahannya ke FA bukan sekadar rotasi jabatan. Massey-Ellis akan mengemban peran sebagai manajer senior yang fokus pada dukungan dan pengembangan ofisial perempuan. Ini menjadi sinyal kuat bahwa FA serius memperkuat ekosistem perwasitan dari akar rumput, terutama setelah sejumlah nama besar seperti Rebecca Welch juga memutuskan pensiun. Welch, yang dikenal sebagai wasit perempuan pertama yang memimpin laga Premier League, memilih mundur pada tahun lalu.
Dalam pernyataan resminya, Massey-Ellis menegaskan bahwa pensiun dari lapangan bukan berarti meninggalkan sepak bola. "Meski saya melangkah mundur dari garis sentuh, saya tidak meninggalkan sepak bola," ujarnya. Ia juga menyampaikan harapan agar perjalanan kariernya bisa menginspirasi generasi muda, terutama anak perempuan yang bercita-cita menjadi wasit. "Jika perjalanan saya membantu mengubah persepsi, membuka pintu, atau menginspirasi bahkan satu orang muda untuk percaya bahwa mereka pantas berada di dunia ini, maka itu akan saya anggap sebagai pencapaian terbesar," tambahnya.
Langkah Massey-Ellis ini sejalan dengan tren global yang semakin membuka ruang bagi perempuan di dunia perwasitan. Di kancah Asia, sejumlah federasi mulai meniru model pengembangan wasit wanita, termasuk di Indonesia. PSSI sendiri telah mulai melibatkan wasit perempuan dalam kompetisi resmi, meskipun jumlahnya masih terbatas. Kehadiran sosok seperti Massey-Ellis bisa menjadi referensi bagi upaya serupa di Tanah Air, terutama dalam hal pembinaan karier dan jenjang profesionalisme.
"Yang akan saya hargai paling dalam adalah orang-orang dan pengalaman yang mendefinisikan perjalanan saya," kata Massey-Ellis, mengenang suka duka selama berkarier.
Massey-Ellis juga menerima penghargaan MBE pada 2017 sebagai pengakuan atas dampaknya terhadap perwasitan dan komitmennya pada representasi. Ia mengaku bersemangat dengan kesempatan barunya untuk membantu, mengembangkan, dan menginspirasi generasi berikutnya. "Ini adalah kehormatan terbesar untuk melayani olahraga yang saya cintai dan mewakili perwasitan Inggris. Untuk gadis kecil yang dulu hanya suka menjadi wasit dan bermimpi mencapai puncakโkita berhasil. Terima kasih, sepak bola," tutupnya.
Dengan mundurnya Massey-Ellis, FA kini menghadapi tantangan untuk memastikan regenerasi ofisial wanita tidak mandek. Pertanyaannya, akankah langkah ini diikuti federasi lain, termasuk Indonesia, untuk mempercepat kesetaraan gender di lapangan? Atau justru menjadi momentum bagi lahirnya wasit-wasit wanita baru yang lebih siap bersaing di level internasional?



