Krisis Pangan Jepang: Tingkat Swasembada Pangan Anjlok ke Rekor Terendah 37%
Baca dalam 60 detik
- Angka swasembada pangan Jepang berbasis kalori menyentuh 37% pada tahun fiskal 2025, level terendah sejak 1965.
- Kenaikan harga beras domestik justru menekan konsumsi dan memperbesar pangsa impor, menggagalkan target pemerintah 45% pada 2030.
- Kondisi ini menjadi alarm bagi Indonesia yang juga bergulat dengan ketahanan pangan di tengah fluktuasi harga dan ketergantungan impor.

Jakarta, LyndHub โ Ketahanan pangan Jepang mengalami kemunduran signifikan. Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan (MAFF) mengumumkan bahwa tingkat swasembada pangan berbasis kalori pada tahun fiskal 2025 jatuh ke rekor terendah 37%, pertama kalinya turun dalam lima tahun terakhir. Angka ini menjadi sorotan karena pemerintah Jepang sebelumnya menargetkan kenaikan menjadi 45% pada 2030.
Penurunan ini dipicu oleh melonjaknya harga beras, komoditas pokok yang sebagian besar dipasok dari dalam negeri. Harga yang tinggi justru menekan konsumsi rumah tangga, sementara pangsa impor bahan pangan lain meningkat. Menurut data MAFF, tingkat swasembada 37% ini pernah terjadi pada 1993 akibat gagal panen beras, serta pada 2018 dan 2020. Namun, kali ini penyebabnya berbeda: bukan karena produksi yang merosot, melainkan karena pergeseran pola konsumsi dan daya beli masyarakat.
Jika ditelisik per komoditas, tingkat swasembada beras berbasis berat turun 2 poin menjadi 95%, level terendah dalam 16 tahun. Gandum dan daging stagnan masing-masing di 16% dan 53%, sementara hasil laut naik ke 53% dan sayuran turun ke 77%. Di sisi lain, tingkat swasembada berbasis nilai produksi justru naik 2 poin menjadi 66%, didorong oleh kenaikan harga beras dan telur ayam. Ini menunjukkan bahwa secara nilai, Jepang masih cukup kuat, tetapi secara kuantitas kalori, ketergantungan pada impor semakin dalam.
Perbandingan dengan negara lain mempertegas posisi Jepang yang rapuh. Australia dan Kanada memiliki tingkat swasembada di atas 100%, bahkan negara tetangga seperti Korea Selatan dan China berada di kisaran 50โ70%. Jepang, yang hanya mengandalkan lahan pertanian terbatas dan populasi menua, menghadapi tantangan struktural yang sulit diatasi dalam jangka pendek.
Bagi Indonesia, kabar ini menjadi pengingat akan kerentanan ketahanan pangan di kawasan Asia. Indonesia sendiri masih berjuang meningkatkan produksi beras dan mengurangi impor gandum, kedelai, dan garam. Fluktuasi harga pangan global, seperti yang terjadi pada beras Jepang, dapat berdampak langsung pada inflasi dan daya beli masyarakat. Pemerintah Indonesia tengah mendorong program food estate dan diversifikasi pangan lokal, namun tantangan serupa โ keterbatasan lahan, perubahan iklim, dan alih fungsi lahan โ tetap menjadi pekerjaan rumah.
Menurut analis pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof. Dwi Andreas Santoso, kasus Jepang menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak bisa hanya diukur dari produksi, tetapi juga dari akses dan keterjangkauan. โHarga yang tinggi justru bisa menurunkan konsumsi dan meningkatkan ketergantungan impor, seperti yang terjadi di Jepang. Indonesia harus belajar dari ini,โ ujarnya dalam wawancara dengan LyndHub, Jumat (7/8/2026).
Ke depan, Jepang dihadapkan pada dilema: menaikkan produksi domestik dengan biaya tinggi atau menerima ketergantungan impor yang lebih besar. Pemerintah Jepang mungkin perlu merevisi target 2030 atau mengubah strategi, misalnya dengan mendorong konsumsi pangan alternatif seperti singkong atau jagung. Pertanyaannya, apakah negara maju seperti Jepang rela mengubah pola makannya demi ketahanan pangan? Atau akankah Indonesia dan negara Asia lainnya mengikuti jejak Jepang dalam menghadapi tekanan global?



