Gelombang Protes di Jharkhand: Ribuan Pencari Kerja Desak Reformasi Ujian Pemerintah
Baca dalam 60 detik
- Ribuan demonstran di Jharkhand, India timur, melanjutkan aksi menuntut perombakan sistem ujian rekrutmen pegawai negeri, menyusul dugaan kebocoran kertas soal dan manipulasi hasil.
- Pemerintah negara bagian telah membatalkan tiga ujian dan tiga anggota komisi mengundurkan diri, namun pengunjuk rasa tetap menuntut investigasi oleh badan federal CBI.
- Aksi ini mendapat dukungan politik dari partai oposisi BJP dan Kongres, sementara Kepala Menteri Hemant Soren memperingatkan agar protes tidak dipolitisasi.

Ribuan mahasiswa, pencari kerja, dan relawan di negara bagian Jharkhand, India timur, kembali memadati jalan menuju gedung Majelis Negara Bagian di Ranchi pada hari ini, menuntut pembenahan menyeluruh terhadap sistem ujian rekrutmen aparatur sipil negara. Aksi yang telah berlangsung lebih dari dua pekan ini memaksa pemerintah setempat untuk mengambil langkah darurat, termasuk membatalkan tiga ujian yang dianggap cacat prosedur.
Pemicu kemarahan publik adalah ujian awal pegawai negeri yang diselenggarakan Komisi Layanan Publik Jharkhand (JPSC) pada April lalu. Setelah hasilnya diumumkan pada Juli, beredar lembar jawaban yang diduga bocor di media sosial, memperlihatkan sejumlah kandidat yang dinyatakan lulus hanya menjawab sedikit soalโjauh di bawah ekspektasi. Hal ini memicu kecurigaan manipulasi hasil yang meluas di kalangan peserta.
Pemerintah negara bagian telah merespons dengan membatalkan ujian yang dipermasalahkan beserta dua ujian lainnya. Tiga anggota JPSC dilaporkan mengundurkan diri, menyusul mundurnya ketua komisi, L Khiangte, pada 22 Juli lalu. Khiangte telah diperiksa sebagai bagian dari penyelidikan yang dilakukan Departemen Investigasi Kriminal (CID) Jharkhand. Lebih dari belasan orang telah ditangkap, dan penyidik juga mengkaji peran perusahaan swasta yang terlibat dalam sebagian proses ujian.
Meski ada konsesi dari pemerintah, para pengunjuk rasa menegaskan aksi akan terus berlanjut hingga seluruh tuntutan dipenuhi. Tuntutan utama yang belum terpenuhi adalah penyerahan investigasi kepada Biro Investigasi Pusat (CBI), badan penyelidik federal India. Mereka menilai penanganan oleh otoritas negara bagian belum cukup transparan dan khawatir pelaku manipulasi tidak dihukum maksimal.
Berbeda dengan gelombang protes "kecoa" yang terjadi di Delhi beberapa pekan laluโyang muncul dari gerakan non-partisan dan berakhir setelah Menteri Pendidikan Dharmendra Pradhan mengundurkan diriโaksi di Ranchi justru mendapat dukungan politik yang kuat. Partai Bharatiya Janata (BJP) yang menjadi oposisi di Jharkhand, serta Kongres yang menjadi mitra koalisi pemerintah negara bagian, sama-sama menyatakan solidaritas terhadap mahasiswa. BJP bahkan telah menggelar demonstrasi dan mendesak investigasi federal di majelis negara bagian.
Kepala Menteri Jharkhand, Hemant Soren dari partai Jharkhand Mukti Morcha (JMM), menuding ada kepentingan terselubung yang mencoba mengganggu demokrasi di negara bagiannya. Dalam pernyataannya, ia memperingatkan agar protes tidak dipolitisasi dan kembali menegaskan komitmennya untuk menegakkan keadilan. Namun, pernyataan tersebut belum meredam amarah demonstran yang menuntut tindakan nyata, bukan sekadar janji.
Fenomena kebocoran soal ujian di India sebenarnya bukan hal baru. Sebelumnya, protes besar-besaran yang dijuluki "protes kecoa" di Delhi berhasil memaksa mundurnya Menteri Pendidikan. Namun, kasus di Jharkhand menunjukkan bahwa masalah ini bersifat sistemik dan membutuhkan perombakan mendasar, bukan sekadar penggantian pejabat.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat pentingnya integritas dalam sistem rekrutmen pegawai negeri. Praktik kecurangan serupa pernah terjadi di berbagai daerah, dan respons pemerintah yang cepat serta transparan menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik. Pertanyaannya, apakah aparat penegak hukum di Indonesia siap menangani kasus serupa dengan tegas dan tanpa pandang bulu?



