Gempa Kumamoto 7,1: Peneliti Temukan Patahan Permukaan Sepanjang 33 Kilometer
Baca dalam 60 detik
- Tim peneliti Jepang mengonfirmasi pergeseran tanah sepanjang 33 km di zona patahan Hinagu pasca gempa Kumamoto 28 Juli.
- Pergeseran horizontal maksimum 1,8 meter dan vertikal 1,5 meter merusak infrastruktur seperti jembatan dan sekolah.
- Temuan ini menjadi peringatan bagi Indonesia yang memiliki banyak patahan aktif dan permukiman padat di dekatnya.

Tim peneliti gabungan dari Universitas Tohoku dan Universitas Kumamoto mengonfirmasi adanya pergeseran permukaan tanah sepanjang sekitar 33 kilometer di sepanjang zona patahan Hinagu, menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,1 yang mengguncang Prefektur Kumamoto pada 28 Juli lalu. Temuan awal yang dirilis 6 Agustus ini mengungkap dampak yang lebih luas dari yang diperkirakan, terutama pada infrastruktur dan permukiman warga.
Pergeseran tanah tersebut membentang dari Kota Mifune hingga Kota Yatsushiro, mengikuti garis yang hampir lurus. Gempa ini tergolong gempa strike-slip, di mana lapisan batuan bergerak secara horizontal. Di wilayah Ogawa, Kota Uki, hingga Kota Hikawa, pergeseran horizontal mencapai 1,8 meter, sementara pergeseran vertikal terbesar tercatat di dekat Simpang Yatsushiro di Jalan Tol Kyushu, mencapai 1,5 meter.
Dampak fisiknya langsung terlihat: pilar jembatan di Simpang Yatsushiro bergeser, dan Sekolah Dasar Ryuho di Kota Yatsushiro mengalami retak besar di gedung dan halaman sekolah. Menariknya, lokasi pergeseran tanah ini sebagian besar tumpang tindih dengan peta patahan aktif yang telah disusun sebelumnya, menunjukkan bahwa gempa ini mengaktifkan kembali struktur geologis yang sudah dikenal.
Shinji Toda, profesor geologi gempa di Universitas Tohoku yang memimpin survei, menyoroti bahwa dibandingkan dengan gempa Kumamoto 2016, kali ini lebih banyak kawasan permukiman yang berada di sepanjang jalur patahan. "Ada jalan tol, jalan nasional, dan bahkan bangunan baru mengalami kerusakan akibat pergeseran tanah, seperti rumah yang miring," ujarnya. Pernyataan ini menggarisbawahi meningkatnya risiko bagi daerah yang padat penduduk dan infrastruktur yang rentan.
Bagi Indonesia, temuan ini menjadi cermin yang relevan. Indonesia terletak di Cincin Api Pasifik dan memiliki banyak patahan aktif, seperti Patahan Lembang di Jawa Barat dan Patahan Palu-Koro di Sulawesi. Gempa bumi dengan mekanisme strike-slip juga pernah terjadi, misalnya gempa Palu 2018 yang memicu likuifaksi dan kerusakan parah. Jika gempa serupa terjadi di dekat permukiman padat, dampaknya bisa lebih besar, terutama jika bangunan tidak dirancang tahan gempa.
Penelitian ini menegaskan pentingnya pemetaan patahan aktif yang akurat dan penegakan kode bangunan yang ketat. Di Indonesia, banyak daerah yang belum memiliki peta mikrozonasi gempa, sehingga risiko kerusakan akibat pergeseran tanah sering kali terabaikan. Pemerintah dan akademisi perlu memperkuat kolaborasi untuk memetakan jalur patahan secara detail dan menyosialisasikan kepada masyarakat.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah: apakah Indonesia siap menghadapi gempa strike-slip yang melintasi permukiman padat? Dengan meningkatnya pembangunan infrastruktur di dekat zona patahan, kesiapsiagaan menjadi kunci. Temuan dari Jepang ini bisa menjadi pelajaran berharga untuk memperkuat mitigasi bencana di tanah air.



