Cuaca Ekstrem Ancam Industri Garam Tradisional Kamboja, Produksi Anjlok Drastis
Baca dalam 60 detik
- Perubahan pola musim akibat perubahan iklim memicu hujan deras di musim kemarau, mengganggu produksi garam di Kampot dan Kep, Kamboja.
- Produksi garam Kamboja diperkirakan mencapai 75.000 ton tahun ini, naik signifikan dari 30.000 ton tahun lalu, namun tetap di bawah potensi maksimal.
- Selain cuaca, infrastruktur buruk dan serbuan garam impor murah menjadi tantangan tambahan bagi petani garam Kamboja.

Perubahan pola musim yang dipicu perubahan iklim kini menjadi momok bagi industri garam laut Kamboja, yang selama ini mengandalkan musim kemarau panjang untuk berproduksi. Hujan deras yang tak terduga di luar musimnya telah memporak-porandakan area produksi di dua provinsi sentra garam, Kampot dan Kep, mengancam mata pencaharian ratusan petani tradisional.
Kampot dan Kep, yang terletak sekitar 150 kilometer barat daya Phnom Penh, merupakan jantung industri garam tradisional Kamboja. Sebanyak 141 produsen menggantungkan hidup pada teknik evaporasi surya yang padat karya, sebuah metode yang telah diwariskan turun-temurun. Proses produksi biasanya berlangsung pada musim kemarau, Oktober hingga Mei, saat air laut dialirkan ke kolam-kolam dangkal dan dijemur di bawah terik matahari tropis hingga meninggalkan kristal garam yang kemudian dipungut secara manual.
Bun Narin, Ketua Asosiasi Produsen Garam Indikasi Geografis Kampot-Kep, mengungkapkan bahwa dalam lima tahun terakhir pola produksi berubah drastis. "Hujan deras dan pasang tinggi yang membanjiri kolam garam menjadi tantangan besar karena produksi kami sepenuhnya bergantung pada cuaca," ujarnya kepada Bernama. Pernyataan ini menggarisbawahi betapa rentannya industri ini terhadap anomali iklim.
Dampaknya terlihat jelas pada angka produksi. Tahun ini, para produsen optimistis dapat menuai sekitar 75.000 metrik ton garam, melonjak dibandingkan tahun 2025 yang hanya sekitar 30.000 ton akibat hujan berkepanjangan. Namun, angka ini masih jauh dari kapasitas ideal, dan ketidakpastian cuaca membuat target produksi setiap tahun menjadi taruhan.
Persoalan tidak berhenti pada cuaca. Infrastruktur yang minim—seperti akses jalan terbatas, listrik, dan air bersih—semakin mempersulit para petani garam. Di sisi lain, banjir garam impor murah dari negara tetangga juga menekan daya saing garam lokal. Kombinasi faktor ini menciptakan tekanan ganda bagi kelangsungan industri yang telah berabad-abad menjadi penopang ekonomi masyarakat pesisir Kamboja.
Kamboja sendiri termasuk negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Menurut Dewan Nasional untuk Pembangunan Berkelanjutan Kamboja, negara ini menempati peringkat ke-12 dalam Global Climate Risk Index. Risiko banjir, hujan lebat, kekeringan, dan cuaca ekstrem lainnya mengancam sektor pertanian yang sangat sensitif terhadap iklim, termasuk garam, serta mata pencaharian jutaan petani.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Kamboja ini relevan. Sebagai negara maritim dengan tradisi garam rakyat yang kuat, Indonesia menghadapi tantangan serupa: perubahan iklim yang mengganggu musim produksi, infrastruktur yang belum memadai, dan gempuran garam impor. Pengalaman Kamboja menunjukkan bahwa tanpa adaptasi dan dukungan kebijakan yang kuat, industri garam tradisional bisa semakin terpinggirkan.
Ke depan, pertanyaannya bukan hanya apakah cuaca akan bersahabat, tetapi juga apakah para pemangku kepentingan di Kamboja—dan Indonesia—mampu berinovasi dan berinvestasi dalam teknologi serta infrastruktur untuk menghadapi ketidakpastian iklim. Akankah garam tradisional bertahan, atau akan tergerus oleh modernisasi dan impor?



