Gelombang Panas Ekstrem Korea: Perusahaan Besar Berlomba Lindungi Pekerja, UMKM Terpinggirkan
Baca dalam 60 detik
- Rekor suhu 42,5 derajat Celsius memaksa perusahaan Korea Selatan memperpanjang waktu istirahat dan menyediakan peralatan pendingin, namun kesenjangan perlindungan antara perusahaan besar dan kecil semakin terlihat.
- Data resmi mencatat 195 kecelakaan kerja akibat panas sejak 2022, dengan lebih dari separuh terjadi di tempat kerja berkaryawan di bawah 50 orang, menyoroti kerentanan pekerja di sektor informal.
- Pemerintah Korea didesak untuk memperluas pengawasan dan perlindungan bagi pekerja musiman asing dan pekerja luar ruangan, seiring meningkatnya tekanan hukum dan regulasi terkait keselamatan kerja.

Gelombang panas ekstrem yang melanda Korea Selatan telah memaksa perusahaan-perusahaan besar untuk mengubah jadwal kerja dan memperpanjang waktu istirahat demi melindungi pekerja. Namun, di balik langkah-langkah tersebut, terdapat kesenjangan yang menganga antara korporasi raksasa yang mampu berinvestasi dalam sistem pendingin dan pekerja di usaha kecil serta lokasi kerja terbuka yang tetap rentan terhadap sengatan panas.
Suhu di Negeri Ginseng mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kota Yangsan, Provinsi Gyeongsang Selatan, mencatat rekor nasional 42,5 derajat Celsius, sementara Seoul telah berada di bawah peringatan gelombang panas level tertinggi selama berhari-hari. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan meningkatnya angka kecelakaan kerja akibat panas, terutama di sektor konstruksi dan industri berat.
Data yang disampaikan oleh anggota parlemen dari Partai Kekuatan Rakyat, Kim Wi-sang, menunjukkan bahwa Layanan Kompensasi dan Kesejahteraan Pekerja Korea telah mengakui 195 kecelakaan kerja terkait panas antara 2022 hingga Juni tahun ini, termasuk 20 kematian. Dari jumlah tersebut, 13 kasus dengan empat kematian telah diakui pada paruh pertama tahun ini, sebelum puncak musim panas yang biasanya terjadi pada Juli-Agustus.
Tekanan hukum dan regulasi terhadap pengusaha untuk melindungi pekerja dari panas ekstrem semakin meningkat, terutama setelah pengadilan distrik tahun lalu memvonis sebuah perusahaan konstruksi berdasarkan Undang-Undang Hukuman Kecelakaan Serius atas kematian akibat sengatan panas seorang pekerja subkontraktor. Ini merupakan vonis pertama dalam kasus kematian akibat panas di bawah undang-undang tersebut.
Perusahaan konstruksi, yang menyumbang proporsi kematian industri yang tidak proporsional, menjadi yang paling aktif merespons. Hyundai Engineering & Construction memberikan penghargaan kepada pekerja yang beristirahat di area istirahat yang ditentukan, sementara Lotte E&C menggunakan sistem pemantauan berbasis Internet of Things di sekitar 80 lokasi konstruksi untuk mengukur suhu terasa setiap lima menit dan mengklasifikasikan risiko panas ke dalam lima tingkat. Daewoo E&C bahkan mengizinkan pekerja yang merasa tidak enak badan untuk berhenti bekerja tanpa takut dihukum.
Industri berat yang tidak dapat dengan mudah menghentikan operasi selama gelombang panas memperketat jadwal kerja-istirahat. Posco, yang tungku ledaknya beroperasi 24 jam, mewajibkan pekerja untuk beristirahat 15 menit setelah setiap 45 menit bekerja ketika suhu terasa melebihi 35 derajat Celsius. Hyundai Steel menerapkan aturan serupa, dengan istirahat minimal 10 menit setiap jam saat suhu melebihi 31 derajat Celsius dan 15 menit saat di atas 35 derajat. Galangan kapal juga memperpanjang waktu istirahat; Hanwha Ocean menggandakan waktu istirahat pagi dan sore menjadi 20 menit hingga akhir Agustus, serta menambah 30 menit waktu makan siang saat suhu melebihi 28 derajat dan satu jam saat di atas 31,5 derajat.
Langkah-langkah ini, bagaimanapun, terkonsentrasi di perusahaan-perusahaan besar yang memiliki sumber daya untuk memasang sistem pendingin dan mengatur ulang jadwal kerja. Dari 195 kecelakaan kerja terkait panas yang diakui sejak 2022, lebih dari separuh terjadi di tempat kerja dengan kurang dari 50 karyawan, dan 42 di antaranya di bisnis dengan kurang dari lima pekerja. Para ahli ketenagakerjaan dan anggota parlemen menyatakan bahwa pekerja di usaha kecil sering kali memiliki akses terbatas ke petugas keselamatan, peralatan pendingin, dan fasilitas istirahat yang memadai, membuat mereka sangat rentan selama cuaca ekstrem.
Pekerja migran di sektor pertanian dan pekerjaan luar ruangan lainnya juga tetap sangat terpapar. Bulan lalu, seorang pekerja musiman asal Thailand meninggal saat bekerja di ladang di Haenam, Provinsi Jeolla Selatan, dan seorang warga Vietnam meninggal saat bekerja di pertanian di Goesan, Provinsi Chungcheong Utara. Insiden ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak akan perlindungan yang lebih baik bagi kelompok rentan ini.
Kim mendesak pemerintah untuk bergerak melampaui fokus pada tempat kerja besar dan memperkuat inspeksi serta perlindungan praktis bagi pekerja musiman asing dan karyawan di lokasi kerja luar ruangan skala kecil. Tekanan ini muncul di tengah meningkatnya kesadaran akan dampak perubahan iklim terhadap keselamatan kerja, tidak hanya di Korea tetapi juga di negara-negara Asia lainnya, termasuk Indonesia.
Bagi Indonesia, pelajaran dari Korea Selatan sangat relevan. Dengan iklim tropis yang panas dan lembap sepanjang tahun, risiko heat stress di tempat kerja sering kali terabaikan. Data dari Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa kecelakaan kerja akibat panas masih jarang dilaporkan, namun potensinya besar, terutama di sektor konstruksi, pertanian, dan manufaktur. Langkah-langkah seperti yang diterapkan perusahaan Korea, seperti pemantauan suhu real-time dan pengaturan jadwal kerja yang fleksibel, dapat menjadi contoh bagi perusahaan Indonesia untuk meningkatkan perlindungan pekerja di tengah ancaman suhu ekstrem yang semakin sering terjadi.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah pemerintah Korea akan mampu menjembatani kesenjangan perlindungan antara perusahaan besar dan kecil, dan apakah negara-negara lain, termasuk Indonesia, akan mengambil langkah serupa untuk mengantisipasi dampak gelombang panas yang semakin ekstrem akibat perubahan iklim. Jawabannya akan menentukan masa depan keselamatan kerja di kawasan ini.



