Gelombang Panas Ekstrem Landa Korsel: 23 Tewas, Bandara Jadi Tempat Berlindung
Baca dalam 60 detik
- Korsel mencatat rekor suhu 42,5 derajat Celsius, memicu status darurat nasional dan 23 kematian akibat panas.
- Pemerintah mengerahkan drone dan truk semprot untuk melindungi petani, sementara bandara menjadi tempat berlindung bagi warga rentan.
- Fenomena ini menjadi alarm bagi negara tropis seperti Indonesia untuk memperkuat mitigasi perubahan iklim dan sistem peringatan dini.

Gelombang panas ekstrem yang melanda Korea Selatan telah menewaskan sedikitnya 23 orang dan menyebabkan hampir 2.500 orang dilarikan ke unit gawat darurat sejak pertengahan Mei. Presiden Lee Jae Myung bahkan menyebut kondisi ini sebagai "bencana nasional" dan memerintahkan seluruh instansi pemerintah untuk mengerahkan semua sumber daya guna menghadapi suhu yang mencapai rekor 42,5 derajat Celsius di kota Yangsan pada akhir pekan lalu.
Fenomena ini bukan sekadar catatan statistik. Di berbagai wilayah, pemerintah daerah menerjunkan truk berpendingin untuk membagikan air minum gratis di taman, pasar, dan halte bus. Sementara itu, di daerah pedesaan seperti Provinsi Gyeongsang Utara, drone dengan pengeras suara dan kamera termal digunakan untuk memantau para petani yang sebagian besar berusia lanjut. Drone-drone itu berputar di atas lahan pertanian sambil menyiarkan peringatan seperti "cuaca panas, segera masuk ke dalam" agar para petani beristirahat dan mendinginkan tubuh.
Dampaknya terasa hingga ke sektor olahraga dan pariwisata. Upacara pergantian pengawal di Istana Gyeongbokgung, Seoul, yang biasanya menjadi daya tarik wisatawan, dibatalkan atas rekomendasi badan meteorologi nasional. Organisasi bisbol nasional juga menunda semua pertandingan selama seminggu setelah seorang penonton berusia 23 tahun pingsan di Incheon karena dehidrasi dan tekanan darah rendah akibat panas. Bandara-bandara ber-AC, termasuk Bandara Internasional Incheon, menjadi tempat berlindung bagi tunawisma dan lansia. Foto-foto di media lokal memperlihatkan orang-orang berbaring di bangku dan lantai, menggunakan handuk sebagai selimut darurat. Seorang pengunjung di Bandara Gimpo, Seoul, mengaku kepada The Korea Times bahwa tempat itu "sempurna untuk beristirahat tanpa mengeluarkan uang".
Di tengah krisis ini, inovasi digital muncul sebagai respons kreatif. Sebuah aplikasi bernama Geuneulro, yang berarti "jalan teduh" dalam bahasa Korea, dikembangkan oleh mahasiswa Yu Min-jun untuk membantu pejalan kaki menemukan rute paling teduh di kota. Aplikasi ini memanfaatkan data posisi matahari dan bayangan bangunan untuk merekomendasikan jalur yang nyaman. "Musim panas ini begitu panas sehingga saya merasa seperti daging di atas panggangan," ujar Yu kepada BBC Korean. Ia mengaku prihatin karena aplikasinya yang awalnya untuk mengatasi kesulitan berangkat kerja justru mendapat sambutan luas, menandakan banyak orang mengalami hal serupa. "Ini membuat saya khawatir karena mereka bilang cuaca akan semakin panas. Saya harap ini mendorong lebih banyak orang untuk peduli pada perubahan iklim," tambahnya.
Para ahli iklim memperkirakan panas ekstrem ini akan sedikit mereda pada akhir pekan dengan suhu siang turun ke sekitar 36 derajat Celsius, namun kondisi panas diperkirakan masih akan berlanjut. Badan Meteorologi Seoul bahkan memprediksi peluang 50% suhu pada September dan Oktober akan tetap di atas rata-rata. Ini mengindikasikan bahwa gelombang panas bukan lagi peristiwa langka, melainkan bagian dari pola iklim baru yang lebih ekstrem.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pelajaran berharga. Meski secara geografis berbeda, negara tropis seperti Indonesia juga rentan terhadap kenaikan suhu ekstrem. Data BMKG menunjukkan tren suhu yang meningkat dalam beberapa dekade terakhir, dan fenomena seperti El Nino dapat memicu kekeringan dan panas berkepanjangan. Respons Korsel yang cepat โ mulai dari sistem peringatan dini berbasis drone hingga penyediaan ruang publik ber-AC โ bisa menjadi referensi bagi pemerintah daerah di Indonesia untuk menyiapkan langkah mitigasi. Pertanyaannya, apakah Indonesia sudah memiliki infrastruktur dan kebijakan yang cukup adaptif untuk menghadapi skenario terburuk perubahan iklim? Jika tidak, bukan tidak mungkin gelombang panas serupa akan menjadi kenyataan di tanah air dalam beberapa tahun mendatang.



