Dari Kobe ke Haiphong: Pasangan Jepang-Vietnam Sulap Desa Terpencil Jadi Sentra Jus Leci
Baca dalam 60 detik
- Pasangan beda negara mengubah kebun leci warisan keluarga di delta sungai Haiphong menjadi bisnis jus ekspor ke Jepang, menyelamatkan komoditas yang selama ini terbuang.
- Topan 2024 yang mematikan 60 persen pohon leci justru memicu kampanye crowdfunding dan adopsi energi surya, menjadikan usaha ini contoh ketangguhan adaptif di tengah krisis iklim.
- Model bisnis sosial yang mempekerjakan ibu rumah tangga dan lansia ini berpotensi direplikasi di daerah sentra buah Indonesia yang menghadapi tantangan logistik serupa.

Jauh dari hiruk-pikuk Kobe, seorang perempuan Jepang bersama suaminya yang orang Vietnam membuktikan bahwa buah leci bisa menjadi motor penggerak ekonomi desa. Ari Yamasaki dan Pham Van Nhan mengubah kebun leci seluas satu hektare di pinggiran Haiphong menjadi lini produksi jus yang kini diekspor ke Jepang, sekaligus menciptakan lapangan kerja bagi puluhan warga sekitar.
Kisah ini bermula dari pertemuan keduanya di sebuah sekolah kejuruan di Kobe, tempat Yamasaki mengajar bahasa Jepang dan Nhan, seorang dokter gigi lulusan universitas di Haiphong, tengah menimba ilmu. Setelah menikah pada 2018, rencana Nhan untuk melanjutkan studi kedokteran gigi di Jepang kandas akibat biaya kuliah yang tinggi dan kendala bahasa. Pandemi Covid-19 semakin memperumit situasi, hingga akhirnya pasangan ini memutuskan pindah ke kampung halaman Nhan di sebuah pulau sungai dekat Haiphong pada Mei 2021.
Keputusan itu membawa mereka pada realitas pahit: desa yang kerap terendam banjir ini memiliki tanah subur yang ideal untuk leci, namun akses transportasi yang buruk membuat sebagian besar hasil panen membusuk sebelum sempat dijual. Sebelum jalan tol dibuka, warga harus menyeberang dengan feri untuk mencapai kota terdekat. Kondisi ini diperparah oleh topan pada 2024 yang menewaskan 60 persen pohon leci, memaksa Yamasaki meluncurkan kampanye crowdfunding di Jepang untuk membeli bibit baru.
Alih-alih menyerah, pasangan ini justru berinovasi. Mereka mulai memproduksi jus leci tanpa pengawet untuk pasar domestik dan ekspor, mengingat leci segar sulit ditembus ke luar negeri karena regulasi karantina. Mereka juga memasang panel surya sebagai cadangan listrik untuk freezer penyimpanan, mengatasi masalah pemadaman listrik yang kerap terjadi. Kini, LaLa-Lycheee Farm tidak hanya menjual jus, tetapi juga madu leci, dan menerima pesanan lencana serta pita dari perusahaan Jepang untuk acara penghargaan.
Yang menarik, inisiatif ini tidak hanya berorientasi bisnis. Yamasaki dan Nhan meluncurkan proyek kontribusi komunitas yang memberikan pekerjaan bagi ibu-ibu dan warga lanjut usia yang tidak bisa bepergian jauh. "Saya berutang budi pada desa yang membesarkan saya," ujar Nhan, menggambarkan motivasi mereka untuk memberi dampak sosial. Bagi Yamasaki, melihat warga desa yang dulu kesulitan berobat gigi kini memiliki penghasilan tetap adalah kepuasan tersendiri.
Kisah LaLa-Lycheee Farm menawarkan pelajaran berharga bagi Indonesia, yang juga memiliki banyak sentra buah di daerah terpencil dengan masalah infrastruktur serupa. Model pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah, seperti jus, bisa menjadi solusi untuk mengurangi pemborosan pangan. Dukungan teknologi sederhana seperti energi surya dan pemasaran digital melalui crowdfunding juga dapat diadopsi oleh petani lokal. Pertanyaannya, mampukah para pemangku kepentingan di Indonesia meniru ketangguhan pasangan ini untuk mengangkat potensi desa?



