Teknologi ANG BRIN: Potensi Hemat Subsidi LPG Rp26 Triliun per Tahun, Uji Coba Ditargetkan Rampung 2026
Baca dalam 60 detik
- BRIN mengembangkan teknologi ANG yang diklaim mampu memperpanjang masa pakai tabung gas setara LPG 3 kg hingga 1,5 kali lipat.
- Inovasi ini berpotensi memangkas beban subsidi LPG hingga Rp26 triliun per tahun sekaligus mengurangi ketergantungan impor.
- Presiden Prabowo meminta percepatan implementasi; uji coba ditargetkan selesai 2026 dan rilis 2027.

Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arief Satria, mengungkapkan bahwa teknologi adsorbed natural gas (ANG) yang tengah dikembangkan lembaganya berpotensi menekan beban subsidi LPG hingga sekitar Rp26 triliun per tahun. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto bersama 150 peneliti BRIN di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (tanggal). Jika terealisasi, inovasi ini bukan hanya meringankan fiskal negara, tetapi juga menjadi jawaban atas ketergantungan Indonesia pada LPG impor yang selama ini membebani anggaran.
Teknologi ANG memungkinkan gas alam terkompresi (CNG) disimpan dengan kepadatan lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. Arief menjelaskan, dengan memanfaatkan metal organic framework, tabung gas berukuran setara LPG 3 kilogram dapat digunakan lebih lamaโdari rata-rata 10 hari menjadi 15 hari. Saat ini riset terus diarahkan untuk mencapai dua kali lipat daya simpan. "Kalau orang saat ini menggunakan LPG misalnya 3 kilogram menghasilkan waktu 10 hari, sekarang dengan teknologi baru bisa 15 hari, satu setengah kali. Nah sekarang riset terus kita lakukan agar bisa dua kali lipat," ujarnya.
Pengembangan ANG merupakan bagian dari kerja sama sister lab dengan peraih Nobel Kimia 2025, Susumu Kitagawa. Langkah ini menempatkan Indonesia di jalur riset material canggih yang selama ini didominasi negara maju. Arief menegaskan, potensi gas alam domestik sangat melimpah, tetapi pemanfaatannya belum optimal. "CNG sebagai gas alam Indonesia ini sangat melimpah, namun pada saat yang sama kita tergantung pada LPG. Selama ini, impor LPG sangat besar," katanya.
Bagi Indonesia, inovasi ini memiliki arti strategis ganda. Pertama, penghematan subsidi hingga Rp26 triliun per tahun dapat dialokasikan untuk program pembangunan lain. Kedua, pengurangan impor LPG akan memperbaiki neraca perdagangan dan memperkuat ketahanan energi nasional. Presiden Prabowo, dalam kesempatan yang sama, meminta agar implementasi teknologi ini dipercepat. "Pak Presiden sangat berpesan kalau bisa dipercepat untuk implementasi pemanfaatan ANG dengan teknologi baru ini. Karena ini satu hemat devisa, tapi yang kedua lebih penting lagi adalah memiliki simpanan gas yang lebih besar untuk ukuran yang sama," tutur Arief.
Meski menjanjikan, teknologi ini masih berada pada tahap uji coba. Arief menargetkan uji coba rampung pada 2026, sehingga teknologi dapat mulai diperkenalkan pada 2027 sebagai alternatif pengganti LPG impor. "Yang jelas di kami ini kami sedang uji coba ya yang tahun 2026 uji coba, moga-moga 2027 bisa kita rilis," ucapnya.
Keberhasilan teknologi ANG tidak hanya bergantung pada aspek teknis, tetapi juga kesiapan industri dan regulasi. Pertanyaan yang muncul: akankah pemerintah menyiapkan insentif bagi produsen tabung dan infrastruktur distribusi? Jika tidak, potensi penghematan itu bisa saja hanya menjadi angka di atas kertas. Namun, dengan dorongan langsung dari Presiden, arah kebijakan tampaknya mulai berpihak pada adopsi teknologi ini.



