150 Peneliti BRIN Pamerkan Inovasi ke Prabowo: Gas Metana hingga Sepatu Rp75 Ribu
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 150 peneliti BRIN mempresentasikan 150-200 produk riset langsung kepada Presiden Prabowo di Istana, mencakup 12 klaster inovasi.
- Teknologi penyimpanan gas metana ANG menjadi andalan utama karena berpotensi menggantikan LPG dan menghemat devisa negara.
- BRIN juga menampilkan sepatu berbahan karet seharga Rp75 ribu yang dipesan langsung oleh Prabowo untuk mendukung program Sekolah Rakyat.

Sebanyak 150 peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendapat kesempatan langka mempresentasikan 150โ200 produk riset langsung di hadapan Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (6/8/2026). Agenda ini bukan sekadar pameran, melainkan dialog langsung antara kepala negara dan para ilmuwan untuk mencari solusi atas persoalan bangsa.
Kepala BRIN, Arif Satria, menyebut undangan ini sebagai bentuk apresiasi tinggi terhadap kerja para periset. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa beberapa temuan BRIN sebelumnya telah dipaparkan dalam rapat terbatas di Hambalang dan Istana, mencakup isu pengelolaan sampah, tanggul laut raksasa, ketahanan air, pangan, hingga energi. Kini, para peneliti diberi ruang lebih luas untuk memamerkan inovasi mereka secara langsung.
Dari belasan klaster riset yang ditampilkan, teknologi Absorbed Natural Gas (ANG) menjadi primadona. Teknologi ini memungkinkan penyimpanan gas metana pada tekanan di bawah 30 bar, jauh lebih rendah dibandingkan gas alam terkompresi konvensional. Arif menilai, ANG dapat menjadi pengganti LPG yang selama ini menjadi beban impor besar bagi Indonesia. "Kalau ANG bisa digunakan dengan tekanan kurang dari 30 bar, maka itu bisa menjadi pengganti LPG," ujarnya di kompleks Istana.
Potensi ANG tidak hanya soal efisiensi energi, tetapi juga dampak ekonomi. Dengan mengurangi ketergantungan pada LPG impor, Indonesia bisa menghemat devisa secara signifikan. Inovasi ini sejalan dengan target pemerintah untuk mencapai kemandirian energi, sebuah isu yang kerap disorot dalam berbagai forum nasional.
Selain energi, BRIN juga membawa inovasi di sektor pangan, seperti varietas padi biosalin yang mampu tumbuh di lahan berkadar garam tinggi. Langkah ini dinilai strategis mengingat Indonesia memiliki banyak wilayah pesisir yang lahannya belum termanfaatkan optimal. Arif, yang juga mantan Rektor IPB, menegaskan bahwa inovasi ini mendapat perhatian khusus dari Presiden, terutama untuk meningkatkan produktivitas pertanian di daerah pesisir.
Di luar teknologi tinggi, BRIN juga menampilkan produk yang dekat dengan kebutuhan masyarakat: sepatu berbahan karet hasil pengembangan peneliti di Serpong. Menariknya, produk ini lahir dari permintaan langsung Presiden Prabowo. "Ini sepatu BRIN, produk lokal. Ini Bapak Presiden juga pesan. 'BRIN tolong dong bikin yang bisa menyelesaikan masalah sepatu'," ungkap Arif sambil menunjukkan produk tersebut.
Sepatu ini dibanderol mulai Rp75 ribu hingga di atas Rp100 ribu, tergantung motif dan bahan. BRIN kini tengah mencari mitra industri untuk produksi massal. Selain untuk pasar umum, sepatu ini diarahkan untuk mendukung program Sekolah Rakyat, yang membutuhkan alas kaki terjangkau bagi siswa dari keluarga kurang mampu.
Agenda sore itu juga mencakup kunjungan Presiden ke setiap klaster riset. Arif menjelaskan, "Beliau nanti akan berkeliling melihat inovasi-inovasi kami dan langsung bertemu dengan para perisetnya. Di situlah beliau akan memberikan arahan kepada kami." Ini menunjukkan komitmen Prabowo untuk mendengarkan langsung ide-ide dari para ilmuwan, bukan sekadar menerima laporan tertulis.
Langkah BRIN membawa inovasi ke Istana patut diapresiasi, namun tantangan ke depan adalah bagaimana memastikan produk-produk ini tidak berhenti di etalase pameran. Diperlukan kebijakan hilirisasi yang kuat, dukungan pendanaan, serta kolaborasi dengan sektor swasta agar riset-riset ini benar-benar berdampak bagi masyarakat. Pertanyaannya, akankah pemerintah mampu mengubah momentum ini menjadi ekosistem inovasi yang berkelanjutan?



