Air India Tunjuk Eks Bos Ethiopian Airlines sebagai CEO Baru di Tengah Tekanan Keselamatan
Baca dalam 60 detik
- Maskapai pelat merah India menunjuk Tewolde Gebremariam, mantan kepala Ethiopian Airlines, untuk memimpin fase ekspansi dan pemulihan pasca kecelakaan fatal.
- Kepemimpinan baru ini diharapkan membawa pengalaman transformasi besar, namun harus menghadapi pengawasan ketat regulator setelah insiden Boeing 787-8 yang menewaskan 260 orang.
- Langkah ini menjadi ujian bagi Tata Group dalam membuktikan komitmennya terhadap keselamatan dan modernisasi di tengah persaingan ketat industri penerbangan Asia.

Air India resmi menunjuk Tewolde Gebremariam, mantan CEO Ethiopian Airlines Group, sebagai direktur utama yang baru pada Rabu (5/8). Langkah ini diambil di tengah upaya maskapai untuk bangkit dari masa sulit, terutama setelah kecelakaan mematikan yang menimpa salah satu armadanya pada pertengahan tahun ini.
Tewolde menggantikan Campbell Wilson, yang mengundurkan diri setelah memimpin Air India sejak kembali ke bawah naungan Tata Group pada 2022. Wilson dianggap berhasil meletakkan fondasi awal pemulihan, namun tantangan yang dihadapi maskapai kini jauh lebih kompleks. Ketua Tata Sons, N Chandrasekaran, menyebut periode ini sebagai "era eksekusi dan ekspansi yang kritis" bagi Air India.
Karier Tewolde di Ethiopian Airlines selama lebih dari satu dekade menjadi modal utama. Ia dikenal sebagai arsitek transformasi maskapai pelat merah Afrika itu menjadi salah satu yang paling efisien di benua tersebut. Air India sendiri memuji pengalamannya dalam mengelola perubahan skala besar, sesuatu yang sangat dibutuhkan maskapai yang tengah merombak total armada dan layanannya.
Sejak kembali ke pangkuan Tata Group, Air India memang menunjukkan ambisi besar. Mereka memesan ratusan pesawat baru, memodernisasi armada yang sudah berumur, dan mengintegrasikan operasional dengan maskapai lain di bawah grup. Namun, rencana besar itu sempat terganggu oleh insiden tragis pada Juni 2025, ketika Boeing 787-8 Dreamliner tujuan London jatuh sesaat setelah lepas landas dari Ahmedabad. Kecelakaan itu menewaskan 241 dari 242 penumpang dan awak di dalamnya, serta 19 orang di darat.
Pasca kecelakaan, pengawasan terhadap Air India meningkat tajam. Regulator penerbangan India mengeluarkan sejumlah surat peringatan terkait kelalaian prosedur keselamatan lainnya. Ini menjadi pekerjaan rumah pertama yang harus diselesaikan Tewolde. Ia dituntut tidak hanya memulihkan citra maskapai, tetapi juga memastikan standar keselamatan yang ketat dipatuhi di seluruh lini operasional.
Bagi Indonesia, pergantian pucuk pimpinan Air India ini menarik untuk dicermati. Industri penerbangan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tengah menghadapi tantangan serupa: bagaimana menyeimbangkan ekspansi agresif dengan keselamatan penerbangan. Pengalaman Tewolde dalam membangun Ethiopian Airlines dari krisis menjadi sukses bisa menjadi pelajaran berharga bagi maskapai di negara berkembang, termasuk Garuda Indonesia yang juga tengah berbenah.
Menurut analis penerbangan, fokus utama Tewolde adalah mengembalikan kepercayaan publik dan regulator. "Ia harus membuktikan bahwa Air India serius dalam hal keselamatan, bukan hanya mengejar pertumbuhan," ujar seorang pengamat yang enggan disebut namanya.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Tewolde mampu membawa Air India keluar dari bayang-bayang tragedi dan mewujudkan ambisi Tata Group untuk menjadikan maskapai ini sebagai pemain global. Dengan pengalaman dan rekam jejaknya, peluang itu ada. Namun, tekanan dari regulator, persaingan ketat dari maskapai Teluk, dan tuntutan efisiensi akan menjadi ujian sesungguhnya bagi kepemimpinan barunya.



