Krisis FIFA dan Sorotan Kepemimpinan Perempuan: Mampukah Sepak Bola Berbenah?
Baca dalam 60 detik
- Tekanan terhadap Gianni Infantino memuncak setelah rencana investasi FFE gagal, memicu krisis tata kelola terbesar selama satu dekade kepemimpinannya.
- Dua petinggi UEFA, Laura McAllister dan Lise Klaveness, muncul sebagai pengkritik vokal, membuka diskusi tentang kemungkinan presiden perempuan pertama FIFA.
- Hanya 10 dari 211 asosiasi anggota FIFA yang dipimpin perempuan, menunjukkan kesenjangan gender yang masih dalam, sementara IOC telah mencapai kesetaraan 50-50.

Krisis kepemimpinan di FIFA mencapai titik kritis. Rencana Gianni Infantino untuk membentuk perusahaan investasi bernama FIFA Football Enterprises (FFE) gagal total setelah ditentang keras oleh UEFA dan sejumlah asosiasi regional. Kegagalan ini memicu gelombang oposisi yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan yang menarik, dua suara paling lantang justru datang dari dua perempuan di jajaran eksekutif UEFA: Laura McAllister dari Wales dan Lise Klaveness dari Norwegia.
McAllister, yang juga menjabat sebagai wakil presiden UEFA, menyatakan bahwa kekacauan ini mencerminkan masalah tata kelola yang jauh lebih dalam di FIFA. "Ada tanda-tanda bahwa masalah ini mencapai titik krisis, jika belum benar-benar krisis," ujarnya kepada Reuters. Ia menyoroti berbagai kontroversi yang menggerus kepercayaan terhadap Infantino, mulai dari keterkaitan FIFA dengan proyek European Super League yang gagal, isu politik seputar Piala Dunia, hingga keputusan FIFA mencabut kartu merah Folarin Balogun setelah intervensi politik dari Presiden AS saat itu, Donald Trump.
Yang menarik, krisis ini juga memicu diskusi tentang kesiapan sepak bola global dipimpin oleh seorang perempuan. Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, bahkan secara terbuka mendukung Klaveness sebagai kandidat potensial. Namun, McAllister mengingatkan bahwa jalan menuju kursi kepresidenan FIFA tidaklah sederhana. "Bukan sekadar memunculkan seorang perempuan. Dia mungkin kandidat terbaik, tapi jangan berpura-pura ini meritokrasi murni. Ini tidak," tegasnya.
Data menunjukkan kesenjangan gender yang mencolok: hanya 10 dari 211 asosiasi anggota FIFA yang dipimpin oleh presiden perempuan. Angka ini kontras dengan Komite Olimpiade Internasional (IOC) yang kini dipimpin oleh Kirsty Coventry dan telah mencapai kesetaraan 50-50 antara atlet pria dan wanita. Michael Payne, mantan direktur pemasaran IOC, menyoroti ketertinggalan FIFA dalam hal ini. "IOC telah menjadi pelopor kesetaraan gender dalam olahraga selama dua dekade, sementara Piala Dunia sepak bola belum mencapai keseimbangan itu," katanya.
Bagi McAllister dan Klaveness, pertarungan ini bukan hanya soal kursi kekuasaan, melainkan tentang nilai-nilai dasar sepak bola. Keduanya adalah mantan pemain internasional yang kemudian berkarier di luar lapanganโMcAllister sebagai ilmuwan politik, Klaveness sebagai pengacara. "Jika sepak bola kehilangan nilai-nilainya, maka ia kehilangan jiwa dan raganya. Karena itu, penting bagi kami untuk menyuarakan pendapat," kata McAllister. Ia menambahkan bahwa perempuan sering kali lebih fokus pada esensi permainan daripada bisnis di baliknya. "Sepak bola seharusnya untuk semua orang, dari akar rumput hingga elit, untuk anak laki-laki dan perempuan, di negara miskin maupun kaya. Ia tidak boleh dibeli oleh modal swasta atau dicampuri politik," tegasnya.
Di Indonesia, wacana kepemimpinan perempuan di FIFA bisa menjadi refleksi bagi tata kelola sepak bola nasional. PSSI sendiri masih didominasi laki-laki, dan isu kesetaraan gender dalam sepak bola sering kali terpinggirkan. Jika FIFA mampu berbenah, hal itu bisa menjadi contoh bagi asosiasi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk lebih terbuka terhadap kepemimpinan perempuan.
Meski demikian, McAllister mengingatkan agar perubahan tidak dipaksakan. "Kita harus membuka jalan dan terus membangun momentum. Kadang pendekatan pelan-pelan justru lebih cepat daripada memaksakan revolusi," ujarnya. Pertanyaannya, akankah FIFA benar-benar siap dipimpin oleh seorang perempuan, atau justru krisis ini akan semakin memperkuat resistensi terhadap perubahan?



