Modric Perpanjang Kontrak di Milan hingga Usia 41: 'Gairah Saya Belum Padam'
Baca dalam 60 detik
- Luka Modric resmi bertahan di AC Milan hingga 2027, menepis kabar pensiun setelah musim yang mengecewakan.
- Keputusan ini didasari kondisi fisik yang prima dan obsesi terhadap sepak bola yang tak pernah pudar.
- Kehadiran pelatih baru dan rekrutan mahal disebut-sebut menjadi faktor penguat tekad Modric untuk terus berkompetisi.

Luka Modric akhirnya angkat bicara soal masa depannya di AC Milan. Gelandang asal Kroasia berusia 40 tahun itu menegaskan bahwa keputusannya bertahan di San Siro hingga musim 2026-27 bukan sekadar perpanjangan kontrak, melainkan wujud dari kecintaannya yang masih membara pada sepak bola. Di usianya yang tak lagi muda, ia mengaku tetap merasa bugar secara fisik dan memiliki hasrat yang sama seperti saat pertama kali merumput profesional.
Keputusan ini datang setelah musim 2025-26 yang pahit bagi Rossoneri. Sempat bertengger di posisi kedua klasemen dalam waktu lama, Milan justru gagal mengamankan tiket Liga Champions di akhir musim. Kegagalan itu sempat memicu spekulasi bahwa Modric akan memilih gantung sepatu, terlebih setelah Timnas Kroasia tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 oleh Portugal. Namun, semua keraguan itu dipatahkan dengan tanda tangan di kontrak anyar.
Dalam wawancara yang cukup mendalam, Modric juga mengungkapkan kekagumannya pada legenda Milan, Franco Baresi, yang menjadi inspirasinya sejak kecil. Ia menyebut Baresi sebagai simbol loyalitas dan profesionalisme yang ingin ia tiru. Selain itu, ia menyampaikan harapannya agar Rafael Leao bertahan di klub, sebuah sinyal bahwa ia masih ingin bermain bersama pemain-pemain muda berbakat di sekelilingnya.
Yang menarik, Modric mengaku optimistis dengan arah baru klub di bawah pelatih Ruben Amorim. Pembicaraan awal dengan sang pelatih dan rekrutan termahal klub, Goncalo Ramos, membuatnya yakin bahwa Milan sedang membangun proyek yang serius. Baginya, tantangan untuk membawa Milan kembali ke papan atas Eropa adalah motivasi tambahan yang tak ternilai.
Bagi pengamat sepak bola Italia, keputusan Modric adalah campuran antara sentimentalisme dan pragmatisme. Di satu sisi, ia adalah ikon yang masih bisa memberi kontribusi di ruang ganti. Di sisi lain, mempertahankan pemain seusianya bisa menjadi bumerang jika performanya menurun drastis. Namun, Modric telah membuktikan berkali-kali bahwa usia hanyalah angka, seperti yang ia tunjukkan saat membawa Kroasia ke final Piala Dunia 2018 dan meraih Ballon d'Or pada tahun yang sama.
Konteks Indonesia: Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, kabar ini menegaskan bahwa dedikasi dan perawatan tubuh yang baik bisa memperpanjang karier pemain di level tertinggi. Banyak pemain Indonesia yang pensiun dini karena kurangnya profesionalisme, dan kisah Modric bisa menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih serius menekuni karier sepak bola. Selain itu, kehadiran Modric di Serie A juga menjaga daya tarik liga Italia di mata penggemar global, termasuk Indonesia yang punya basis penggemar besar untuk klub-klub Italia.
Pertanyaan yang kini menggantung adalah mampukah Modric membawa Milan meraih trofi di musim terakhirnya? Atau akankah ia justru menjadi beban bagi skuat yang sedang dalam masa transisi? Yang jelas, dengan semangat yang tak pernah padam, Modric siap membuktikan bahwa usia hanyalah angka, dan gairah adalah segalanya.



