Remaja Inggris 17 Tahun Targetkan Gelar Yokozuna di Dunia Sumo
Baca dalam 60 detik
- Pegulat sumo asal Inggris, Nicholas Tarasenko, yang akrab disapa Eisei, memulai debut profesionalnya di turnamen Nagoya bulan lalu dengan kemenangan di dua pertarungan pendahuluan.
- Remaja berusia 17 tahun ini telah menetapkan ambisi menjadi yokozuna, gelar tertinggi dalam sumo, dan dijadwalkan naik ke divisi ranking pada turnamen musim gugur September mendatang.
- Kehadiran Eisei menandai langkah baru dalam globalisasi sumo, membuka peluang bagi atlet non-Jepang untuk bersaing di panggung tertinggi olahraga tradisional ini.

Seorang remaja kelahiran Inggris, Nicholas Tarasenko, yang berkompetisi dengan nama panggung Eisei, mencuri perhatian dunia sumo setelah memenangkan kedua pertarungan perdananya di Turnamen Grand Sumo Nagoya bulan lalu. Dengan tinggi 187 sentimeter dan berat 120 kilogram, Eisei yang baru berusia 17 tahun kini membidik gelar tertinggi dalam olahraga tradisional Jepang itu: yokozuna.
Eisei, yang berasal dari Hull, Inggris timur laut, telah menjalani pelatihan selama setahun di kandang Minato. Debutnya di Nagoya menjadikannya warga negara Inggris ketiga yang tercatat memasuki dunia sumo profesional. Meski masih muda, ambisinya tidak main-main. "Saya ingin menjadi yokozuna," ujarnya, seperti dikutip media setempat.
Ketertarikan Eisei pada sumo dipicu oleh sang ayah, yang lahir di Estonia dan merupakan penggemar berat olahraga ini. Saat belajar judo, Eisei kerap menonton video sumo bersama ayahnya dan terpesona oleh kecepatan para pegulat. "Meskipun tubuh mereka besar, semua bergerak sangat cepat. Kecepatannya luar biasa," katanya. Ia juga sedang giat mempelajari bahasa Jepang dan teknik oshizumo, yaitu gaya dorong dan dorong yang menjadi andalannya.
Kemenangan di Nagoya membuat Eisei dijadwalkan naik ke divisi ranking pada Turnamen Grand Sumo Musim Gugur yang akan digelar September mendatang. Pelatih kepala Minato, mantan maegashira Minatofuji, menilai Eisei telah beradaptasi dengan sangat baik. "Saya ingin dia menghargai kemampuan khas Jepang untuk membaca situasi dan memahami suasana di sekitarnya, serta merangkul semangat harmoni," ujar Minatofuji.
Fenomena seperti Eisei menunjukkan bahwa sumo semakin terbuka terhadap atlet asing. Sebelumnya, pegulat asal Mongolia dan Eropa Timur telah mendominasi panggung sumo, tetapi kehadiran atlet dari Inggris tetap menjadi catatan tersendiri. Bagi Indonesia, yang memiliki komunitas pecinta olahraga bela diri yang besar, kisah Eisei bisa menjadi inspirasi bahwa jalur karier di olahraga tradisional Jepang terbuka bagi siapa saja, termasuk dari negara yang tidak memiliki tradisi sumo.
Namun, perjalanan Eisei masih panjang. Untuk mencapai yokozuna, ia harus melewati berbagai jenjang divisi, mengumpulkan kemenangan konsisten, dan menunjukkan kematangan mental yang luar biasa. Sejarah mencatat hanya sedikit pegulat yang berhasil mencapai puncak, dan kebanyakan dari mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun. Pertanyaannya, akankah Eisei mampu mempertahankan motivasi dan konsistensinya di tengah tekanan budaya dan fisik yang keras? Atau justru ia akan menjadi pionir baru bagi generasi pegulat asing berikutnya?



