Krisis Kepemimpinan FIFA: Infantino Terpojok, Uefa Siapkan Skenario Lengser
Baca dalam 60 detik
- Rencana investasi swasta FIFA yang dibatalkan memicu krisis kepercayaan terhadap Gianni Infantino, dengan sejumlah asosiasi sepak bola Eropa menarik dukungan.
- Pertemuan darurat di Rabat menjadi uji kekuatan bagi Infantino, yang harus menghadapi kritik internal dari jajaran eksekutif FIFA sendiri.
- Uefa memiliki opsi untuk memaksa kongres luar biasa, namun peluang keberhasilannya tipis karena Infantino masih menguasai basis suara di Afrika dan Asia.

Gianni Infantino, presiden FIFA yang tengah terpojok, akan menghadapi ujian krusial dalam pertemuan dengan jajaran direksi di Rabat, Maroko, Rabu (18/9/2024). Pertemuan ini digelar di tengah gelombang kritik yang memuncak setelah rencana kontroversialnya untuk menjual hak komersial dan operasional FIFA kepada investor swasta resmi dibatalkan. Langkah ini dinilai sebagai upaya terakhir Infantino untuk menyelamatkan kursinya sebelum Kongres FIFA tahun depan.
Krisis ini dipicu oleh memorandum internal dari Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, yang mengecam keras rencana 'FIFA Forward Enterprise' sebagai rangkaian peristiwa yang memalukan dan sulit diterima. Tak hanya itu, Direktur Operasional FIFA, Kevin Lamour, secara blak-blakan menyebut proyek tersebut sebagai 'proyek satu orang' yang menipu administrasi FIFA sendiri. Bahkan, penasihat senior Infantino, Carlos Cordeiro, memilih mundur dan menyebut rencana itu sebagai 'kesepakatan buruk bagi sepak bola' yang akan menggadaikan masa depan olahraga ini.
Gelombang protes juga datang dari asosiasi sepak bola Eropa. Uefa secara terang-terangan menyatakan kehilangan kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino. Wales telah menarik dukungan, dan Inggris dikabarkan akan menyusul. Tuduhan yang lebih serius dilontarkan Pangeran Ali dari Asosiasi Sepak Bola Yordania, yang menuduh FIFA melakukan 'pemerasan' terkait hadiah uang yang belum dibayar dan dukungan untuk pemilihan ulang Infantino. Meski klaim ini belum terverifikasi, hal ini menunjukkan semakin kuatnya oposisi terhadap Infantino.
Di tengah tekanan yang semakin deras, Infantino justru mendapat dukungan dari sejumlah negara Afrika seperti Mesir, Maroko, Niger, Mauritania, dan Republik Demokratik Kongo. Dukungan ini menjadi modal penting bagi Infantino, yang selama ini mengandalkan basis suara dari benua Afrika dan Asia. Namun, apakah dukungan tersebut cukup untuk meredam pemberontakan dari kubu Eropa yang dipimpin Uefa?
Pertemuan di Rabat menjadi panggung bagi Infantino untuk menunjukkan penyesalan dan menawarkan reformasi. Namun, langkah ini tidak akan mudah. Para petinggi FIFA yang hadir, termasuk Grafstrom, Lamour, dan Wenger, telah melontarkan kritik tajam. Mereka mungkin akan menuntut pertanggungjawaban dan perubahan nyata, bukan sekadar janji kosong. Jika Infantino gagal meyakinkan mereka, bukan tidak mungkin ia akan menghadapi mosi tidak percaya.
Jika Infantino tetap bertahan, Uefa memiliki beberapa opsi untuk menyingkirkannya. Salah satunya adalah memicu kongres luar biasa FIFA yang membutuhkan dukungan 43 dari 211 asosiasi anggota. Uefa, dengan 55 negara anggotanya, mampu memicu mekanisme ini. Namun, prosesnya bisa memakan waktu dua hingga tiga bulan, dan Infantino akan memiliki waktu untuk memenangkan kembali suara yang hilang. Selain itu, untuk meloloskan mosi tidak percaya, diperlukan 106 suara, sebuah angka yang sulit dicapai tanpa adanya kandidat alternatif yang kuat.
Opsi lain adalah mencari kandidat penantang untuk pemilihan presiden FIFA pada Kongres Maret mendatang. Victor Montagliani, presiden Concacaf, disebut-sebut sebagai kandidat paling potensial untuk menyatukan kekuatan oposisi. Namun, sejarah menunjukkan bahwa bahkan di puncak skandal FIFA 2015, Sepp Blatter tetap terpilih kembali sebelum akhirnya mengundurkan diri. Ini menjadi pengingat bahwa Infantino mungkin masih memiliki daya tahan yang kuat.
Bagi Indonesia, dinamika politik FIFA ini memiliki implikasi yang signifikan. Sebagai salah satu negara dengan basis penggemar sepak bola terbesar di dunia, Indonesia memiliki suara yang berpengaruh di FIFA. Posisi Indonesia dalam konflik ini akan menentukan arah kebijakan FIFA ke depan, terutama terkait alokasi dana pembangunan sepak bola dan peluang menjadi tuan rumah turnamen besar. Keputusan Indonesia untuk mendukung atau menentang Infantino akan menjadi sinyal penting bagi blok Asia dan Afrika.
Pertemuan Rabat ini hanyalah awal dari babak baru dalam perebutan kekuasaan di FIFA. Apakah Infantino akan mampu bertahan dan kembali mengonsolidasikan kekuasaannya, atau justru menjadi presiden FIFA kedua yang lengser akibat tekanan politik? Yang jelas, dunia sepak bola akan menyaksikan dengan seksama setiap langkah yang diambil dalam krisis ini. Pertanyaannya, akankah reformasi yang dijanjikan benar-benar terwujud, atau hanya sekadar strategi untuk mempertahankan kursi?



