SpaceX Terjun Bebas: Investor Khawatir Belanja AI Menggerus Kas Starlink
Baca dalam 60 detik
- Saham SpaceX anjlok 9% dalam perdagangan pramarket setelah laporan keuangan perdana, menembus di bawah harga IPO $135.
- Pendapatan AI melonjak tiga kali lipat menjadi $2,6 miliar, tetapi belanja modal kuartalan mencapai $18,4 miliar, memicu kekhawatiran keberlanjutan.
- Manajemen mengklaim investasi AI kini membuahkan hasil dalam waktu kurang dari setahun, namun analis meragukan eksekusi tanpa cela ala Elon Musk.

Jakarta, LyndHub โ SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, mencatatkan debut yang mengecewakan di pasar saham. Harga sahamnya merosot 9% dalam perdagangan pramarket Rabu (5/8), jauh di bawah harga perdana $135 hanya dalam waktu kurang dari dua bulan sejak pencatatan sahamnya yang spektakuler. Investor mulai mempertanyakan apakah bisnis Starlink yang menguntungkan mampu terus mendanai ambisi besar perusahaan di bidang kecerdasan buatan (AI).
Dalam panggilan konferensi pendapatan pertamanya sebagai perusahaan publik, SpaceX memamerkan pendapatan AI yang tumbuh lebih dari tiga kali lipat dibandingkan tahun lalu, mencapai $2,6 miliar pada kuartal kedua. Perusahaan juga mengumumkan sejumlah kontrak komputasi awan baru senilai $6,7 miliar. Namun, di balik angka positif tersebut, belanja modal kuartalan untuk AI melonjak hingga $15,8 miliar, dan total belanja modal mencapai $18,4 miliarโsekitar seperlima dari dana IPO yang diraup pada Juni lalu, yaitu $85,7 miliar. Akibatnya, arus kas bebas perusahaan tetap negatif.
Chief Financial Officer Bret Johnsen menyatakan bahwa ekonomi investasi AI membaik dengan cepat. "Ekonomi saat ini telah menghasilkan pengembalian investasi kurang dari satu tahun untuk penempatan modal baru di bidang komputasi," ujarnya. Ia menambahkan bahwa SpaceX berada di jalur yang tepat untuk mencapai pendapatan tahunan $100 miliar pada akhir tahun. Ini kontras dengan investasi pusat data tradisional yang biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.
Namun, para analis tetap skeptis. David Wagner, manajer portofolio di Aptus Capital Advisors, mengingatkan bahwa Musk sering kali terlalu optimis, seperti yang terlihat di Tesla. "Elon terus mengejutkan investor dengan inovasi dan teknologi, tetapi selalu ada ketidakcocokan dalam hal waktu eksekusi," katanya. Meski demikian, Wagner mengakui bahwa angka-angka tersebut agresif tetapi bukan khayalan belaka. "Potongan-potongannya ada, hanya butuh eksekusi yang sempurna."
Pergeseran narasi terlihat jelas: sebelumnya investor menganggap arus kas Starlink sebagai sumber dana utama ambisi AI. Kini manajemen berargumen bahwa infrastruktur AI sendiri mulai menghasilkan pendapatan yang cukup untuk membiayai ekspansi lebih lanjut. Michael Monaghan, manajer portofolio Founders 100 ETF yang memegang saham SpaceX, bahkan menyebut belanja modal komputasi baru "berperilaku seperti biaya pokok penjualan, bukan capex" karena monetisasinya yang cepat.
Meskipun pendapatan AI tumbuh pesat, divisi tersebut masih merugi secara operasional. Namun, manajemen tidak berniat mengerem belanja. Johnsen mengindikasikan belanja modal dua kuartal ke depan akan tetap setinggi kuartal kedua, seiring ekspansi kapasitas komputasi AI, produksi Starship, dan satelit Starlink generasi berikutnya. Permintaan komputasi AI, menurut eksekutif SpaceX, masih melampaui pasokan, dan mereka menargetkan kapasitas lebih dari dua gigawatt pada akhir tahun.
Drew Cupps dari Polen Capital menyoroti ketidakseimbangan mendasar: "Hubungan antara capex dan pendapatan tidak berkelanjutan, jadi capex harus turun atau pendapatan harus tumbuh luar biasa. Di situlah keyakinan pada visi Musk, kepemimpinan teknik, dan rekam jejak eksekusi memisahkan investor optimis dari pesimis."
Bagi pasar Indonesia, fenomena ini relevan mengingat meningkatnya minat investor ritel pada saham teknologi global. Meski SpaceX belum melantai di bursa domestik, pergerakan sahamnya dapat memengaruhi sentimen pasar terhadap perusahaan teknologi berbasis AI di dalam negeri. Selain itu, keberlanjutan model bisnis yang mengandalkan belanja modal besar menjadi pelajaran berharga bagi startup AI lokal yang tengah gencar berekspansi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah SpaceX dapat mempertahankan pertumbuhan pendapatan AI secepat belanja modalnya. Jika tidak, tekanan terhadap harga saham akan berlanjut. Namun, jika eksekusi berjalan mulus, perusahaan berpotensi menjadi pemain dominan di era komputasi AI. Akankah investor Indonesia turut serta dalam optimisme ini, atau justru menunggu bukti lebih lanjut?



