Hukuman Ringan untuk Pembantu Quiboloy: Kerja Sama dengan Kejaksaan AS Jadi Kunci
Baca dalam 60 detik
- Maria De Leon, 77 tahun, hanya dijatuhi hukuman waktu yang telah dijalani setelah mengaku bersalah dalam kasus penipuan imigrasi yang menguntungkan anggota KOJC.
- Kerja samanya yang 'substansial' membantu jaksa AS membangun kasus terhadap terdakwa lain, termasuk dalam dakwaan perdagangan seks yang menjerat Apollo Quiboloy.
- Kasus ini menyoroti praktik pernikahan palsu dan visa pelajar bodong yang digunakan untuk mempertahankan anggota gereja di AS, serta implikasinya bagi pengawasan imigrasi global.

Pengadilan federal di Los Angeles menjatuhkan hukuman waktu yang telah dijalani kepada Maria De Leon, 77 tahun, terdakwa kasus penipuan imigrasi yang terkait dengan organisasi Kingdom of Jesus Christ (KOJC) pimpinan Apollo Quiboloy. Vonis ini menjadi babak baru dalam bongkar pasang jaringan kejahatan terorganisir yang melibatkan tokoh agama berpengaruh di Filipina itu.
De Leon, pemilik Liberty Legal Document Services, mengaku bersalah pada 2022 atas satu tuduhan konspirasi penipuan imigrasi. Ia terbukti menyiapkan dan mengajukan dokumen imigrasi palsu bagi anggota KOJC yang ingin memperoleh status penduduk tetap atau kewarganegaraan AS. Dalam perjanjian pengakuan dosa, ia mengakui mengetahui bahwa banyak pengajuan tersebut didasarkan pada pernikahan palsu yang direkayasa untuk memudahkan anggota gereja bertahan di Amerika Serikat.
Majelis hakim memberikan keringanan hukuman setelah jaksa federal menyatakan bahwa De Leon memberikan "bantuan substansial" dalam penyelidikan. Kerja samanya dinilai krusial dalam mengungkap praktik perdagangan manusia dan penipuan imigrasi yang melibatkan KOJC, organisasi yang didirikan Quiboloy, yang juga dikenal sebagai penasihat spiritual mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte.
Kasus ini berakar dari dakwaan 42 poin yang dibuka pada November 2021. Jaksa menuding KOJC memanfaatkan visa palsu untuk membawa anggota gereja ke AS, lalu memaksa mereka menggalang dana untuk Children's Joy Foundation, sebuah yayasan yang disebut sebagai "amal palsu". Dana yang terkumpul diduga digunakan untuk membiayai operasional gereja dan gaya hidup mewah para pemimpinnya. Anggota yang berhasil mengumpulkan dana besar diarahkan untuk menikah palsu atau mendapatkan visa pelajar fiktif agar bisa tinggal lebih lama dan terus menggalang dana.
Di luar kasus imigrasi, Quiboloy sendiri masih menghadapi tuduhan perdagangan seks di AS. Ia ditangkap di Filipina pada 2024 atas tuduhan terpisah terkait perdagangan manusia dan pelecehan seksual. Meski demikian, hukuman ringan bagi De Leon menunjukkan bagaimana sistem peradilan AS memberikan insentif bagi kerja sama dalam mengungkap kejahatan terorganisir.
Konteks Indonesia: Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan ketat terhadap jalur imigrasi dan potensi penyalahgunaan visa oleh organisasi keagamaan. Di Indonesia, praktik serupa pernah terungkap dalam kasus sindikat pernikahan palsu untuk WNA, yang menunjukkan bahwa modus ini bukan hanya masalah domestik AS. Penguatan kerja sama internasional dalam pertukaran data imigrasi menjadi krusial untuk mencegah eksploitasi serupa.
"Kerja sama De Leon membantu jaksa membangun kasus terhadap terdakwa lain yang terhubung dengan gereja," demikian pernyataan Departemen Kehakiman AS, yang menegaskan pentingnya peran whistleblower dalam membongkar kejahatan terorganisir.
Ke depan, putusan ini dapat memengaruhi strategi penuntutan dalam kasus-kasus serupa, di mana kerja sama terdakwa menjadi kunci untuk membongkar jaringan yang lebih besar. Pertanyaan yang muncul: apakah hukuman ringan seperti ini akan efektif memberikan efek jera, atau justru menjadi celah bagi pelaku lain untuk meloloskan diri dengan menjadi "saksi kunci"? Yang jelas, kasus Quiboloy dan jaringan KOJC masih jauh dari tuntas, dan publik akan terus mengawasi bagaimana sistem peradilan AS menuntaskan perkara yang melibatkan tokoh agama dan politik ini.



