Rugbi Tujuh Inggris Terpuruk Setelah Dana Dipangkas, Kompetisi Baru Jadi Penyelamat?
Baca dalam 60 detik
- Program rugbi tujuh Inggris beralih ke status paruh waktu, memicu penurunan performa drastis di kancah global.
- Kompetisi Ultimate Sevens hadir sebagai wadah baru bagi para pemain untuk tetap berkompetisi dan mencari penghasilan.
- Langkah ini menjadi sorotan bagi negara berkembang seperti Indonesia yang ingin membangun olahraga serupa.

Keputusan kontroversial yang diambil pada Juli lalu untuk menghentikan program penuh waktu rugbi tujuh Inggris mulai menuai hasil pahit. Tim nasional putra dan putri, yang sebelumnya menjadi langganan papan atas dunia, kini harus rela terdegradasi ke kasta kedua kompetisi internasional. Kondisi ini memaksa para atlet untuk mencari cara kreatif agar tetap bisa berkiprah di olahraga yang mereka cintai, salah satunya dengan bergabung ke kompetisi baru bernama Ultimate Sevens.
Sejak dipangkasnya pendanaan, tim putra yang pernah meraih perak di Olimpiade Rio 2016 dan tim putri yang dua kali finis keempat di Olimpiade, harus menerima kenyataan pahit menjadi juru kunci di seri global Svns. Musim depan, mereka akan berlaga di divisi dua bersama Belgia, Brasil, dan China. Ini merupakan penurunan drastis bagi negara yang selama ini menjadi kiblat rugbi dunia.
Abbie Brown, kapten tim putri Inggris, mengungkapkan bahwa timnya hanya memiliki sedikit waktu untuk berlatih bersama sebelum bertanding melawan tim-tim yang telah solid selama bertahun-tahun. "Kami memiliki lebih dari 25 pemain baru dan 60 orang keluar-masuk kamp pelatihan. Dengan waktu latihan yang minim, mustahil bersaing dengan tim terbaik dunia," ujarnya. Brown, yang juga bermain untuk Loughborough Lightning di kompetisi 15-a-side, harus mencari penghasilan tambahan melalui kegiatan coaching dan mentoring.
Di tengah keterpurukan, muncul secercah harapan melalui Ultimate Sevens, sebuah kompetisi baru yang digagas oleh Tom Mitchell, mantan kapten tim Inggris di dua Olimpiade. Kompetisi ini akan mempertandingkan enam tim dalam format knockout 10 menit, tanpa jeda istirahat, dan digelar di empat kota Eropa. Mitchell menegaskan bahwa kompetisi ini bukanlah pesaing, melainkan pelengkap kalender yang sudah ada. "Kami ingin memberikan kesempatan bermain dan finansial tambahan bagi para pemain dan pelatih, sekaligus mengurangi tekanan pada program internasional," jelasnya.
Para pemain seperti Abbie Brown dan Ellie Boatman telah mengambil kesempatan ini. Brown sempat bermain di India bersama Mumbai Dreamers, sementara Boatman merantau ke Jepang untuk bermain di Mie Pearls. Kini, dengan Ultimate Sevens, mereka bisa tampil di depan publik sendiri. Tidak hanya pemain Inggris, bintang internasional seperti Maddison Levi dari Australia dan Luciano Gonzalez dari Argentina juga ikut meramaikan kompetisi yang akan berpuncak di Gtech Community Stadium, Brentford, pada 24 September mendatang.
Kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, yang tengah berupaya mengembangkan olahraga rugbi. Komitmen pendanaan yang berkelanjutan menjadi kunci untuk menjaga performa atlet di level internasional. Tanpa dukungan yang memadai, potensi besar yang dimiliki atlet bisa sia-sia. Indonesia sendiri memiliki potensi atlet rugbi yang menjanjikan, namun masih minim dukungan finansial dan infrastruktur.
Kehadiran kompetisi seperti Ultimate Sevens bisa menjadi model bagi pengembangan rugbi di Asia Tenggara. Dengan format yang ringkas dan menghibur, kompetisi ini berpotensi menarik minat sponsor dan penonton. Pertanyaannya, apakah Indonesia berani mengambil langkah serupa untuk membangun ekosistem rugbi yang lebih profesional? Atau akankah kita terus tertinggal di belakang?



