Banjir dan Longsor Muson India Tewaskan Lebih dari 100 Orang, Assam Jadi Episentrum Bencana
Baca dalam 60 detik
- Muson tahunan yang semakin tak menentu akibat perubahan iklim telah menewaskan lebih dari 100 jiwa di India sejak Juli, dengan Assam mencatat korban terbanyak.
- Kerala dan Jammu-Kashmir juga terdampak parah, sementara Sri Lanka menghadapi banjir bandang di tengah kekeringan ekstrem di wilayah timurnya.
- Fenomena El Nino memperparah cuaca ekstrem di kawasan Asia Selatan, mendorong pemerintah setempat membentuk gugus tugas untuk memitigasi dampak ekonomi.

Bencana hidrometeorologi akibat muson yang melanda India sejak awal Juli telah menewaskan lebih dari seratus orang, memaksa ribuan warga mengungsi, dan memicu kekhawatiran akan meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem di kawasan Asia Selatan. Data resmi yang dirilis Rabu (5/8) menunjukkan bahwa Assam, negara bagian di timur laut India, menjadi wilayah dengan jumlah korban jiwa terbesar, mencapai 87 orang, dengan distrik Sivasagar kehilangan 47 warganya.
Muson sejatinya membawa berkah bagi para petani, namun para ilmuwan memperingatkan bahwa perubahan iklim telah mengubah pola curah hujan menjadi semakin tidak menentu dan mematikan. Kepala Menteri Assam, Himanta Biswa Sarma, dalam pernyataannya di platform X menggambarkan kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya di wilayah tersebut. "Kerugian materiil mungkin bisa dipulihkan, tetapi tidak ada kompensasi yang dapat menggantikan orang yang kita cintai," tulisnya, sembari mengimbau donasi publik untuk mendukung upaya pemulihan.
Di Kerala, negara bagian selatan, sedikitnya 15 orang tewas dan tujuh lainnya dinyatakan hilang setelah hujan deras memicu tanah longsor dan meluapnya sungai. Lebih dari 300 kamp pengungsian telah didirikan untuk menampung 10.000 warga yang kehilangan tempat tinggal. Sementara itu, di wilayah pegunungan Jammu dan Kashmir, laporan dari penyiar publik setempat mencatat 31 kematian akibat bencana serupa. Gambar-gambar dari AFP memperlihatkan warga menggunakan rakit dan perahu karet untuk mencapai tempat yang lebih tinggi dengan bantuan tim penyelamat.
Fenomena serupa juga melanda Sri Lanka, di mana hujan muson yang tidak biasa telah menewaskan delapan orang sejak Senin dan memaksa 12.000 warga mengungsi dari rumah mereka yang terendam banjir di wilayah tengah. Menariknya, di saat yang bersamaan, wilayah timur Sri Lanka justru mengalami kekeringan parah, memaksa pemerintah mendistribusikan air minum menggunakan truk tangki. Pemerintah setempat mengaitkan kejadian ini dengan fenomena El Nino yang memanaskan suhu permukaan laut di Pasifik ekuator, dan telah membentuk gugus tugas tingkat menteri untuk mengantisipasi dampak ekonomi yang belum dapat diestimasi.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan kerentanan kawasan tropis terhadap dampak perubahan iklim. Meskipun secara geografis berbeda, pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi juga berpotensi mempengaruhi wilayah Indonesia, terutama dalam hal kesiapsiagaan bencana dan manajemen risiko. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memperingatkan tentang peningkatan intensitas hujan ekstrem yang dipicu oleh fenomena serupa, seperti IOD dan El Nino. Oleh karena itu, pengalaman India dan Sri Lanka dalam menangani banjir bandang dan tanah longsor dapat menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia untuk memperkuat sistem peringatan dini dan infrastruktur mitigasi.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah negara-negara Asia Selatan, termasuk Indonesia, mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan pola muson yang semakin tidak menentu. Investasi dalam teknologi prediksi cuaca, pengelolaan tata ruang, dan edukasi publik menjadi kunci untuk mengurangi risiko korban jiwa. Namun, tanpa komitmen global untuk menekan emisi karbon, bencana serupa diprediksi akan semakin sering terjadi, menuntut kesiapan yang lebih matang dari setiap negara.



