Harga Minyak Anjlok, Saham Cetak Rekor: Isyarat Kesepakatan AS-Iran soal Selat Hormuz
Baca dalam 60 detik
- Menteri Keuangan AS menyatakan kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bisa tercapai dalam hitungan hari, memicu penurunan harga minyak dan reli pasar saham global.
- Optimisme ini meredakan kekhawatiran eskalasi militer, tetapi investor tetap waspada karena pengumuman serupa sebelumnya tidak membuahkan hasil.
- Jika kesepakatan terwujud, pasokan energi global akan pulih, berpotensi menekan harga minyak dan meredakan inflasi, termasuk di Indonesia.

Harga minyak mentah dunia merosot ke level terendah dalam tiga pekan setelah Menteri Keuangan Amerika Serikat, Scott Bessent, menyatakan bahwa kesepakatan dengan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal bisa dicapai "hari ini atau besok". Pernyataan yang disampaikan dalam wawancara dengan CNBC itu langsung mengguncang pasar energi dan memicu gelombang optimisme di bursa saham global, dengan dua dari tiga indeks utama Wall Street ditutup pada rekor tertinggi.
Lima bulan blokade di jalur pelayaran tersibuk dunia itu telah mengganggu distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk, mendorong harga energi melonjak dan memicu kekhawatiran inflasi di berbagai negara. Namun, sinyal diplomatik terbaru dari Washington dianggap sebagai titik balik. Indeks acuan di Paris dan Milan mencatat rekor penutupan, sementara Frankfurt dan Madrid memperpanjang kenaikan yang sudah dimulai sehari sebelumnya. Reli ini terjadi setelah pekan lalu pasar sempat berguncang akibat kekhawatiran belanja besar-besaran di sektor kecerdasan buatan (AI) yang belum jelas imbal hasilnya.
Selain faktor geopolitik, musim laporan keuangan perusahaan Amerika yang melampaui ekspektasi turut menopang sentimen. Palantir, perusahaan analitik data yang identik dengan AI, dan Caterpillar, raksasa alat berat, melaporkan kinerja yang kuat. "Sesi hari ini adalah contoh bagus bagaimana pasar bereaksi ketika seseorang di pemerintahan ini berbicara tentang Selat Hormuz," ujar Art Hogan dari B. Riley Wealth Management, seraya menyebut musim laba kali ini "spektakuler".
Kendati demikian, pelaku pasar masih menyimpan skeptisisme. Sebelumnya, beberapa pengumuman tentang kesepakatan damai AS-Iran yang akan segera tercapai ternyata tidak pernah terwujud. Kerapuhan situasi juga terlihat dari laporan satu awak kapal dagang yang hilang setelah kapalnya terkena proyektil di Hormuz, dengan kebakaran terjadi di area akomodasi. "Pasar kini mencoba memetakan jalur geopolitik yang lebih bernuansa: risiko eskalasi militer langsung menurun, tetapi belum ada jaminan Selat Hormuz kembali berfungsi normal," kata Patrick Munnelly, analis pasar di Tickmill Group.
Gangguan pasokan energi selama ini menjadi berkah bagi perusahaan minyak raksasa. BP mencatat laba kuartal kedua yang lebih dari dua kali lipat, meski sahamnya justru turun hampir lima persen di London karena pertumbuhan itu sudah diperkirakan pasar. Saudi Aramco juga melaporkan lonjakan laba bersih sebesar 44 persen. Secara agregat, lima perusahaan energi Barat terbesar—BP, Chevron, ExxonMobil, Shell, dan TotalEnergies—membukukan laba bersih gabungan hampir US$47 miliar pada periode April-Juni. Di luar sektor energi, saham Lufthansa ambles delapan persen setelah maskapai Jerman itu memperingatkan bahwa biaya bahan bakar yang volatil akan memangkas laba tahun penuh.
Bagi Indonesia, perkembangan ini memiliki arti strategis. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap perubahan harga minyak dunia berdampak langsung pada anggaran subsidi energi dan inflasi domestik. Jika Selat Hormuz benar-benar dibuka, pasokan minyak global akan meningkat, menekan harga dan berpotensi meringankan beban APBN. Namun, jika kesepakatan gagal, risiko lonjakan harga kembali mengintai, memaksa pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan energi dan menjaga daya beli masyarakat.
Pernyataan Bessent bahwa "harga energi akan turun kembali, yang baik bagi seluruh dunia" menjadi harapan banyak pihak. Namun, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa diplomasi di kawasan Timur Tengah sering kali berliku. Pertanyaannya kini: akankah kali ini berbeda? Atau pasar kembali terjebak dalam optimisme semu yang berujung kekecewaan? Yang jelas, mata dunia tertuju pada negosiasi yang menentukan nasib jalur energi paling vital di planet ini.



