Fiorentina Kunci Kesepakatan Mastantuono, Opsi Beli Jadi Syarat Pinjaman dari Real Madrid
Baca dalam 60 detik
- Franco Mastantuono dikabarkan akan tiba di Italia pekan ini untuk menyelesaikan kepindahan pinjaman dari Real Madrid ke Fiorentina.
- Kesepakatan awal berupa pinjaman kering, tetapi Fiorentina mendorong klausul opsi beli dengan hak membeli kembali untuk Real Madrid.
- Kepindahan ini meniru jejak Nico Paz yang sukses di Como, menjadi sinyal bagi pemain muda Amerika Selatan untuk berkembang di Serie A.

Franco Mastantuono, gelandang serang muda milik Real Madrid, dijadwalkan mendarat di Italia pada Rabu (12/2) untuk merampungkan kepindahannya ke Fiorentina. Kedua klub dikabarkan tengah menuntaskan negosiasi akhir, dengan isu utama berkisar pada pembagian gaji pemain dan kemungkinan disisipkannya opsi pembelian dalam kesepakatan pinjaman.
Pemain berusia 18 tahun itu sejatinya baru diboyong Los Blancos dari River Plate pada musim panas lalu dengan nilai transfer mencapai 45 juta euro. Namun, persaingan ketat di lini tengah Madrid membuatnya kesulitan menembus menit bermain reguler. Jose Mourinho, yang pernah menukangi Real Madrid, disebut-sebut menjadi sosok yang menyarankan Mastantuono untuk mencari menit bermain di liga lain demi perkembangan kariernya.
Keputusan Mastantuono untuk pindah ke Serie A tidak lepas dari keberhasilan Nico Paz, rekan senegaranya yang bersinar saat dipinjamkan ke Como musim ini. Melihat perkembangan Paz, Mastantuono pun yakin bahwa kompetisi Italia bisa menjadi panggung yang tepat untuk mengasah bakatnya. Faktor lain yang memuluskan kepindahan ini adalah komunikasi langsung dengan pelatih Fiorentina, Fabio Grosso, yang dianggap mampu meyakinkan pemain muda tersebut untuk bergabung.
Negosiasi antara Fiorentina dan Real Madrid masih berlangsung alot, terutama dalam hal pembagian gaji pemain. Namun, kabar terbaru dari Sportitalia dan Labaro Viola menyebutkan bahwa La Viola tengah berupaya memasukkan klausul opsi beli dalam kesepakatan pinjaman. Jika terealisasi, Real Madrid akan memiliki hak membeli kembali (buy-back) sebagai bentuk proteksi atas aset berharga mereka.
Bagi Fiorentina, kehadiran Mastantuono bukan sekadar tambahan amunisi lini serang. Jika opsi beli berhasil disepakati, klub asal Tuscany itu akan mendapatkan keuntungan finansial jangka panjang dari pengembangan pemain yang kemudian bisa dijual kembali. Ini menjadi strategi cerdas bagi klub yang kerap menjadi batu loncatan bagi pemain muda berbakat.
Dari sisi Real Madrid, melepas Mastantuono dengan klausul buy-back adalah langkah pragmatis. Mereka tetap memegang kendali atas masa depan pemain, sambil memberikan ruang berkembang yang dibutuhkan. Pola ini mirip dengan yang mereka terapkan pada pemain-pemain muda lain seperti Brahim Diaz dan Martin Odegaard di masa lalu.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kepindahan ini menjadi pengingat bahwa kompetisi Eropa, khususnya Serie A, masih menjadi tujuan favorit pemain muda Amerika Selatan. Fenomena ini juga relevan dengan semakin banyaknya pemain Asia Tenggara yang mencoba peruntungan di liga-liga Eropa, meski dengan tantangan adaptasi yang berbeda.
Dengan segala dinamika yang ada, apakah Mastantuono mampu mengulangi kesuksesan Nico Paz di Italia? Atau justru akan menjadi contoh lain bahwa tidak semua pemain muda berbakat bisa langsung bersinar di luar Spanyol? Jawabannya akan terungkap dalam beberapa bulan ke depan, saat kompetisi Serie A memasuki fase krusial.



