Harga Minyak Terkoreksi di Tengah Isyarat Diplomasi AS-Iran, tapi Risiko Pasokan Belum Reda
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI sempat menguat lebih dari 2% sebelum memangkas kenaikan setelah Qatar mengonfirmasi adanya rancangan kesepakatan AS-Iran.
- Selat Hormuz masih menjadi titik rawan: lalu lintas kapal belum pulih signifikan dan insiden serangan terhadap kapal kargo kembali terdeteksi.
- Goldman Sachs memperkirakan Brent akan bergerak di kisaran US$80โ90 per barel sampai ada kepastian kesepakatan atau eskalasi baru.

Harga minyak mentah dunia pada Selasa (4/8) kehilangan momentum penguatannya setelah Qatar menyatakan upaya diplomatik untuk meredakan konflik Amerika SerikatโIran masih terus berjalan. Meski demikian, gangguan pasokan di jalur pelayaran utama Teluk masih menjadi faktor penopang harga.
Kontrak berjangka Brent tercatat naik tipis 17 sen atau 0,2 persen menjadi US$83,94 per barel pada pukul 11.24 GMT, setelah sempat menyentuh level tertinggi sesi di US$86,33. Sementara itu, minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI), justru turun 30 sen atau 0,37 persen ke US$80,04 per barel setelah menyentuh puncak sesi di US$82,33. Padahal, pada awal perdagangan, kedua kontrak sempat melonjak lebih dari 2 persen akibat ketidakpastian prospek kesepakatan antara Washington dan Teheran.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai koreksi harga terjadi setelah pernyataan pejabat Qatar yang mengindikasikan adanya rancangan resolusi potensial untuk konflik AS-Iran. "Harga minyak sedang memangkas kenaikan awal setelah komentar pejabat Qatar bahwa potensi resolusi AS-Iran telah disusun," ujarnya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, menegaskan bahwa upaya mediasi terus berlanjut dengan melibatkan Qatar, Pakistan, dan Oman yang berkoordinasi untuk memfasilitasi negosiasi dan pertukaran rancangan proposal antara kedua pihak.
Namun, para analis mengingatkan bahwa fundamental pasokan masih rapuh. Staunovo menambahkan, meskipun produksi minyak di Timur Tengah telah pulih dari titik terendahnya, levelnya masih di bawah kondisi sebelum konflik, sehingga pasar tetap kekurangan pasokan. Kondisi ini diperparah oleh belum pulihnya lalu lintas kapal di Selat Hormuz, yang sebelum konflik pecah pada akhir Februari lalu menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) global setiap hari.
Menurut sumber senior Iran yang dikutip Reuters, Teheran menginginkan kendali atas pengiriman kapal yang masuk ke Selat Hormuz serta visibilitas terhadap lalu lintas keluar, dengan kemampuan untuk melakukan intervensi jika diperlukan. Rencana ini tengah dibahas bersama Oman untuk membuka kembali jalur air strategis tersebut. Sementara itu, analis ANZ mencatat bahwa ekspor Teluk masih tertekan, dengan transit di Selat Hormuz yang hanya membaik tipis dari level yang sangat rendah. "Kisah gangguan ekspor masih utuh, dengan serangan Iran terhadap kapal-kapal yang membatasi arus," demikian pernyataan mereka.
Risiko di lapangan masih nyata. Pada Selasa, badan operasi perdagangan maritim Inggris (UKMTO) melaporkan insiden di 37 kilometer timur laut Al Khasab, Oman, setelah sebuah kapal kargo mengumumkan terkena proyektil tak dikenal. Sementara itu, data pelayaran menunjukkan enam kapal supertanker berbendera Saudi mengubah rute di Teluk Aden menuju Afrika Selatan, sementara dua kapal tanker bermuatan minyak Saudi tetap melintasi Selat Bab el-Mandeb. Hal ini mengindikasikan bahwa jalur pengiriman alternatif mulai digunakan, tetapi biaya dan waktu tempuh yang lebih lama berpotensi menekan margin.
Bagi Indonesia, dinamika harga minyak ini memiliki implikasi langsung terhadap anggaran negara dan harga energi domestik. Sebagai negara pengimpor minyak, setiap pergerakan harga Brent akan mempengaruhi beban subsidi BBM dan listrik. Jika harga bertahan di atas US$80 per barel, pemerintah perlu mengantisipasi potensi pelebaran defisit APBN atau penyesuaian harga di pasar domestik. Di sisi lain, ketidakpastian pasokan dari Timur Tengah juga menjadi pengingat akan pentingnya diversifikasi sumber impor minyak, misalnya dari negara-negara non-Teluk.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah mediasi yang difasilitasi Qatar, Pakistan, dan Oman mampu menghasilkan kesepakatan konkret. Goldman Sachs memperkirakan Brent akan bertahan di kisaran US$80โ90 per barel sampai ada konfirmasi kesepakatan baru AS-Iran atau eskalasi signifikan dalam serangan dan target. Pertanyaannya, akankah diplomasi mampu mengalahkan ketegangan militer yang masih membara di kawasan? Atau justru eskalasi baru yang akan menentukan arah harga minyak dalam beberapa pekan ke depan?



