Tawaran Rp18 Miliar untuk Pemain Non-Liga: Kisah Abdulmalik yang Mengguncang Pasar Transfer
Baca dalam 60 detik
- Klub Swedia, Djurgarden, mengajukan tawaran dua kali untuk penyerang Boreham Wood, Abdul Abdulmalik, dengan nilai mencapai £1 juta atau sekitar Rp18 miliar.
- Angka tersebut berpotensi menyamai rekor penjualan langsung termahal dari klub non-liga Inggris, yang sebelumnya dipegang oleh transfer Jamie Vardy ke Leicester City pada 2012.
- Kesuksesan Abdulmalik di musim 2025-26, dengan 17 gol dan 10 assist, menjadi daya tarik utama bagi Djurgarden yang dikenal dengan strategi merekrut pemain muda potensial untuk dijual kembali dengan harga lebih tinggi.

Klub kasta kelima Liga Inggris, Boreham Wood, menegaskan bahwa penyerang andalannya, Abdul Abdulmalik, tidak akan dilepas pada bursa transfer musim panas ini. Sikap tegas tersebut muncul setelah klub Swedia, Djurgarden, dua kali mengajukan tawaran yang totalnya mencapai £1 juta atau setara dengan Rp18 miliar. Angka ini bukan sekadar nominal besar, melainkan berpotensi menyamai rekor penjualan langsung termahal dari klub non-liga Inggris.
Rekor yang dimaksud adalah transfer Jamie Vardy dari Fleetwood Town ke Leicester City pada 2012 silam. Kala itu, Leicester membayar £1 juta untuk memboyong Vardy yang kemudian menjadi mesin gol dan mengantarkan The Foxes juara Premier League. Kini, Djurgarden menilai Abdulmalik memiliki potensi serupa, meski kariernya di akademi Millwall sempat tidak berjalan mulus hingga ia dilepas pada 2024.
Boreham Wood memanfaatkan situasi tersebut dengan merekrut Abdulmalik secara gratis. Keputusan itu terbukti tepat. Pada musim 2025-26, pemain berusia 23 tahun ini menjadi bintang dengan mencetak 17 gol dan 10 assist, membawa timnya melaju hingga final play-off National League. Penampilannya di Wembley, dengan satu gol dan satu assist, semakin mengukuhkan namanya sebagai salah satu penyerang paling bersinar di luar liga profesional Inggris.
Ketertarikan Djurgarden bukan tanpa alasan. Klub yang bermarkas di Stockholm ini dikenal dengan strategi merekrut pemain muda berbakat sebelum nilainya melonjak, lalu menjualnya kembali dengan keuntungan besar. Max Hahn, direktur olahraga baru Djurgarden yang sebelumnya menjabat kepala rekrutmen di West Ham United, menjadi arsitek di balik pendekatan ini. Hahn juga pernah bekerja dengan Graham Potter, yang kini menukangi tim nasional Swedia, sehingga jaringan sepak bola Inggris-Skandinavia menjadi semakin erat.
Contoh nyata dari strategi ini adalah August Priske. Penyerang asal Denmark itu bergabung dengan Djurgarden dari Midtjylland pada 2024, lalu mencetak 18 gol di liga Swedia pada 2025, dan akhirnya pindah ke Birmingham City pada Januari 2026. Djurgarden berharap Abdulmalik bisa mengikuti jejak serupa, meski latar belakangnya berbeda—ia tidak berasal dari akademi Eropa mapan, melainkan dari klub non-liga yang memberinya kesempatan kedua.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Abdulmalik menjadi cermin bahwa jalan menuju puncak tidak selalu linear. Banyak pemain muda di Indonesia yang kerap terhenti di level akademi atau klub kecil, padahal potensi mereka besar. Strategi Djurgarden yang berani memantau pemain dari liga non-profesional bisa menjadi pelajaran bagi klub-klub Indonesia, terutama dalam hal pembinaan pemain muda dan keberanian mengambil risiko pada talenta yang belum teruji di panggung besar.
Pertanyaan besarnya kini: akankah Boreham Wood bertahan dengan penolakannya, atau adakah angka yang bisa meluluhkan hati mereka? Jika kesepakatan terwujud, Abdulmalik tidak hanya akan mencatatkan sejarah pribadi, tetapi juga membuka mata dunia bahwa bakat bisa muncul dari mana saja—bahkan dari liga yang kerap dianggap remeh. Namun, jika ia bertahan, musim depannya bersama Boreham Wood akan menjadi sorotan, dengan semua mata tertuju pada apakah ia bisa mempertahankan performa gemilangnya.



