Cadangan Devisa Susut 11 Miliar Dolar AS, BI Pastikan Masih Aman
Baca dalam 60 detik
- Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa turun ke 145 miliar dolar AS pada Juni 2026, menyusut 11 miliar dolar AS dari posisi Desember 2025.
- Penurunan ini terutama disebabkan intervensi stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah gejolak dolar AS dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
- Meski turun, posisi cadangan devisa setara 5,4 bulan impor, masih jauh di atas standar internasional 3 bulan, sehingga dinilai aman.

Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa nasional turun menjadi 145 miliar dolar AS pada akhir Juni 2026, menyusut sekitar 11 miliar dolar AS dibandingkan posisi Desember 2025 yang mencapai 165,5 miliar dolar AS. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan global yang mendorong penguatan dolar AS, memaksa otoritas moneter mengerahkan instrumen cadangan untuk menjaga stabilitas rupiah.
Pejabat Sementara Gubernur BI, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa penurunan tersebut merupakan konsekuensi dari langkah stabilisasi nilai tukar. Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) III di Jakarta, Selasa (4/8/2026), ia menjelaskan bahwa cadangan devisa juga digunakan untuk membayar utang luar negeri pemerintah, yang dananya ditempatkan di BI. "Posisi cadev tertinggi di 2026 sekitar 156 miliar dolar AS, sekarang di 145 miliar dolar AS. Itulah pengurangan untuk stabilisasi," ujarnya.
Meski terkikis, Destry menegaskan bahwa level 145 miliar dolar AS masih berada di zona aman. Angka tersebut setara dengan 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri, jauh di atas ambang batas internasional yang hanya mensyaratkan 3 bulan. "Threshold dan benchmarking internasional adalah 3 bulan impor," tegasnya, memberikan sinyal bahwa ketahanan eksternal Indonesia tetap terjaga.
Penurunan cadangan devisa ini terjadi di tengah volatilitas pasar keuangan global yang dipicu oleh kebijakan moneter ketat di negara maju. Bagi Indonesia, cadangan devisa berfungsi sebagai bantalan untuk meredam gejolak nilai tukar dan memastikan kredibilitas kebijakan moneter. Penggunaan cadangan untuk stabilisasi rupiah memang kerap menjadi pilihan ketika tekanan eksternal meningkat, namun hal ini juga menyiratkan adanya trade-off antara menjaga stabilitas jangka pendek dan mempertahankan buffer yang lebih besar.
Para analis menilai bahwa meskipun posisi saat ini masih aman, tren penurunan yang berkelanjutan perlu diwaspadai. Jika tekanan terhadap rupiah berlanjut, BI mungkin harus mengeluarkan cadangan lebih banyak lagi, yang pada akhirnya dapat mengurangi ruang fiskal dan moneter. Namun, dengan tingkat impor yang masih terkendali dan struktur utang yang dikelola hati-hati, risiko jangka pendek dinilai masih dapat dikelola.
Ke depan, pergerakan cadangan devisa akan sangat bergantung pada arah kebijakan Federal Reserve dan dinamika pasar global. Jika dolar AS terus menguat, BI mungkin perlu menyeimbangkan antara intervensi dan upaya menjaga cadangan. Pertanyaannya, seberapa jauh BI bersedia mengorbankan cadangan untuk stabilitas, dan apakah ada strategi alternatif seperti penguatan ekspor atau pengelolaan utang yang lebih agresif untuk menopang cadangan tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi?



