Tate McRae Buka Suara soal Perjuangan Mental Pasca Tur: 'Aku Ingin Menghilang Selama Enam Bulan'
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi pop Tate McRae mengaku mengalami masa sulit secara mental setelah menyelesaikan tur dunia 'Miss Possessive' pada November 2025, bahkan sampai membandingkan dirinya dengan penyair Sylvia Plath.
- Insomnia, rasa kesepian, dan ketidakmampuan menatap cermin menjadi gejala yang dialaminya, mendorongnya untuk mencari cara memulihkan sistem saraf dan kesehatan mental.
- McRae menekankan pentingnya menjaga lingkaran pertemanan yang suportif dan menghindari komentar negatif di media sosial sebagai strategi bertahan hidup di industri hiburan.

Penyanyi pop internasional Tate McRae mengakui bahwa dirinya sempat bergulat dengan pikiran-pikiran kelam setelah menuntaskan rangkaian tur dunia bertajuk "Miss Possessive" pada akhir tahun lalu. Dalam wawancara terbaru dengan Variety, pelantun hits "Greedy" itu mengaku mengalami penurunan kondisi mental yang signifikan, bahkan sampai merasa terhubung secara emosional dengan penyair tragis Sylvia Plath yang dikenal bergelut dengan depresi berat sebelum mengakhiri hidupnya pada 1963.
McRae, yang kini berusia 23 tahun, menghabiskan hampir sepanjang 2025 untuk tampil di berbagai panggung internasional sebelum akhirnya menuntaskan tur pada November. Namun, kepulangannya ke rumah justru memicu spiral negatif yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. "Saya ingat membaca karya Sylvia Plath dan berpikir, 'aku adalah dia'. Pikiran saya terasa sangat gelap saat itu, dan saya merasa sangat kesepian," ujarnya. Ia juga mengaku kesulitan tidur di malam hari dan bahkan tidak sanggup menatap bayangannya sendiri di cermin.
Fenomena yang dialami McRae ini sebenarnya bukan hal asing di industri hiburan. Banyak artis yang mengalami apa yang disebut sebagai "post-tour depression" atau depresi pasca-tur, sebuah kondisi yang kerap dipicu oleh perubahan drastis dari kehidupan yang penuh adrenalin di atas panggung menuju rutinitas yang lebih tenang. Psikolog klinis dari Jakarta, dr. Ratna Wulandari, menilai bahwa tekanan untuk tampil sempurna di depan ribuan penonton, ditambah ekspektasi publik yang tinggi, bisa meninggalkan jejak psikologis yang dalam. "Setelah sorotan lampu padam, banyak artis kehilangan identitas dan tujuan, yang kemudian memicu kecemasan dan depresi," jelasnya.
McRae sendiri mengaku harus melakukan introspeksi mendalam untuk keluar dari kondisi tersebut. "Saya benar-benar kelelahan setelah tur. Saya tidak bisa tidur, dan saya merasa ingin masuk ke ruangan gelap dan tidak bercermin selama enam bulan," tuturnya. Namun, ia sadar bahwa ia harus menyelamatkan dirinya sendiri. "Saya harus berkata pada diri sendiri, 'kamu bukan orang terburuk di dunia, kamu bukan orang paling jelek, kamu tidak melakukan semuanya dengan salah. Kamu hanya melakukan apa yang kamu cintai'," tambahnya.
Menari dan tampil di atas panggung menjadi salah satu terapi yang membantunya kembali pulih. "Saya pikir itu adalah memori otot. Saat kecil, ketika saya merasa canggung atau tidak nyaman dengan diri sendiri, menari adalah cara saya merasa keren dan unggul dalam sesuatu. Dan saya merasakan hal yang sama saat tampil, seperti saya berada di elemen saya," ungkapnya. Selain itu, ia juga memilih untuk tidak membaca komentar negatif dari warganet. "Saya selalu terkejut betapa banyak orang berspekulasi dan membicarakan hal-hal. Itu sangat menakutkan. Jadi saya mencoba untuk tidak membacanya dan membiarkannya berlalu," katanya.
McRae juga menekankan pentingnya menjaga hubungan pribadi dari sorotan publik. "Saya mencoba menjaga hubungan saya tetap sakral dan privat. Saya mencintai orang-orang di hidup saya, dan mereka mencintai saya. Saya hanya berusaha menjaga lingkaran itu tetap positif dan suportif. Kebisingan dari luar, saya tidak bisa berbuat apa-apa tentang itu. Memfokuskan energi pada hal yang tidak bisa saya kendalikan hanya akan membuat suasana hati saya buruk," pungkasnya.
Pengakuan jujur McRae ini menjadi pengingat bahwa kesuksesan besar tidak selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan. Di tengah industri hiburan yang kerap menuntut kesempurnaan, kesehatan mental para artis sering kali menjadi taruhan. Pertanyaannya, apakah industri ini akan mulai lebih serius menyediakan dukungan psikologis bagi para talentanya, atau justru membiarkan mereka berjuang sendiri di balik gemerlap panggung?



