Bubista Tinggalkan Kursi Pelatih Cape Verde demi RS Berkane: Dua Musim di Liga Maroko
Baca dalam 60 detik
- Pelatih yang membawa Cape Verde ke 32 besar Piala Dunia 2026 resmi menukangi RS Berkane dengan kontrak dua musim.
- Kepindahan ini mengakhiri spekulasi bahwa Bubista akan merangkap dua jabatan, sekaligus menandai tantangan baru di kompetisi antarklub Afrika.
- Langkah ini berpotensi mengubah peta persaingan Liga Maroko dan Liga Champions Afrika, sekaligus menjadi sorotan bagi pengamat sepak bola Indonesia.

Pedro Leitão Brito, yang lebih dikenal sebagai Bubista, resmi diumumkan sebagai pelatih anyar RS Berkane, klub papan atas Maroko, pada Selasa (4/8). Keputusan ini mengakhiri masa baktinya sebagai arsitek tim nasional Cape Verde, negara kepulauan yang baru pertama kali tampil di Piala Dunia dan langsung menembus babak 32 besar pada edisi 2026.
Kontrak berdurasi dua musim itu ditandatangani setelah proses negosiasi yang alot. Sebelumnya, sempat beredar kabar bahwa pelatih berusia 56 tahun tersebut akan tetap memegang kendali tim nasional sambil merangkap tugas di level klub. Namun, berdasarkan laporan media setempat, Bubista diperkirakan akan melepas jabatannya di Cape Verde dalam beberapa hari ke depan, memilih fokus penuh pada tantangan barunya di Afrika Utara.
RS Berkane bukanlah klub sembarangan. Mereka sukses mengangkat trofi Liga Maroko pada 2025 dan menjadi runner-up pada musim lalu. Di pentas Afrika, tim berjuluk Orange Boys itu juga melaju hingga semifinal Liga Champions Afrika musim lalu. Dengan kedatangan Bubista, manajemen klub jelas mengincar konsistensi prestasi, baik di kompetisi domestik maupun kontinental.
Bagi Bubista, kepindahan ini adalah babak baru setelah namanya melambung berkat pencapaian bersejarah bersama Cape Verde. Ia dinobatkan sebagai Pelatih Terbaik Afrika 2025 setelah sukses membawa negaranya lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya. Di turnamen yang digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat itu, tim asuhannya mampu menahan imbang Spanyol dan Uruguay, dua raksasa dunia, sebelum akhirnya takluk dari Argentina lewat babak perpanjangan waktu di babak 32 besar.
Keputusan Bubista untuk pindah ke kompetisi klub Afrika menyiratkan dinamika yang menarik. Di satu sisi, ia meninggalkan proyek jangka panjang membangun sepak bola Cape Verde yang baru saja mengecap pengalaman berharga di panggung dunia. Di sisi lain, ia mengambil tantangan yang lebih konkret dan terukur di level klub, di mana tuntutan juara jauh lebih tinggi dan evaluasi kinerja berlangsung setiap pekan.
Fenomena ini sejatinya juga relevan dengan perkembangan sepak bola Indonesia. Banyak pelatih lokal maupun asing yang memilih karier di luar negeri setelah meraih sukses di kompetisi domestik. Namun, tidak sedikit yang justru gagal beradaptasi dengan ritme kompetisi yang berbeda. Pengalaman Bubista, yang sukses membawa tim kecil tampil mengejutkan di Piala Dunia, bisa menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya manajemen tekanan dan strategi jangka pendek yang efektif.
Langkah Bubista juga menegaskan bahwa pasar pelatih Afrika semakin kompetitif. Dengan reputasi yang ia bangun, bukan tidak mungkin ia akan menjadi incaran klub-klub besar di kawasan Teluk atau bahkan Eropa pada masa mendatang. Namun, untuk saat ini, fokus utamanya adalah membawa RS Berkane bersaing di papan atas Liga Maroko dan melaju lebih jauh di Liga Champions Afrika.
"Bubista adalah pelatih dengan rekam jejak yang mengesankan. Kami yakin pengalamannya di Piala Dunia akan membawa energi baru bagi tim," demikian pernyataan resmi RS Berkane dalam rilisnya.
Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah Bubista mampu mengulang keajaiban bersama Cape Verde di level klub? Atau justru tekanan untuk meraih gelar akan menjadi ujian terbesar dalam karier kepelatihannya? Hanya musim kompetisi yang akan memberikan jawaban.



